Tuesday, 23 August 2011

All Abot Your Art, Sir!! XD

Posted by Sosiana Dwi On 12:05 pm
rumah dari Saudara Ridwan Kamil itu sepert ini lho :::

  pagar-pagar pada jendelanya tersusun dari botol-botol lhoo. Coba saja perhatikan!!

 siluet lubang-lubang ini amat sangat artistik. Tapi kalau malem orang rumah pada masuk angin ngga ya? :P

 Unyyyuuuu... ijo kaya kue mochi. *lhoo

 gue ampe bingung mau comment aaan =,=
keren abissss

 tampak luar dari rumahnya kaya bukan lagi di Bandung ya?
huuaaah
coba asramaku kaya gitu

 bisa bedain kan botol sama buku? :p


Mediterania....
^^
Ridwan Kamil adalah arsitek muda Indonesia dengan reputasi Internasional. Nama besar dan karya-karyanya menjadi inspirasi bagi banyak arsitek muda lainnya di Indonesia. Selain sibuk berprofesi sebagai arsitek, Ridwan Kamil juga menjadi penggagas dan Direktur dari Bandung Creative City Forum. Salah satu masterpiece arsitektur Ridwan Kamil adalah rumah tinggalnya sendiri.


Terletak di kota berhawa sejuk, Bandung, Indonesia, arsitek yang akrab disapa dengan sebutan Emil ini membangun rumahnya dari 30,000 botol kaca bekas minuman energi. Emil memilih botol minuman berenergi merk terkenal ini karena menurutnya botol minuman ini tidak dikumpulkan kembali oleh si pemilik industri untuk diisi ulang, seperti yang biasanya dilakukan oleh minuman ringan kemasan botol yang banyak beredar di pasaran. Emil mengumpulkan puluhan ribu botol kaca bekas itu selama 2 tahun! Ini menunjukkan komitmennya yang sangat tinggi terhadap konsep rancangan dan idenya untuk sekaligus mengurangi sampah di kotanya.


"Saya sempat kesal ketika kota kelahiran saya, Bandung, pernah dijuluki sebagai Bandung Lautan Sampah," ujarnya dalam sebuah kesempatan memberikan ceramah di TEDx, event TED independen yang dilaksanakan di Jakarta pada Juli 2010 lalu. Selain itu ide menggunakan botol kaca berwarna coklat ini juga datang dari kebiasaannya memperhatikan para pekerjanya yang sering mengkonsumsi minuman tersebut. "Warna coklat kacanya juga selaras dengan warna kayu," demikian ujarnya seperti yang dikutip dari HomeDezign.com.


Selain memadupadankan rancangan rumah botolnya dengan kayu, Emil juga menggabungkan susunan botol dengan glass block di beberapa bagian. Guna meminimalkan penggunaan cat di bagian luar bangunan, sang arsitek juga membiarkan beberapa bagian beton terekspos dan menampilkan warna natural betonnya. Aksentuasi kontras diperoleh dari penggunaan furnitur dan elemen interior lainnya di bagian dalam rumah.


Kerja kerasnya ini tidak sia-sia, pada tahun 2009 Emil dianugrahi Green Design Award 2009 oleh BCI Asia, mengalahkan sedikitnya 80 partisipan lain dari 8 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam, Philippines, Hong Kong dan China. Rumah yang berdiri di atas lahan berbentuk trapesium seluas 373 meter persegi ini layak diberi label green bukan hanya karena dibangun dari limbah botol kaca lokal, melainkan juga karena sifat kaca yang tembus pandang memungkinkan cahaya matahari masuk pada siang hari membuat bangunan ini mampu menghemat penggunaan cahaya lampu pada siang hari.


Sheffield . 29 Desember 2010


Sumber literatur dan foto:




Monday, 22 August 2011

Ridwan Kamil : My Favorite Architech now

Posted by Sosiana Dwi On 3:00 pm
Ridwan Kamil masih terbilang muda. Ia lahir di Bandung pada 4 Oktober 1971. Namun, prestasi dan karyanya membuat banyak orang berdecak kagum. Ridwan telah mengarsiteki sejumlah proyek besar di mancanegara, seperti di Singapura, Thailand, Vietnam, Cina, Hong Kong, Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Contoh karyanya adalah Marina Bay Waterfront Master Plan di Singapura, Suktohai Urban Resort Master Plan di Bangkok dan Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar-UEA.
Di Tanah Air, karyanya pun sudah terukir. Sejumlah proyek berkelas ditanganinya. Antara lain, Superblok Rasuna Epicentrum di Kuningan seluas 12 hektare, yang meliputi Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, ritel dan waterfront.
Sebelumnya, melalui Urbane Indonesia (perusahaan penyedia jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain miliknya),  ia telah menggarap Menara I Universitas Tarumanagara, Al-Azhar International School di Kota Baru Parahyangan (Bandung), Grand Wisata Community Club House di Bekasi, Pupuk Kaltim IT Centre di Balikpapan, dan ANTV Mixed Used Centre milik PT Bakrie Swasakti Utama di Jakarta.
Urbane pernah mendapatkan BCI Asia Top 10 Award untuk kategori Rancangan Bangunan Bisnis. Kemudian, Urbane juga menjadi juara dalam merancang Museum Tsunami di Aceh. Ia sendiri mendapatkan penghargaan International Young Creative Entrepreneur of the Year dari British Council pada 2006. Bahkan, rumahnya yang sebagian dindingnya terbuat dari susunan botol meraih penghargaan Green Design Award di tingkat Asia dari BCI.
Tentu saja penggarapan karyanya butuh ide kreatif. Sarjana arsitektur lulusan Institut Teknologi Bandung ini malah meyakini arsitek itu tak berbeda dari seniman. Sebab, butuh inspirasi, ilham dan ide-ide segar sebelum berkarya.
Lantas, bagaimana ia menelurkan ide-ide kreatif yang menjadi kebutuhan vital bagi profesinya itu? Rupanya ia tak sekadar menunggu datangnya ilham. Sejumlah upaya khusus dilakukannya.
Pertama adalah membaca. Ia melihat perkembangan dunia arsitektur kadangkala dipicu provokasi dunia kampus. Dari sana lahirlah teori-teori baru yang umumnya kurang dipahami orang awam. Namun, baginya hal ini bisa dibuat mudah, yaitu teori tersebut ditransformasikan menjadi sesuatu yang bisa dibangun.
Sebagai arsitek, ia tak hanya berkutat dengan bidang ilmu arsitek. Ia kerap meminjam teori-teori lain, seperti filsafat dan sastra, untuk memperkaya karyanya. Ia melihat arsitektur mengikuti pergerakan peradaban. Intinya, “Semakin rajin membaca, melihat perubahan paradigma dunia, maka kita akan semakin memahami perubahan arsitektur,” kata lelaki yang akrab disapa Emil ini.
Upaya lain yang dilakukannya adalah melakukan jalan-jalan atau traveling. Diungkapkannya, ia sering mendapatkan inspirasi baru dari traveling. Alasannya, dari berjalan-jalan ini ia bisa menemukan gaya-gaya arsitektur baru. Dari sini ia bisa membandingkan karya yang satu dengan karya yang lain. Dan, dari sini biasanya ia mendapat inspirasi baru.
Hal ketiga yang tak boleh dilewatkan adalah mencermati sekeliling. “Saya pernah dapat ide dari botol parfum,” kata Ridwan. Botol parfum mampu menginspirasinya membuat sebuah karya arsitektur. Ia melihat ada kemiripan antara botol parfum dan arsitektur.
Ridwan mengaku membutuhkan suasana rileks sebelum menghasilkan ide-ide cemerlang. Sebaliknya, jika ada tekanan, hal itu seperti mimpi buruk bagi orang kreatif. “Orang kreatif kalau under pressure, idenya sering tidak maksimal,” ujarnya.
Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa dirinya lebih memilih berkantor di Bandung ketimbang di Jakarta. “Kalau orang kreatif bisa lebih rileks dan banyak merenung, dia malah akan lebih produktif,” ujarnya. Dan terbukti, kantor yang ada di Bandung sering mendapatkan penghargaan.
“Ada 20 penghargaan yang sudah diterima kantor saya,” katanya bangga. Ia mencermati kebanyakan arsitek lebih menyukai suasana Ubud ketimbang Kuta saat ada di Bali. Alasannya sama, “Di sana tenang. Orang kreatif butuh itu untuk mendapatkan inspirasi.”
Hal ini tak hanya dilakukan Ridwan. Ia juga menularkan cara serupa kepada karyawan kantornya. Bahkan, model inilah yang dijadikan budaya di perusahaannya.
Untuk ini, ia berani mengeluarkan uang lebih demi memunculkan kreativitas timnya. “Saya investasi kreativitas dengan mengajak mereka jalan-jalan,” ujarnya. Tak tanggung-tanggung, sekali setahun karyawannya diajak jalan-jalan ke luar negeri. Tujuannya, kondisi karyawan lebih sehat dan pikiran mereka segar. “Seluruh karyawan pernah saya ajak ke Thailand, Vietnam, Malaysia dan Brunei. Dan itu dibiayai kantor.”
Namun, untuk tim yang lebih khusus — tim yang langsung bekerja dengannya — ia punya perlakuan yang lebih spesial, yaitu jalan-jalan ke Eropa. Itu berlangsung dua kali setahun. “Selalu setelah jalan-jalan mereka lebih kreatif,” katanya. “Managing creative people memang tidak mudah,” Ridwan mengakui.
Tantangan yang sering dirasakannya, ia tidak bisa memastikan kapan kreativitas seseorang muncul. “Pernah kami butuh ide-ide kreatif karyawan saat pagi. Ternyata ide kreatifnya keluar pukul 6 sore. Ya kami bisa apa? Memang begitulah kreativitas itu muncul,” ujarnya sembari mengangkat bahu.
Ia mencontohkan dirinya. Ia mengaku sering mendapat ide saat malam. Kalau pagi, banyak kendala seperti urusan administrasi. “Kalau lepas Maghrib kan tenang,” ungkapnya.
Namun, Ridwan mengaku lebih sering mendapat ide saat mandi. “Kalau kepala saya kena air dari shower, itu baru segar. Dan ide-ide berdatangan,” katanya, seraya menjelaskan bahwa kemenangannya di sejumlah sayembara sering terinspirasi ketika di kamar mandi.
Karena itu, Ridwan merasa perlu mendesain khusus kamar mandi di rumahnya. “Desainnya natural. Hampir semua dari kayu,” katanya. Bahkan, saking senangnya mendapat guyuran air, Ridwan menciptakan hujan buatan di kamar mandi.
“Jadi saya desain sedemikian rupa, supaya seperti air hujan di kamar mandi,” ujarnya. Tidak itu saja, lantai kamar mandi juga dibuat bergoyang layaknya jembatan. “Biar saya lebih kreatif,” ujar ayah Emmeril Khan Mumtadz (10 tahun) dan Cammilia Laetitia Azzahra (5 tahun) ini.
Lalu, bagaimana caranya menjual ide? Ridwan mengaku punya cara sendiri. Diungkapkannya, menjual sebuah ide ditentukan latar belakang calon klien. Misalnya, klien yang berlatar belakang pendidikan biasa-biasa saja, jarang traveling, biasanya kurang memiliki wawasan.
“Maka klien itu akan cenderung mendikte kita berdasar pada yang dia tahu saja. Padahal, di luar sana sudah berkembang pesat,” ujarnya. Nah, ia punya cara untuk menyiasati ini. Ia selalu mengajak kliennya “berkeliling” dunia.
Ini istilah Ridwan untuk menampilkan slide show foto-foto arsitektur di dunia. “Begini lho arsitektur di Dubai, Cina, Eropa, dan negara lainnya. Nah, baru setelah itu mereka bisa menerima ide kreatif kami.”
Ridwan mengungkapkan bahwa ia menerapkan sejumlah strategi dalam melayani klien.
Pertama, visioning service. Di sini ia tidak hanya menyediakan desain, tetapi juga memberi masukan bagi pengembangan bisnis klien dari sisi rancang bangun.
Kedua, memberi layanan master plan. Di sini ia tidak hanya menawarkan desain bangunan, tetapi juga pengembangan kawasan.
Berikutnya, kesinambungan teori dan praktik. Itulah sebabnya, sejumlah desainer seniornya merupakan dosen perguruan tinggi.
Terakhir, ia sendiri aktif mengikuti sayembara guna membuktikan kreativitasnya. Begitu pula yang ia minta dari karyawannya.
Ridwan menyadari antara tuntutan bisnis dan ide kreatif terkadang bertentangan. Apalagi, di dunia arsitektur. Pembangunan arsitektur di Indonesia banyak menemui kendala biaya. Berbeda dari negara maju yang bisa membayar mahal teknologi dan kreativitas.
Untuk menyiasati hal ini, ia kadang terpaksa menurunkan kadar kreativitasnya. “Memang sakit hati karena ide kreativitas saya tidak tersalurkan karena harus disesuaikan dengan affordability di Indonesia,” ujarnya. Ya, dunia memang tidak benar-benar bundar.
Sumber: SWAsembada, Kompas

Saturday, 16 July 2011

Sejarah Kecil Benda Bernilai Besar

Posted by Sosiana Dwi On 11:00 am
"Aku tak tau bagaimana awal aku menyayanginya. Semua terkesan biasa, namun mengena. Berawal dari kau yang tergantung manis di punggung-punggung tegak sang kakak kelas dan meninggalkan jejak yang menoreh ke sanubari, awal ku mencintamu, oh tas olimku."hahay 
Begitulah awalnya, Karena hanya ingin memiliki sebuah tas berlogo OSN aku belajar astronomi yang telah mendamparkanku pada bintang dan langit malam. Aneh bin konyol sebenarnya, kerja kerasku hanya untuk sebuah tas sederhana. Tapi itu nyata, tiap malam mataku berat melawan kantuk membuka gerbang alam semesta. Ada sebuah lecutan lain saat mata ini mengena pada benda-benda angkasa : rasa penasaran. Sebuah rasa yg membuncah apalagi diselingi penampakan alam di langit setiap saatnya. Ya, aku menemukan dunia baru yang aku bawa selalu dalam tas ransel hitamku kini. Beribu kehausan akan ilmu dan keindahan. 
Walau pada akhirnya tas itu tak membawaku ke Jakarta atau Medan, tapi tas itu selalu melihat perjuangkanku di kota-kota mimpiku. Tak pernah kulepas walau sudah usang. Karena kesahajaannya saja. Hanya tas sederhana saja, tak mewah, tak megah, sejarahnya saja membawa berbeda. :-) 

----------- 

"Ki, mana oleh-oleh dari Bandung?hehe" candaku pada Kiki yang baru pulang dari Pelatnas di sebuah institut. 
"Wah,tinggal pin ini saja Sos."aku menerima sebuah pin simple bertuliskan ITB dan bergambar dewa gajah Ganesha dari sobatku itu. 
Sedari itu aku tersihir saja ingin di ITB. Mungkin disana banyak orang cerdas seperti sobatku itu. Ah, aku terlampau nekat, tak mungkin orang sepertiku lah. Aku menaruhnya sebagai hiasan tas usangku saja dengan penjagaan ketat agar tak hilang. 
Beberapa saat menjelang euforia SNMPTN aku kembali melirik pada sang gajah, ah Andai saja. 
Tapi aku berpikir andai saja aku tak lagi berandai-andai. Kegagalan SNMPTN via undangan ga ingin terlalu berlarut-larut, setidaknya ada jalan lain ke Ganesha. Aku mau belajar saja,toh dewa ganesha menemani dan kemungkinan masih ada. Aku tak ingin terpaku pada arus, jalanku ya jalanku. 
Gajah dan tas itu yang tiap siang dan malam menemani aku belajar. 
Gajah dan tas itu yang tiap kali keujanan kalo aku pulang kesorean. 
Gajah dan tas itu yang desak-desakan kalo aku naik bis yang udah penuh penumpang. 
Gajah dan tas itu saksi jungkir balik roda hidupku. 
Lalu gajah dan tas itulah motivasiku agar aku bisa menjadi apa yang aku pinta. 

Benda-benda itu adalah buah tangan yang tak terlupakan. :-)





Angin-angin Senja

Posted by Sosiana Dwi On 9:37 am


Angin senja ini menghadirkanmu kembali. Di kala waktu sempit dulu sapaan manis mengetuk sore-malamku. Desah resah melagu di antara nafas kita. Cerita basa-basi sudah menebal dan bebal dengan kebosanan. Tapi, ah, itulah saat aku bersuara atas diam yang kusembunyikan. Atas diam yg diam-diam aku bungkam, Bagai sebuah diari kau kuisi dengan bait-bait cerita yg sama dan lama. Yang terbuka atas buruk pena dan tinta jelaga hitamku. Yang mengalun dalam goresan-goresan kasarku. Yang extrovert seperti halnya aku. 

Ah, senja ini kembali menghadirkanmu. Bukan lagi dengan tawa yg garing kita kunyah, Bukan lagi dengan alpha topik yg kita punya, tapi dengan beberapa diam yg kita pendam. 

Beberapa diam itu ingin lepas seperti angin-angin senja ini. Kungkungannya menjerat sakit, menatap apa yg orang bilang suara. Kalau pun bisa ia hanyalah angin-angin senja yg dingin. Dingin bagai kau yg kutunggu kedatangannya. Dingin bagai jarak kata yg kita langkahi. Dingin bagai malam tanpa cerita. Dingin dan dingin angin-angin senja kita. 

Walau kita dalam satu lintang dan bujur, satu langit dan horisan, satu udara dan tanah kita, aku harap ada angin-angin yang membawa hangat senyummu ke rumahku, membawa belai-belai rindu yg tak tersampai, tak lagi mengucap perih-sedih yg sampai lewat angin yang dingin. 

Ketika aku pergi, tak ada lagi angin-angin sesal yg mengiringi. Agar tak ada lagi angan-angan dalam angin-angin senja ini. 

Sampaikanlah pada angin yang bertiup di serambimu, liat jawabnya pada selasar maknamu. 

-masih di kota Purbalingga tercinta

Friday, 1 July 2011

Tanda

Posted by Sosiana Dwi On 8:04 am
Ketika tanda tanya menyesaki ruang berpikirku dengan bermiliyar-miliar kata kosong, jawaban dalam imagiku melesat cepat menambalnya. Hanya sebuah perkiraan tentang aku dan dia,dan kita semua. Walau perkiraan hanyalah teori ketidakpastiaan sebagai pengganti kata penasaran. 

Ketika engkau diapit sepasang tanda petik, itu berarti kau adalah pengecualian dalam rasa ini. Atau setidaknya dalam komposisi semua paragraf kelu ini. Tapi kau tetap tanda petik, karena sebuah alasan yang telah kugarisbawahi, kau tetap pengecualian. 

Ketika nafas ini mengikuti nada-nada tanda koma, menjeda, apa lah arti semua kata yang terucap, janji yang terangkai.. Dan memang semua berarti dalam sebuah persyaratan dalam sebuah konjungsi waktu. 

Walau tanda seru adalah buah dari amarah, menjadi syarat yg menyayat sekat-sekat kita ini aku akan berhati-hati. Membutuhkan kesabaran melangkah di jalan yang ramai oleh perputaran kesibukan. Aku tak ingin tertabrak, terluka dan celaka. itu saja. 

Dan ketika tanda titik ini kita bubuhkan, ribuan rangkai roll-roll film merampungkan rangkai cerita, aku kira ini sudah berakhir. Tapi tak juga untuk sebuah cerita yang lain. Ini bukan masalah cinta, tapi hanya soal waktu dan prioritas. Semoga. 

:apa aja yg nongol di kepala deh. Sajak galau.:P




Wednesday, 22 June 2011

Layang-layang

Posted by Sosiana Dwi On 4:46 pm
Layangkanlah padaku duka nestapamu,
Berharap akulah secawan obat bagi sakit itu,
Walau aku hanya racun yang menyayat sembilu,

Layangkan secarik kisah hari-harimu,
Yang merenggut jutaan sekon nafasmu,
Kau tau jawabanku : bosan
Tapi nyatanya itu yg aku tunggu

Layangkan suara desah amarahmu,
Hempaskan pada tubuh rapuhku,
Lalu tersenyumlah ketika aku tersenyum melihat senyummu,
Aku lambang rasa lalu nyawakanlah galauku dengan sedikit tentangmu

Layangkan gaung tawa candamu,
Yang akan memecah bungkus sepiku,
Dan menambal rumpangnya aku,

Layangkanlah sebait rindu,
Ya rindu,
Jika dan hanya jika kau masih punya itu


:berjalan dalam diamnya

Saturday, 18 June 2011

Antara Dua Gerhana

Posted by Sosiana Dwi On 1:52 pm
01-01-2010
Lepas tengah malam,aku dan alam berkata-kata. Gerhana bulan sebagian,
tampak bersemu di langitku. Aku mengharap akan bayangnya datang merayapku. Tak perlu bernaung pada sinarnya. Namun rupa-rupanya gerhanaku hanya sebagian, sebagian lagi adalah bara asa yg masih nyala. Aku tak benar-benar bisa menutup pigmen cahaya, dan kawah kawah kenangan itu, terlalu besar ku harus merebahkan kepekatan yang dalam, yang aku sendri tak yakin dimana jatuhnya. Awan-awan keraguan masih bergelayut rendah di pikiran kalutku. Gerhana yang gagal total, kuraba dan kubuat.

16-06-2011
Terlebih pekat malam kini, dia bercahaya, benderang dan berdering nyaring bagai genderang. Ingin kulemahkan syaraf keinginanku untuk berhenti bernostalgia dengan lagu terang yang meradang.
Lalalalala.
Nada malam yang dingin, menggigilku dalam selimut udara Juni.
Lalalala
Hanya sumbang yg berdendang di telinga. Meredam terkaman serigala padang walau akhirnya ia menang. Menyeringaiku dipeluk mimpiku.
Hah..
Total total dan total.
Kini aku ingin mencipta gerhana total. Yang lebih indah dari sementara, tapi lebih perih daripada lara.
Menjadikanmu suar-suar cahaya yang melesat cepat, sudah cukup dari hebat.
Gerhana, kembalikan aku pada gelap, pada keadaan yang buatku kuat. Aku lelah berpura-pura dan aku ingin tidur sementara, pagiku menanti di horison hati.


Ini Ceritaku, Apa Ceritamu?

Posted by Sosiana Dwi On 1:51 pm
Waktu aku pulang sekolah, aku biasa nunggu bis di pertigaan. Bisnya lama,aku laper lagi, pengen makan indomie deh nek sampe rumah, ya udah aku FB-an plus smsan ditemenin Hesy, adik kelasku disampingku daripada kruyuk2. Ijig-ijig bin tiba-tiba ada orang gila,yg biasa nangkring disitu, ndatengin aku ma Hesy, padahal biasanya ga pernah, biasanya cm duduk. Trus terjadilah monolog Pak Gila yg berdiri berkacak satu pinggang:
G : Hapenya Sony ya?
A : (diem..."Bisa baca juga ni orang".. Mule deg-deg ser, duduk salah tingkah)
G : Wanita itu dijaga baik, hape itu sony.. Sony itu On. On itu berdiri... Bla bla (anu tdk jelas)
A : (ngmg apa si?==)
G : kamu ngerti?uang kalo udah siap itu diambil. Kamu ngerti?
A : (ngangguk2, berharap cepet pergi, maaf baune juga kagak enak ==)
G : zat besi itu ada di aliran darah. Kalo rusak nanti ga bisa kencing. (Hah?) Bla bla... (Mantan guru biologi apa ya? T.T)
G : Suwarno itu nama saya. (oh..). Kalau sudah siap harus diturunkan! (Tegas, kaya bekas ABRI deh,multi profesi apa ya?==)
A : (keringet dingin, duduke geser2, ngremes tangan Hesy yg kayaknya salting juga,meh nangis)
G : bla ...bla... Bla (15 menit ceramah dhewek,dengan tema beragam,aduh pokoke ngmg saru lah,T.T, mana diketawain tukang becak lagi,sopir angkot, tukang ojek,penumpang ,,pada ga nolongin koh,)
G : km mau liat tanda ular?
A : (geleng2 moga mau pergi,pgen kabur mbok dikejar2 T.T)
G : ini lho (nunjukin telapak tangan. Aku langsung geser,huft. Pada ngetawain lagi)
G : Hape itu tdk sehat. Jangan pake hape. Apalagi km anak perempuan. (oh,ga lagi2 pgang hape di dketmu pak pak T.T)

Wah,untung ada bis. Kita langsung ngacir. Orang gila marah2 lagi. Lah mbuh. Yang penting selamet. T.T

A : Ngimpi apa koh? Trauma kye. T.T
H : Mbuh, dhewek diomeih, diajari wong ra waras. Apa dhewek lewih ora waras ya?
A : Hah? Mbuh kue tah. Iya mbok. (Aku mau nangis)
sampe rumah pas mau bkin indomie aku jadi keinget orang gilanya pake celana dari spanduk indomie. Ah, jadi ga nafsu makan. pak pak. T.T

Mengenaskan. Ini ceritaku, apa ceritamu? T.T

Wednesday, 15 June 2011

Langit di Bulan Juni

Posted by Sosiana Dwi On 1:32 pm
Kabut tak bisa dibilang tipis. Seperti biasa,
Pagi sebelumnya aku tak mampu menyingkirkan selimut yang menghantam mataku, malas.

Fajar. Subuh ku terbangun enggan.
Seketika fajar, kamu hadir disaat aku tak ingin kamu tampak.

Aku kini di ruteku yang rumit tak semulus dulu. Saat bayang masa lalu, bintang di langit bulan Juli, menguar di langit-langit hidupku. Aku tak ingin mabuk lagi di dalamnya. Alkohol yang hampir meracuniku.
Kata itu bius bagi orang bodoh macam aku. Sudah aku tutup rapat candu itu di gerhana bulan, tempat kita bermain alam.

Tapi angan itu masih menyesak di kalbu, walau ada ragu untuk mengaku. Aku, dulu, kini, masih resah pada langit yang masih sama.

Langitku bulan Juli, sudah lama gelap. Semoga kini cerah dengan bintang baru, siang atau malam yang mengiringi. Aku tak mampu mengadu lagi kecuali pada malamku. Aku tak bisa resah lagi di bawah payung kesadaranku.
Mungkin kini ku telah waras dengan apa yang dinamakan cinta.

Atau, malah sebaliknya.

Ditulis dalam langit di bulan Juni.

Tiga Belas Kilometer

Posted by Sosiana Dwi On 10:44 am
Sementara yang lain lalu-lalang dengan motor besi pribadinya, aku slalu dan masih bertahan selama 6 tahun dengan Mercy Orange dan Bis antar jemput, yang stiap kali lewat berganti supir. Hehehe. Guyonan untuk menertawakan diri sendiri adalah hal yang paling menyenangkan untuk menikmati hidup yang kadang lebih rumit dari trigonometri.

Tigabelas kilometer, jarak peraduan dan ilmu. Kadang mengeluh adalah senandung basi yang tak berguna di tengah lamanya menunggu mobil atau kecamuk matahari saat di zenit yang membakar kerongkongan dan meneteskan liur.

Setengah enam pagi dan tak boleh telat atau aku akan ketinggalan momen ini. Sarapan sederhana tak pernah lupa. Langsung saja aku berdiri menunggu bersama orang yang akan ke pasar dengan beragam dagangan. Jika musim panen padi tiba kadang ibu perkasa yang akan 'nggosok' (mencari sisa-sisa batang padi untuk dijadikan beras- setidaknya itu yg aku tahu-) dengan karung beras dan topi caping yang setia menemani. Bis yang kami tunggu datang dengan bergegas, was-was bis lain datang mengejar pundi-pundi uang di depan sana. Perjalanan pagi tak begitu ramai, sepi namun pasti. Bis melaju dengan tergesa, jalanan yg tak rata membuat wajah kantuk kami brsungut-sungut. Sekedar musik campursari ringan pengantar perjalanan ini membawa beberapa orang dalam diam, lamunan atau kantuknya.

Mentari yg rebah di persawahan, memantulkan butir emas dan berlian di tiap tetes embunnya. Atau serpihan cahaya jingga yang berserakan di atas Kali Klawing. Live show, stiap kali pagi mengantarkan senyum pada bumi.

Tiga belas kilometer, beragam golongan pernah kujumpa. Nenek dan kakek yg setia, anak lelaki yg badung dan duduk di atap, bapak tuna netra yg selalu duduk di tempat yg sama, orang gila yg pandai berorasi dan fasih menyanyi dangdut, tukang obat dan rambut gimbalnya, kecelakaan kecil, bemacam buruh wanita, beragam pula seragam dari beragam sekolah, bau menyengat padi dan wajah yg terbakar matahari, wajah lelah, sepeda dan kakek tua, atau kambing baru dan cucunya. Banyak dan masih banyak cerita tak terungkap dalam satu perjalanan.

Tigabelas kilometer, itu tak ingin dilupa. Dalam keserderhanaan dan kesahajaan ia bercerita bagian kecil dari dunia.

Dari 13 km aku ingin menikmati lebih dari ini, puluhan, ratusan, bahkan ribuan kilometer cerita sang pencipta. Ingin kutempuh macam-macam kisah untuk kubawa pulang ke peraduan terakhir.

Purbalingga, 13 Juni 2011.
  • Contact us

    Sosiana Dwi Architecture 2011 Bandung Institute of Technology