Tuesday, 13 March 2012

Optimisme dalam Berjalan Menembus Batas

Posted by Sosiana Dwi On 9:02 pm
Aku mau sedikit promo buku dari teman ini.

Dia yang disebut temanku menulis antologi cerita bersama penulis buku Negeri 5 Menara , Ahmad Fuadi. Buku ini bercerita tentang kisah hidup asli dari mereka atau teman dekat mereka yang berhasil cobaan dan ujian hidup dan akhirmya meraih sukses. Melalui semangat yang tiada lepas buku ini mengajarkan kepada kita tak ada guna memberikan keluh kesah. Resah dan gelisah pasti akan terbayar dengan segala usaha yang benar-benar kita curahkan sepenuh hati. Tak usah ragu membelinya karena ada seteguk inspirasi dan motivasi dalam setiap cerita.

Seperti salah satu kisah perjuangan "Lintang" asal Kebumen yang sukses meraih mimpinya dengan kayuhan semangat-semangat setiap hari.

Bagi yang suka galau (termasuk pemilik blog ini) wajib membaca. InsyaAllah menyalakan secercah lilin di hati buta yang gelap karena galau.

Salam Semangat

cc : Abdulah Mabruri

^^

Ini Fokusku

Posted by Sosiana Dwi On 8:45 pm

Menulis blog sudah hampir tidak pernah aku jangkau lagi. Padahal dari mulai Sabtu, 10 Maret 202 lalu aku berjanji akan bersungguh-sungguh mengisi hidupku dengan dunia jurnalistik sesempit apa pun waktuku. Karena dunia manusia itu terbagi-bagi pada sub bab yang sangat banyak seperti halnya waktu yang terbagi menjadi banyak prioritas waktu. Seperti halnya aku.
Ini cerita hidupku versi aku :
Masa SMA-ku begitu terasa sebagai siswa yang amat sangat rajin. Belum mengenal informasi jauh seluas sekarang ini. Pulang sekolah ya aku akan balik ke rumah. Akses rumah dan sekolah memang lah sangat jauh, 13 km dengan kendaraan umum. Selain itu akses periznan untukku dari ibuku juga minim maka praktis aku tak mengenal hal yang namanya organisasi secara mendalam.
Di SMA aku mengikuti gerakan pramuka namun itu hanya sebatas numpang absen saja karena  aku tak boleh ini dan itu. Maka pengalaman organisasiku ya hanya sebatas itu-itu saja. jiwa kepemimpinan juga tak pernah ada.  Dan mungkin karena “dendam”  itulah aku melampiaskan hidup yang penuh dengan pengalaman di saat aku di kampus.
Awalnya aku berharap bisa aktif di kampus dengan ikut ini itu sesuai kaa hati. Dengan mengambil unit : UKA, Boulevard, Persma, KPA, Aksara, Kokesma, U-Green, dll aku berharap bisa berkembang kendatinya hanya unit UKA dan Boulevard saja yang hingga hari ini eksis dan masih ada sreg di hati. Organisasi setingkat BEM di Univ lain yaitu KM-ITB sebagai salah satu staf biro Komunikasi dan Informasi di bagian media operasional. Tentu masa pencarian jati diriku mengarah juga ke tempat lain. Lalu mulai lah aku pergi mengembara dengan ikutan event-event kampus. ITB fair 2012, Pemira aku ikuti. Tetap saja ada kendala, ITB Fair yang merasa “janggal” dengan kepanitiaan ini lah dan Pemira yang terkendala beberapa kegiatanku yang lain. Sebenarnya hal yang paling aku tidak suka adalah Gabut alias gaji buta. Tapi aku sendiri tidak bisa berkehendak atas diriku yang kadang tidak bisa berkomitmen.  Bisa sebenarya tapi susah. 
Ah, maka dari itu aku berjanji aku hanya akan mengambil kegiatan dari jenisku. Memang tidak akan membuat keaktualan diri dan hanya akan membuat bakatmu itu-itu saja tapi aku berpikir inilah aku. Aku hidup dan menjadi besar pasti dari hasil kefokusanku mengasah apa yang aku inginkan dan apa tang menjadi dasar dalam aku. Aku tidak akan menjadi orang lain kan? aku hidupku dari diriku dan bukan dari orang lain.
Oleh karena itu aku hanya akan hidup dari kejurnalistikan, arsitektur, hidupku, seni, buku, tulis, foto, dan SEMANGAT.

Karena ini hidupku , jalanku.

Saturday, 18 February 2012

Aku dan Monyetku

Posted by Sosiana Dwi On 3:49 pm
Entah kenapa aku suka sekali dengan monyet. Tidak ada hubungannya mereka dengan teori sesat Darwin ataupun dengan kemiripan manusia. Tapi bagi my humble opinion monyet itu sangat lucu dan mirip bayi kecil. Tingkah mereka mirip sekali dengan manusia hanya saja mereka itu berambut di sekujur tubuh. Mungkin itu hal yang membuat aku suka dengan monyet terlepas dari olok-olok yang orang berikan kepadanya. Mereka masih lucu walau dikatakan jelek oleh manusia.

Sebenarnya aku ingin memelihara monyet di rumah tapi sayang di rumah ku tidak ada pohon besar yang bisa jadi tempat bergelayutan indah bagi sang monyet. Jadinya aku hanya bisa menatap senang boneka monyetku.

Awalnya bernama Isaac tapi lama-lama aku ganti dengan Om*n. Lalu karena suatu hal aku ganti dengan O*i. Hahaha
hanya sekedar intermezo

Kemarin (17/02/2011) ibuku yang baru dari Jakarta tiba-tiba nagsih boneka monyet putih ini. Awalnya heran juga, ngapain ibuku. Terus ibuku bilang kalau tadi iseng beli di Kereta. Entahlah tapi hal ini membuatku terharu sekali pada kasih sayang ibuku.
Makasih ibu :**

Kera putih, namanya Esay aja deh. :D


Ini pengalaman sederhana yang tidak penting yang ingin aku share. Semoga ada manfaatnya selain nyampah di dasbor :)


Friday, 17 February 2012

Jalan-jalan Media #2

Posted by Sosiana Dwi On 2:01 am
Udah engga sabar untuk membaca Jalan-Jalan Media yang kedua? Oke..
Saya akan lanjutkan hasil pengepoanku di KOMPAS!! Dengan sisa-sisa tenaga yang kami punya kami langkahkan juga kaki ke Kompas cetak yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kompas TV. Hanya saja panas ibukota membuat badan menjadi jetlag (kata yang over lebay). Ternyata kami sudah termasuk terlambat tidak sesuai perjanjian awal dimana pukul 13.00 seharusnya kami sudah ada di Kompas cetak namun karena satu dan lain hal kami harus menerlambatkan diri. Selama itu kami ditunggu oleh pihak Kompas yang mungkin punya beragam pekerjaan lain yang ada tenggat waktunya dibandingkan menunggu kami mahasiswa ngaretan. :l

KOMPAS cetak
Sesampainya di sana kami diantar ke ruang pertemuan yang nyaman. Merasa tersanjung juga diperlakukan sangat baik walaupun kami molor lama. Diawali dengan penyuguhan video sejarah dari Kompas.

Didirikan pada 28 Juni 1965 awalnya Kompas diberi nama Bentara Rakyat lalu atas usulan presiden Soekarno maka diganti menjadi Kompas yang berarti penunjuk jalan bagi orang dan menjadi amanat hati nurani rakyat. Awal berdirinya dipimpin oleh Pemimpin Umum P.K Ojong dan Pemimpin Redaksi Jakob Oetama. Hingga saat ini mash dipimpin oleh Jakob Oetama. Dahulu saat masih sederhana Kompas hanya berisi 40 halaman dengan oplah 4800 eksemplar. Saat ini Kompas adalah satu-satunya media cetak yang lolos di ABC (audit bureau of circulation) dan saat ini telah memiliki 214 wartawan. Untuk sejarah yang lebih lengkap bisa dilihat di sejarah KOMPAS.

Selanjutnya diisi dengan sesi tanya jawab yang lebih menitikberatkan bagaimana memunculkan kiprah media kampus di ITB sendiri dengan sifat anak ITB yang sudah sedemikian tidak mau tahu atau bisa dibilang agak malas membaca informasi dari surat kabar atau majalah. Agus Her salah satu pembicara yang sudah agak tua namun sangat mengerti kondisi mahasiswa zaman sekarang banyak meberi masukan tersendiri. Ketika diutarakan kendala-kendala yang terjadi di unit media Ganesha memang menurutnya sudah tidak sesuai lagi dengan minat pasar saat ini. Sebagai contoh konten majalah kampus ini terlalu berat dan "mikir" padahal mungkin pada masa sekarang mahasiswanya tidak seperti masa orde baru yang tidak semudah sekarang mendapat informasi. Banyak saran dan masukan untuk merevisi bentukan dari majalah kampus yang dari 12000 mahasiswa hanya berani membuat oplah 1000. Itu pun tidak selalu laku semua padahal masa pengerjaannya cukup lama yaitu 4 bulan sekali dan itu pun hanya menghasilkan 40 halaman.
"Saya yakin model majalah kalian seperti majalah departemen," tutur pak Agus Her agak menyindir.
Sejujurnya dalam hati aku ingin bilang "Eta pisan,"


Penambahan rubrik baru yang fresh untuk kalangan mahasiswa masa kini bisa menjadi jalan keluar. Mode, gaya hidup atau apa pun itu bentuknya. Dalam setiap penyajian tidak hanya berita penting yang ditampilkan namun jugan berita menarik. Kecenderungan manusia yang dibaca paling awal adalah rubrik yang menarik perhatiannya entah itu olahraga atau pun nama dan peristiwa. Untuk itulah harus ada yang berubah. Kompas sebagai media cetak terkemuka pun pernah mengalami perubahan yang melenceng dari sejarahnya sendiri. Kompas dengan muka berwarna dan isu-isu enetrtainment adalah salah satu gebrakan besar yang sempat memberikan kontra bagi pembacanya. Namun begitulah Kompas melalui perubahan selera pasar. Tentu gebrakan itu tidak secara asal-asalan dilakukan melainkan melalui pertimbangan panjang dan survei/angket. Ya, survei itu sangat penting fungsinya itu menilai selera orang dari masa ke masa.

Sekarang pilihannya adalah Anda mau bertahan atau mau berubah? Alternative berubah banyak yaitu pemberian quis dan bonus hadiah, ilustrasi yang lebih indah dengan layout yang bukan seperti majalah kaku, jangan terlalu lama keluarnya karena kontinyuitas juga sangat berpengaruh terhadap selera, sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya tinggal dipilih mana yang terbaik dan sesuai kebutuhan.
"Pilihlah, mau menjadi Majalah departemen atau menjadi majalah semua elemen masyarakat?"tantang pak Agus Her.

Selanjutnya kami diajak berkeliling di redaksi dimana ruang itu dibuat luas dan tak bersekat agar arus informasi dapat tersampai tanpa penghalang. Menarik melihat proses pembuatan layout dengan aplikasi GN3 dimana hanya Kompas yang punya itu. Pembuatan berita dan pengumpulan berita dari koresponden Kompas di seluruh Indonesia dan melihat proses penambahan foto yang ternyata bukan murni dari kompas melainkan berlangganan dengan suatu badan. Sangat jarang mereka memuat foto dari amatir namun kalau pun iya satu foto dihargai Rp 1.500.000,00 dan itu sama dengan bisa membayar kosan beberapa bulan. Wew..

Aku sempat bertanya dengan salah satu pemilih foto hari itu, "Pak, di Kompas sendiri ada standarisasi sensor foto engga? Soalnya saya pernah liat ada foto yang terbuka auratnya,"
"Tentu adalah, sini saya cariin contoh," lalu pria yang duduk di belakang layar itu pun mencari foto yang ia maksud. Beberapa folder yang ia cari tidak ketemu lalu kami pergi meninggalkan dia untuk ke tempat lain. Ketika sedang mengobrol dengan bagian lain tiba-tiba mas-mas yang di belakang layar itu datang dan menyerahkan foto yang tadi ia maksud. Aku sangat kagum sekaligus terkejut dengan sikapnya. Yang membuat aku terkejut lagi adalah sikap Kompas terhadap aurat wanita. Jadi di foto aslinya yang ia berikan ada seorang negro sedang loncat ke atas dengan dada terlihat menonjol. Seperti yang saya pernah lihat di majalah lain biasanya foto itu disensor dengan di beri bayang-bayang buram yang bagi aku sendiri hal itu malah melecehkan wanita karena memperjelas bagian apa itu yang disensor. Sedangkan Kompas ia mengedit fotonya sehingga terlihat bajunya dinaikan dan menutupi bagian itu. Awesome.
"Kalau foto Pangeran Williams dan Kate Middleton ciuman itu pernah dijadikan cover Kompas kan, Pak? Emang itu tidak apa-apa?"
"Itu sempat menuai protes si tapi kita kan pertimbangannya itu adalah ciuman suami isteri jadi bukan hal yang tabu dan patut di sensor kalau menurut saya,"
Waah, aku puas akan jawabannya.

Dengan berakhirnya pertanyaannku tadi maka berakhirlah kisah Jalan-jalan Media ke Kompas TV tahun ini. Semoga tahun depan aku bisa ikut lagi dan memperoleh banyak ilmu yang sangat bermanfaat itu tadi.
:)


Jalan-jalan Media #1

Posted by Sosiana Dwi On 12:34 am
Hari yang cerah ini Kamis, 16 Februari 2012 pukul enam kurang aku berangkat dari asrama ke kampus. Ada apa gerangan sepagi itu aku berangkat? 
Tidak seperti biasa aku yang sering telat ngampus bisa datang lebih pagi dari biasanya. Bukan untuk kuliah Fisdas yang sangat membosankan di GKU Barat lantai 3 namun untuk pergi ke Jakarta. Jadi hari itu setelah penundaan beberapa kali kami dari Unit media dan Biro Komunikasi Informasi KM-ITB akhirnya bisa juga datang mengunjungi salah satu media besar dan berpengaruh di Indonesia yaitu Kompas TV dan Kompas cetak.

Kompas TV
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam dan personil yang ala kadarnya (karena terhalang hari kuliah) kami sampai juga di Gedung Kompas. Unit Boulevard, Persma, 8EH, Soul of Campus, Relasi Kominfo, admin twitter GaneshaLau datang dengan harapan besar (lebay). Namun sayang bus ITB tidak cukup muat diparkir di gerbang depan sehingga harus memutar jalan dan membutuhkan waktu lama yang membuat kami anak ITB menjadi ngaret. 

Sampai disana kami telah disambut oleh Nyoman Triyono yang berasal dari HRD manajer Kompas TV dan Alex Wibisono dari kepala peliputan yang masih muda. Dalam kata sambutan ia terlebih dahulu bertanya mengapa ITB memilih Kompas TV untuk dikunjungi, padahal TV itu baru berdiri sejak 9 September 2011 yang artinya masih terlalu muda.

Dalam pikiran saya juga mengandung pertanyaan yang sama, mengapa harus Kompas TV? Mengapa tidak Trans TV, RCTI atau mungkin Indosiar yang lebih banyak konten dari segi hiburan.
Sampai akhirnya manajer relasi Kominfo KM-ITB Davin Aristomo menjelaskan pemilihan Kompas TV bukan tanpa sebab. Meskipun TV yang masih seumur jagung namun ia mempunyai ciri yang berbeda dari stasiun TV yang ada saat ini. Dari segi pemberitaan Kompas TV tidak memihak manapun juga tidak seperti TV  One atau Metro TV dan mempunyai konten acara yang lebih mendidik bukan sinetron dan juga bukan pembodohan publik. Alasan lain adalah karena Kompas TV lebih mengangkat budaya dan kearifan lokal di Indonesia yang tidak ditemukan pada stasiun TV swata komersil lain.

Karena berawal dari sebuah nama besar media cetak  Kompas, brand dari penyeber berita masih kuat dan memang itulah mereka. Dengan sebuah tagline Inspirasi Indonesia kru Kompas TV yang kebanyakan adalah pemuda-pemudi mencoba mengangkat semua Inspirasi yang bisa ditawarkan kepada khalayak. Agar kita tidak hanya dibuat pundung pada negeri sendiri dengan segala pemberitaan jelek tapi agar kita menjadi termotivasi pada apa yang bangsa telah lakukan. (prok prok)

Kompas TV  berbeda dalam banyak hal antara lain pemilihan host yang credible bukan host yang hanya menang komersil seperti Olga maupun Ruben Onsu, pelaksanaannya acara yang tidak membohongi seperti penggunaan suara lipsync maupun acara reality show yang di-skenarioi (memangnya Variety Show)? dan adanya TV berjaringan. 

Apa itu TV berjaringan? 
untuk mengkolaborasikan kearifan masyarakat daerah dan mencakup semua siaran lokal maka Kompas TV menggunakan sistem TV berjaringan. Jadi sistem ini semacam penyiaran daerah yang menginduk kepada Kompas TV seperti pada STV Bandung, Dewata TV, Borobudur TV dan lain-lain. Dalam tayangan TV lokal kadangkala ada berita nasional yang didapat dari Kompas TV, cirinya adalah munculnya kedua logo Televisi secara bersamaan dan itulah yang dinamakan TV berjaringan. Sedangkan untuk daerah lain yang tidak ada TV daerah yang menginduk pada Kompas TV maka hanya bisa menyaksikan Kompas TV di TV berlangganan berbayar. Dengan 70% siaran nasional, dan sisanya adalah siaran lokal selama 20 jam Kompas TV telah membuat beberapa pencapaian oleh televisi baru. Seperti halnya pernah menduduki rating tertinggi pada siaran beritanya dan sebuah pencapaian tertinggi pada bidang jurnalistik Indonesia yaitu peraihan Anugerah Adinegoro yang didapat dari sebuah acara bertajuk "Benang Merah". Program acara yang ditawarkan juga bervariasi antara lain entertain, knowledge, science, hingga edukasi. Sebagai "anak" dari Kompas koran mereka tetap eksis sebagai televisi berita.

Semakin semangat saja kami mendengar ulasan tentang sebuah koran yang berekspansi menjadi sebuah televisi. Memang pada awalnya semua orang harus mengalami perubahan agar makin tercapai tujuan tertentu. Target pemirsa Kompas TV adalah kelas menengah dimana pada setiap acara di seleksi agar kontennya tidak memuat hal yang buruk-buruk tentang negeri. Dengan semangat Objektif, Indepedent, Credible, dan netralitas Kompas TV siap menumbuhkan harapan Indonesia. 

Setelah muter-muter ke dalam studio berita, foto-foto dengan kekatroan kami, ke bagian produksi, dubbing dan diajari beberapa tools yang entah apa itu (karena kami ngga ada yang tau) sampai juga kami diberi tahu tentang tips meningkatkan brand awareness.  Antara lain adalah paham dan mengerti apa posisi kita di masyarakat, kampus dan mungkin bangsa dan negara dan tonjolkan point apa yang bisa ditonjolkan sebagai follow up dari itu semua.

Warna-warni Indonesia sebagai salah satu unsur dalam pemakaian lambang Kompas TV ini. 


......to be continued in part 2 of Jalan-jalan Media

Friday, 10 February 2012

Februari Gerimis #1

Posted by Sosiana Dwi On 11:13 am
#1
Terbang lah burungku meninggalkan kerangka-kerangka cahaya yang mengurung kepakan sayapmu.
Buanglah setiap sendumu di titik cahaya yang menyapu rindu.

#2
Jejak keputusasaan datang namun tetap langkah ada di tangan kita

#3
Ornamen dinding dan lampu salman yang kadang terlupa.

#4 
Lantai dua masjid Salman, 

#5
Bukan dibalik Bingkai

#6 
Saat melihat hujan kita bisa melihat keindahan

#7 

#8 

#9
Burung-Burung Kertas

Saturday, 28 January 2012

Gombalan ala Eksis

Posted by Sosiana Dwi On 11:48 pm
Hai hai hai!
Sudah lama aku tidak mengeksiskan diri di sketsa-sketsa mimpiku ini, bagian dari rumah mayaku. Padahal dahulu sebelum banyak kesibukan syuting kejar anjing  tayang dan menjadi seorang pengangguran aku dan internet bagaikan sebuah saudara kembar siam yang sangat susah dipisahkan #ooh. Aduh, lebay sekali rasanya. Bukan Bukan , Bukan seperti kembar siam, lebih tepatnya sih seperti hape dan pulsa. Hahaha. 

Kenapa harus hape dan pulsa?
Nah lhoooo
Jadi, jika dan hanya jika hape bila dan bilamana tanpa dihadiri seonggok pulsa dalam tubunhya dia tidak akan bisa eksis di dunia. Bisa saja hape akan mati dan kehilangan fungsi utamanya. Hape alias Handphone bakal dibuang ketengah kali dengan tiada yang mengambil (aku mah mau banget 0.o haha).

Acuhkan peranalogian gaje tadi, haha. Jadi intinya tanpa internet hidup kita ga bakal eksis lagi sebagai fungsi utamanya di dunia sosialisasi. Ya tentu pada saat zaman sekarang lah. Kalau zaman dulu mah boro-boro pegang hape,kata kaka kelasku aja dahulu kala sebelum aku belum lahir yang bawa hape itu cuma raja minyak. Dan itu pun sebuah handphone dengan berat satu ton yang bisa buat menggebug maling.  Zaman sekarang tidak pegang internet bagaikan bersemedi dalam gua gelap. Dan ketika internet menyapa kehidupan itu bagaikan sebuah ilham yang besar. Sekali lagi penulis lebay.

Tapi dalam kelebayan penulis tersimpanlah sebuah keeksisan penulis dalam menulis di internet. Tidak mau menganggurkan internet gartisan, tidak mau melewatkan lomba dengan hadiah iPad, tidak mau bolgnya tidak eksis lagi karena jarang diisi  maka ini adalah simbol dari eksis dalam internet. 

Axis aka "Eksis" bisa jadi merupakan pulsa dalam hidup si hape dan hidup si saya untuk memeperoleh fungsi sekundernya meraih informasi dan bersosialisasi. Jadi sekalian saya kepo dan iklan disini saya mengucapkan sebesar-besarnya terhadap Axis atas sambutannya meraih penjangkau blogger yang suka ikut lomba-lomba ini. Semoga kedepannya Axis bisa tambah eksis! haha 

Guyonan diatas bukan lebih dari jilatan penulis semata. Bila ada kesamaan tokoh dan perasaan hanya penulis dan Tuhan yang tahu isi hatinya sendiri. 
Akhir kata Sukses Selalu!! Syalalala


Blog writing competition



http://duniaaxis.co.id 




Thursday, 26 January 2012

Pengalaman

Posted by Sosiana Dwi On 11:54 pm
Malam-malam di Bandung merenggut ceritaku di rumah mayaku. Malam yang penuh fanatisme terhadap pengalaman. Aku tahu ini semua bermula dari komitmenku sendiri, sebuah konsekuensi yang harus aku hadapi.

Masa pengalaman adalah masa belajar bagiku yang berarti pada saat inilah aku di kampus dimana masa pengalaman idealismeku mulai muncul.. Pepatah "Pengalaman adalah guru yang terbaik" agaknya menginsepsi kuat di otak. Dari sebuah latar belakang pepatah klise itu banyak keputusan yang aku buat yang membuatku jatuh pada komitemen. Kini aku menyadari beberapa konsekuensi yang aku terima, dari yang bermanfaat hingga yang mudharat. Aku dengan seenak jidat menerima semua pengalaman yang lewat, aku terima, aku iyakan dan aku lupa bahwa banyak sekali kewajiban yang juga belum aku kerjakan. Aku hanya meminta hak demi hak untuk meraih pengalaman. Aku menghancurkan diri sendiri hanya demi sebuah pengalaman. Aku melalaikan kewajiban hanya untuk pengalaman.

Pengalaman yang macam apa yang mampu menjadi guru yang terbaik jika aku saja tidak mampu menempatkan pengalaman-pengalaman yang ada dalam dimensi waktu yang sesuai.

Aku mulai menyadari ketika sebuah pepatah lain mulai meneruskan niat ini. Pepatah ini disampaikan oleh kak Inta, Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet KM ITB yang tidak lain dan tidak bukan atasanku (pepetahnya anonim), begini kira-kira "Jangan selalu berharap organisasi lah yang memberi manfaat buat kita, tapi berpikirlah bahwa kita dapat memberi manfaat kepada organisasi tersebut", simple note tapi cukup menusuk dan tepat kepada niat-niat melencengku.

Iya kini aku sadar tapi aku telah terjerat pda konsekuensi dan aku punya tanggung jawab terhadapnya.

Monday, 23 January 2012

Anies Baswedan, Intelektual Muda Peduli Bangsa

Posted by Sosiana Dwi On 12:05 am

Siapa tidak kenal tokoh satu ini, namanya mencuat berkat prestasi yang luar biasa dan dianugerahkan sebagai Rektor Termuda di Indonesia. Ya, tokoh tersebut adalah Anies Baswedan. Pria kelahiran 7 Mei 1969 tersebut dikenal sebagai tokoh intelektual muda Indonesia yang namanya sudah mendunia dan berwawasan global. Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan, di antaranya dengan mengantarkan Paramadina menjadi universitas kelas dunia.
Masa kecil Anies -begitu beliau disapa- dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Kakeknya adalah seorang jurnalis dan perintis kemerdekaan yang pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan (1946) dan kedua orang tua Anies adalah dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta. 


 
 
 
Sewaktu duduk di bangku SMAN 2 Yogyakarta, ia terpilih sebagai peserta dalam program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs yang diselengarakan oleh Bina Antarbudaya selama setahun di Milwaukee,Wiconsin, Amerika Serikat (1987-1988). Semasa kuliah di UGM (1989 -1955) ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Anies pun terpilih menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM. Berkat kepandaiannya, ia mendapatkan beasiswa Japan Airlines Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas bidang Asian Studies di Universitas Sophia di Tokyo, Jepang. Setelah lulus kuliah di UGM pada 1995, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi di UGM.
Kemudian, Anies mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park. Sewaktu kuliah, dia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award. Pada 2005, Anies menjadi peserta Gerald Maryanov Fellow di Departemen Ilmu Politik di Universitas Northern Illinois sehingga dapat menyelesaikan disertasinya tentang “Otonomi Daerah dan Pola Demokrasi di Indonesia”
Di tahun yang sama, Anies menjadi direktur riset pada The Indonesian Institute. Kemudian pada 2008, ia mendapat anugerah sebagai 100 Tokoh Intelektual Muda Dunia versi Majalah Foreign Policy dari Amerika Serikat. Pada 2009 Anies Baswedan terpilih menjadi Young Global Leader oleh The World Economic Forum yang berpusat di Davos, Swiss. Pada tahun 2010 menerima Yashuhiro Nakasone Award dari Bekas PM Jepang, yang dianugerahkan langsung di Tokyo Jepang bulan Juli 2010.
Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan dilantik menjadi rektor Universitas Paramadina. Anies menjadi rektor menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan dan intelektual Muslim, Nurcholish Madjid, yang juga merupakan pendiri universitas tersebut. Saat itu ia baru berusia 38 tahun dan menjadi rektor termuda di Indonesia.
Tergugah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Anies mendirikan gerakan pendidikan baru yaitu INDONESIA MENGAJAR. Sebuah program yang merekrut anak-anak muda terbaik lulusan perguruan tinggi di Indonesia untuk mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah dasar yang ada di pelosok Indonesia. Lewat program INDONESIA MENGAJAR, Anies Baswedan mengajak para pemimpin muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di kampus, untuk terjun ke desa-desa di pelosok negeri yang tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Menyebarkan harapan, memberikan inspirasi, dan mengantungkan mimpi bagi anak-anak negeri lewat kehadiran para lulusan terbaik universitas ternama. Selain sibuk mensosialisasikan gerakan yang beliau usung, ia juga berpartisipasi di bidang pendidikan lainnya seperti menjadi Dewan Juri Lomba Karya Tulis Beswan Djarum Tingkat Nasional selama 2 periode berturut-turut (2009-2010).

Source :

Sunday, 15 January 2012

Dear Dee,

Posted by Sosiana Dwi On 10:50 am
Surat ini dibuat untuk blog contest mizan.com

Dear Dee,
Sejujurnya kalau boleh aku katakan aku belum sempat membaca bukumu yang fenomenal itu. Tapi aku kenal kau Dee, Dewi Lestari. Aku mengenalmu karena aku juga sering jalan-jalan ke Gramedia, dengan tanpa membeli buku aku mengenalmu di jajaran buku bestseller yang selalu ingin aku beli. Mengikuti lomba ini aku berharap bisa mendapatkan bukumu Dee secara gratis. Hobiku tetap membaca buku walau tanpa membelinya. Tapi bukan itu saja mengapa aku menulis ini, aku juga ingin bercerita padamu dan menulis mimpiku.

Aku ingin menulis. Menulis dan jadi penulis. Mimpiku yang aku tulis sedari kecil . Aku ingin menjadi Dee yang lain, bukan Dee seperti dirimu tapi sama sepertimu yaitu penulis. Menjadi penulis adalah cita-cita yang sudah kau milikki dan ingin aku miliki. Ingin juga suatu saat novel yang aku buat sama-sama melalang buananya sepertimu Dee, di pajang di kumpulan bestseller Gramedia bukan di pojok rak yang berdebu.

Tapi apa? Apa yang aku punya? Aku hanya punya jari-jari dan tuts keyboard ini. Aku tak punya cerita dan dunia. Aku hanya punya cukup kenekatan dan kenikmatan untuk merasakan kesederhanaan tulisan-tulisan ini. Aku belum pernah membuat karya dan aku bukan siapa-siapa. 

Dee, aku tak berharap kau membaca tulisan aneh ini tapi sekedar kau tahu aku ingin aku hanya ingin menulis ini dan membuat perjanjian dengan tulisan ini, mungkin denganmu Dee. Lima tahun aku ingin menulis sesuatu, mungkin novel. Sama sepertimu dan novel-novelmu seperti Perahu Kertas, Madre maupun Supernova yang dipajang dimana-mana dan melalang buana. Lima tahun ini aku ingin bejanji dengan tulisan ini agar aku bisa menyelesaikan tulisanku dengan berbagai pengalaman yang aku punya. Aku tak punya pengalaman tapi aku akan mengejar pengalaman itu. Jadi dengar Dee, aku akan jadi sepertimu tapi bukan jadi kamu.

Terima kasih untukmu Dee yang mendengar janjiku. :)

Dari    : Sosiana Dwi   
Untuk : Mizan.com



  • Contact us

    Sosiana Dwi Architecture 2011 Bandung Institute of Technology