Sunday, 20 November 2011

First Impression sang Ronggeng

Posted by Sosiana Dwi On 12:29 am
Sang Penari
Beberapa hari yang lalu sedang booming film Sang Penari besutan sutradara Ifa Ifansyah.  Aku sendiri baru tahu kalau Sang Penari adalah film yang didasarkan dari novel terkenal Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) milik sang legendaris Ahmad Tohari. Yang membuat aku tertarik membacanya tak lain dan tak bukan karena sejarah dari AHMAD Tohari yang ternyata adalah orang Banyumas tulen. Sama sepertiku yang lahir dan dibesarkan sampai umur 17 tahun di Purbalingga (yah, meski bukan Banyumas tapi paling tidak satu rumpun, satu bahasa, dan satu karisidenan).  Ditambah , disini di kota rantau ini aku merasa menemukan kebahagiaan jikalau menemukan saudara sepertiku, saudara yang bisa berbahasa “ngapak “juga.  Jarang kutemukan para ngapakers itu dan dalam buku Ahmad Tohari aku menemukan saudara , seperti kawan lama yang tak pernah kukenal lagi.

Kawan lama. Semasa SMA aku sering melihat buku RDP sebagai pajangan di rak perpustakaan. Tapi pajangan hanya tinggal pajangan karena sedikit dari siswa menyentuh buku itu, padahal dari pihak sekolah menyiapkan buku itu dalam jumlah banyak dengan maksud tertentu juga. Aku salah satu dari siswi yang tega itu. Tak pernah melirik buku itu karena covernya yang tidak menarik. Seorang penari dengan gambar ala Zaman dahulu. Sangat tidak menari buatku di era internet dan komputer ini.

Lihat sampulnya yang jadul ini!! 



Namun kini berubah. Karena latah kehadiran Sang Penari di layar emas aku mendownload ebooknya. Hanya sekedar ingin membaca ceritanya sebelum menonton filmnya. Biasanya jika sudah begitu aku akan membandingkan antara film dan buku. Dan supaya lebh jelas juga membaca sudut pandang Ahmad Tohari dan sudut pandang Ifa.

Latahku berlanjut menjadi jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada gaya bahasa Ahmad Tohari, aku jatuh cinta pada karakter-karakter yang ia imajikan dalam sebuah frame-frame adegan diskripsi. Dan terutama aku jatuh cinta pada Rasus. Lelaki yang mencintai Srintil, sang ronggeng dengan sepenuh hati bukan karena nafsu semata.
Aku jatuh cinta pada hal yang aku kira akan membosankan. First Impression ternyata tak akan menceritakan segala isi rupa dan warna. Beberapa buku yang  kulihat dengan sampul dan kata persuasif yang menaik namun isinya zonk. Hanya sebuah gembar-gembor yang tidak penting. Dan dari sebuah buku dengan cover yang amat tidak menarik ada sebuah cerita sarat makna. RDP, cerita kehidupan fakta masyarakat.

Yah, first impression juga harus diolah menurut hematku. Apabila kau mmebaca buku RDP dengan tanpa menyaring setiap detil kata dan adegan yang ia tuturkan , hmm bukan tidak mungkin kau akan menganggap ini adalah buku yang sarat dengan muatan pornografi dan kekerasan atau istilahnya saru. Tapi ini budaya, menurutku.

Aku jadi teringat guru bahasa Indonesiaku semasa SMA, Ibu  Sri Asmani yang sering kita panggil bu As. Beliau yang mengajar pelajaran B.Indo selalu di akhir jam sekolah selalu membuat kami terkesima. Disamping cara mengajarnya enak , komunikatif kami diajak belajar sastra lama dengan sesuatu yang menarik. Mendongeng. Itulah hal yang kami sukai dari beliau. Walau kadang sayup-sayup ceritanya mengalirkan kami ke lelap siang hari namun cerita-cerita itu membekas seperti cerita RDP ini. Membacanya selalu membuatku teringat gaya bercerita Ibu As, teringat beliau teringat cerita-cerita macam Senyum Karyamin,  Burung-burung Manyar, dll aku sendiri lupa apa saja ceritanya.

“Lihat segalanya , Lebih dekat. Dan kau akan mengerti”. Sepenggal lagu dari Sherina Munaf menyadarkanku lagi , seharusnya aku belajar lagi dan lagi untuk terus menginvetigasi masalah lebih dekat. Mengingat judging masih melekat padaku dan kehidupanku.

First Impression itu tidak berguna bagi manusia kritis. Akankah aku adalah korban dari kebodohan yang aku buat sendiri?

Semoga saja aku bisa merubahnya.
semoga

Saturday, 19 November 2011

Misteri Hilangnya Uang Galon

Posted by Sosiana Dwi On 8:27 am
Minggu ini Jumat, Sabtu dan Mingguku banyak tersisa untuk libur. Praktikum fisika terakhir telah usai dan memang kuliahku hanya sampai pada tahap hari Jumat. Seperti biasa saat sedang liburan maka waktuku banyak tersisa untuk memeluk bantal, monyet dan selimut hangatku tercinta di kamar no 19 Asrama Baru Kanayakan ITB. Sisanya aku sempatkan untuk mencuci baju dan merapikan kamar yang memang sudah layak disebut kapal pecah.

Kebetulan hari itu adalah jatahku untuk membeli galon yang memang telah kosong di kamarku. Daripada aku mati dehidrasi aku segera menaruh galon di lantai satu dengan terlebih dahulu menyelipkan uang lima ribuan sebagai harga galon itu. Saat itu juga aku melihat galon kamar no. 20 (Kamar tetangga alias punya Dwi, Bangka) sudah terisi oleh air. Memang salahku menaruh galon itu sudah agak siangan sehingga tidak cepat-cepat mendapat isi. sekitar pukul 11.00 aku meletakkannya dan pukul 15.00 aku kembali turun dari lantai tiga karena hendak pergi ke kampus. Di serambi depan aku berpapasan dengan bu Asrama , aku menyapa dan menanyakan kabar galonku apakah sudah terisi atau belum.

"Sudah, itu galonnya sudah isi ada di pos satpam. Tapi tadi belum naruh duit ya?" ibu berkata.
aku keheranan, perasaan aku telah menyelipkan selembar uang lima ribuan di perekat. "Sudah kok Bu, saya yakin sudah. "kataku penuh keyakinan.
"Lha tadi amangnya minta uang lagi ke ibu, jadi ibu kira Sosi belum bayar. Mungkin ketinggalan kali atau jatuh uangnya?"
Aku berpikir keras, sepertinya sudah. Berbekal rasa tidak enak hati maka kuulurkan uang lima ribuan lagi sebagai pengganti uang galon yang tiba-tiba hilang. Kulihat dompet dan itu adalah beberapa lembar uang terakhirku (:'()

Aku beranjak ke kampus. Jatah voucher makanku adalah di Borju, salah satu kantin dengan predikat mahal di kampus. Sayang jika tidak di pakai, dan lauk yang tersisa adalah dengan harga sepuluh ribuan keatas. Sedangkan nilai jual dari Voucher beasiswa makan adalah enam ribu rupiah. Jadi aku harus menambah senilai empat ribu rupiah, tah tidak terlalu mahal untuk sapo iga dengan nasi daging dan taburan paprika. :p

Oke and then acaraku beralih ke ngumpul SAPPK untuk persiapan TPB Cup nanti sore. Perlu di ketahui dalam pertandingan ini tak hanya permainan yang di lombakan namun suporter dan kreativitasnya juga di pertaruhkan. Kami selalu mengenakan dresscode untuk setiap kali support ke pertandingan futsal. Hari ini kami mengenakan kardus sebagai proprti pertunjukan. Namun ada kejadian yang tidak diinginkan datang. Kamera dslr milik Gagas hilang. Padahal tadi kita bersama-sama terus di Campus Center (CC) Barat. Dan benda itu hilang dalam sekejap mata. Oh. nasib sedang tidak baik kepada Gagas. Semoga cepat ketemu ya Gas, sama seperti sepedaku yang cepatlah ketemu. :(

Karena lapar (lagi) aku dan Vanie memutuskan untuk jalan-jalan melihat stand makanan dari festifal kuliner Ocean Ovulution milik himpunan KMKL (keluarga mahasswa kelautan). Ada beberapasa stand makanan seperti sosis bakar, minuman, makanan jaman dahulu , sushi, dan Coto makasar. Karena penasaran pada Coto Makasar aku beranikan mencoba terlebih hari itu dingin pasti enak jika makan makanan yang hangat seperti soto walaupun harus hedon sebesar 15.000 rupiah.

Namun kehedonisan sore itu terbayar dengan sebuah kekecewaan. Saat aku mencicipi makanan itu dan aku merasakan coto itu dingin dan terlalu banyak bumbu yang asing di lidahku yang jawa ini. Kuahnya dingin , dan nasinya sudah agak bau dan lembek. Intinya tidak enak lah. Aku menyesal karen apasti itu jatah makanku selama beberapa hari mendatang.

akhrnya aku pulang juga saat pukul 23.00 , acaraku hari ini memang tak terlalu padat hanya latihan Ratoh untuk penampilan besok minggu di Citylink dan menonton pertandingan SAPPK lawan FTMD. Saat pulang aku menelusuri tangga di asrama baru berharap uangku yang lima ribu benar-benar terjatuh. Tapi nihil . Aku berhenti sebentar di kamar No. 20 dan aku bercerita kejadian hari ini hingga saat Dwi tiba-tiba mengeluh hal yang sama tentang galon yang uangnya raib seketika. Dia juga mengatakan galon yang tadinya terisi jadi kosong seperti ada yang menukarnya. Yang lebih menyebalkan penukaran galon itu tanpa disertai penggantian uang sehingga dengan kata lain Dwi membelikan seseorang galon dan dia harus memebeli galon lagi.

Terbukti korban galon hari ini tak hanya aku, tapi juga Dwi temanku. Kami kesal dibuatnya, siapa yang berani-beraninya melakukan itu. Walaupun hanya lima ribu tapi jika digabung maka akan tetap jadi banyak bukan? Uangku, uang Dwi, mungkin juga uang anak asrama lain. Asrama sudah tak lagi aman. Aku berspekulasi itu adalah anak asrama sendiri. Asrama dari calon insinyur Indonesia yang katanya adalah orang cerdas Indonesia. Mengapa mereka berulah bagai pencuri? hmm

Ironisnya dengan uang lima ribu yang kupakai sia-sia itu pasti dapat menyambung hidupku selama beberapa hari. Melihat isi dompet dan ATM-ku yang tak lagi tebal. yah, yah.  Gara-gara kehedonan yang membawa penyesalan tentunya uang lima ribu dapat menambah-nambah uang di kantongku yang tinggal tiga ribu rupiah. Aku sangat menyesal. Pelakunya  semoga dapat ditangkap dan tak akan mengulangi  kesalahan nista ini.

Aamiin,


ikhlas sos. :)



Friday, 18 November 2011

Sepedaku Roda Dua

Posted by Sosiana Dwi On 2:24 pm
Aku mau curcol dikit nih.

Belum lama ini aku baru punya  "pacar" yang baru. Sekitar sebulanan yang lalu aku temui di daerah Kosambi Bandung. Jodoh, itu adalah jodoh yang diberikan oleh ibuku.

 Aku memanggilnya dengan nama Purcell Martono, walaupun nama aslinya adalah Pacific. Dulu ketika aku rasa sudah klik aku pun "berpacaran" dengan dia. Dialah yang mengantar jemputku setiap hari dari asrama Kanayakan sampai kampus ITB. Kami sering meluncur bersama bahkan kami sering balapan melawan supir angkot yang lewat. Tapi tetap kamilah yang menang,  Dan aku tetap duluan sampai kelas dibanding teman-teman yang naik angkot. Aku merasa senang sekali kala itu. Trima kasih pacarku yang baik hati. :)

Bahkan ketika temanku yang baru saja putus dengan pacarnya aku tetap menjaga baik-baik pacarku. Aku sesungguhnya tidak ingin kejadian seperti temanku itu. Namun aku lengah. Akhir-akhir ini tali yang kujaga antara aku dan dia mulai renggang dan rusak. Tapi aku tetap mencintainya. Tapi tetap saja aku lengah. :(

Hingga suatu sore saat aku mengajaknya jalan-jalan melihat atraksi wisudaan di kampus. Kampus berubah sangat ramai. Dan aku kehilangan jejak-jejaknya. Aku hilangkan dia ditengah malam, di sebuah malam minggu yang seharusnya spesial untukku dan dirinya. Aku meninggalkannya sendiri di bawah hujan bulan Oktober. Dan dia pergi bersama orang lain tanpa permisi. Sungguh sakit hatiku. :(

Tapi ini semua salahku. Mungkin dia bosan denganku. Mungkin dia ingin dimiliki hati yang lain. Mungkin dia ingin pergi dariku.

Tapi yahukah kau juga aku sangat kehilanganmu. Apa yang harus aku bilang pada ibuku yang telah menjodohkan kita berdua, aku telah terlanjur mengenalkannya pada ibuku. Ibuku sudah sangat puas.

Kini aku harus membayar mahal kepergiannya. Aku harus merebutnya dari seseorang atau aku harus mengumpulkan uang untuk membeli hati yang lain, yang lebih baik darinya sebelumnya.

kepada kekasihku Purcell tersayang,
kita telah melangkahkan hati pada kemonotonan naik dan turun,
pada turunan yang bernilai nol,
pada selang kota Bandung yang menyimpan sejuta cerita,
apapun turunan kedua yang cekung keatas atau kebawah kita jalani bersama,
sekuat tenaga aku mendorongmu,
sekuat hati ku mengayuh hatimu,
agar kau naik pada nilai maksimum,
dan turun pada minimum yang memberiku sensasi segar pada sela-sela sengal nafasku,

kini kau pergi,
hati hati ya,
moga kamu bermanfaat,
doakan aku dapat yang lebih baik darimu,
salam hangat,
kekasihmu...


to : Purcell Pacific Martono
dengan keadaan yang berlebihan



Puisi Galau

Posted by Sosiana Dwi On 1:50 pm
Puisi ini aku sempatkan tulis sewaktu aku masih dalam taraf galau-galaunya. Daripada dibuang sayang aku tuliskan kembali dalam blogku, :)


makian dendam kembali berdendang,
membusuk, menjadi kompos,
namun
kembali menumbuhkan pucuk-pucuk bunga di serambi rumahku,
akankah ku telan pahit buahnya,
seranum makian ludahku ini,
sehingga

kelu...
ketika kurasakan suara ini tercekat sepersekian inci dari hari itu,
sepersekian sekon membawaku pada rasa sakit pada kakiku,
untuk lepas dari sekedar kepura-puraanku,
bahwa aku terkena candu akan kepahitan ,
yang membawa kenikmatan untuk mencicipi  lagi dan lagi,

aku ingin kembali menghadirkannya,
mencium wangi ranumnya,
atau kini ia telah menjadi milik orang ,

tak adakah waktuku untuk mencuri kembali buahnya ,
menghadiahkannya sebagai santap malam-malamku,
sebagai obat rasa kantukku,
agar aku kembali tidur
tidur dalam pembaringan ini
selamanya sebelum aku tak sempat
menuju hari bahagia....

Sunday, 13 November 2011

Balada Gembok dan Anak Kunci

Posted by Sosiana Dwi On 10:17 pm
Balada Gembok dan Anak Kunci


kesalahan memiliki sebuah gembok dengan hanya satu anak kunci saja
jika hilang dan semua bagai melayang

masalahnya ini adalah pintu hati
yang tak sembarang terbuka
terlebih bagi orang keras kepala,
sepertiku

yang hanya punya satu kunci untuk satu hati
satu kunci untuk kekeraskepalaan otak ini
untuk melelehkan ikatan kesombonganku yang telah lama berdiri

demi membuka gembok sesederhana ini saja
apa perlu mendobraknya?
dan menyisakan jejak retak di kepala kita?
itu adalah cara frontal yang menyakitkan

apakah sebaiknya kita buka saja pintu ini selebar senyum di hari sabtu?
hingga tak perlu ada anak kunci lagi
yang menjengkelkan
jika menghilang atau dibawa kabur orang

kita tak perlu mengunci kesendirian kita dalam arogansi kasih sayang
hanya demi satu anak kunci,
dan kita tak membutuhkan anak kunci lagi
hingga suatu saat,
di waktu yang tepat,


ironinya ada tangan yang menawarkan sebuah anak kunci
dan aku benci,
benci untuk mencoba menutup prinsip ini
benci karena gembok ini sepertinya mulai ingin bertaut pada geriginya
............................................?


Bandung, 22 Oktober 2011
sebuah anak kunci _sosi_

(perlu diketahui arti namaku, Sosi adalah kunci dalam bahasa jawa kuno. :))

Tuesday, 23 August 2011

All Abot Your Art, Sir!! XD

Posted by Sosiana Dwi On 12:05 pm
rumah dari Saudara Ridwan Kamil itu sepert ini lho :::

  pagar-pagar pada jendelanya tersusun dari botol-botol lhoo. Coba saja perhatikan!!

 siluet lubang-lubang ini amat sangat artistik. Tapi kalau malem orang rumah pada masuk angin ngga ya? :P

 Unyyyuuuu... ijo kaya kue mochi. *lhoo

 gue ampe bingung mau comment aaan =,=
keren abissss

 tampak luar dari rumahnya kaya bukan lagi di Bandung ya?
huuaaah
coba asramaku kaya gitu

 bisa bedain kan botol sama buku? :p


Mediterania....
^^
Ridwan Kamil adalah arsitek muda Indonesia dengan reputasi Internasional. Nama besar dan karya-karyanya menjadi inspirasi bagi banyak arsitek muda lainnya di Indonesia. Selain sibuk berprofesi sebagai arsitek, Ridwan Kamil juga menjadi penggagas dan Direktur dari Bandung Creative City Forum. Salah satu masterpiece arsitektur Ridwan Kamil adalah rumah tinggalnya sendiri.


Terletak di kota berhawa sejuk, Bandung, Indonesia, arsitek yang akrab disapa dengan sebutan Emil ini membangun rumahnya dari 30,000 botol kaca bekas minuman energi. Emil memilih botol minuman berenergi merk terkenal ini karena menurutnya botol minuman ini tidak dikumpulkan kembali oleh si pemilik industri untuk diisi ulang, seperti yang biasanya dilakukan oleh minuman ringan kemasan botol yang banyak beredar di pasaran. Emil mengumpulkan puluhan ribu botol kaca bekas itu selama 2 tahun! Ini menunjukkan komitmennya yang sangat tinggi terhadap konsep rancangan dan idenya untuk sekaligus mengurangi sampah di kotanya.


"Saya sempat kesal ketika kota kelahiran saya, Bandung, pernah dijuluki sebagai Bandung Lautan Sampah," ujarnya dalam sebuah kesempatan memberikan ceramah di TEDx, event TED independen yang dilaksanakan di Jakarta pada Juli 2010 lalu. Selain itu ide menggunakan botol kaca berwarna coklat ini juga datang dari kebiasaannya memperhatikan para pekerjanya yang sering mengkonsumsi minuman tersebut. "Warna coklat kacanya juga selaras dengan warna kayu," demikian ujarnya seperti yang dikutip dari HomeDezign.com.


Selain memadupadankan rancangan rumah botolnya dengan kayu, Emil juga menggabungkan susunan botol dengan glass block di beberapa bagian. Guna meminimalkan penggunaan cat di bagian luar bangunan, sang arsitek juga membiarkan beberapa bagian beton terekspos dan menampilkan warna natural betonnya. Aksentuasi kontras diperoleh dari penggunaan furnitur dan elemen interior lainnya di bagian dalam rumah.


Kerja kerasnya ini tidak sia-sia, pada tahun 2009 Emil dianugrahi Green Design Award 2009 oleh BCI Asia, mengalahkan sedikitnya 80 partisipan lain dari 8 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam, Philippines, Hong Kong dan China. Rumah yang berdiri di atas lahan berbentuk trapesium seluas 373 meter persegi ini layak diberi label green bukan hanya karena dibangun dari limbah botol kaca lokal, melainkan juga karena sifat kaca yang tembus pandang memungkinkan cahaya matahari masuk pada siang hari membuat bangunan ini mampu menghemat penggunaan cahaya lampu pada siang hari.


Sheffield . 29 Desember 2010


Sumber literatur dan foto:




Monday, 22 August 2011

Ridwan Kamil : My Favorite Architech now

Posted by Sosiana Dwi On 3:00 pm
Ridwan Kamil masih terbilang muda. Ia lahir di Bandung pada 4 Oktober 1971. Namun, prestasi dan karyanya membuat banyak orang berdecak kagum. Ridwan telah mengarsiteki sejumlah proyek besar di mancanegara, seperti di Singapura, Thailand, Vietnam, Cina, Hong Kong, Bahrain dan Uni Emirat Arab.
Contoh karyanya adalah Marina Bay Waterfront Master Plan di Singapura, Suktohai Urban Resort Master Plan di Bangkok dan Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar-UEA.
Di Tanah Air, karyanya pun sudah terukir. Sejumlah proyek berkelas ditanganinya. Antara lain, Superblok Rasuna Epicentrum di Kuningan seluas 12 hektare, yang meliputi Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, ritel dan waterfront.
Sebelumnya, melalui Urbane Indonesia (perusahaan penyedia jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain miliknya),  ia telah menggarap Menara I Universitas Tarumanagara, Al-Azhar International School di Kota Baru Parahyangan (Bandung), Grand Wisata Community Club House di Bekasi, Pupuk Kaltim IT Centre di Balikpapan, dan ANTV Mixed Used Centre milik PT Bakrie Swasakti Utama di Jakarta.
Urbane pernah mendapatkan BCI Asia Top 10 Award untuk kategori Rancangan Bangunan Bisnis. Kemudian, Urbane juga menjadi juara dalam merancang Museum Tsunami di Aceh. Ia sendiri mendapatkan penghargaan International Young Creative Entrepreneur of the Year dari British Council pada 2006. Bahkan, rumahnya yang sebagian dindingnya terbuat dari susunan botol meraih penghargaan Green Design Award di tingkat Asia dari BCI.
Tentu saja penggarapan karyanya butuh ide kreatif. Sarjana arsitektur lulusan Institut Teknologi Bandung ini malah meyakini arsitek itu tak berbeda dari seniman. Sebab, butuh inspirasi, ilham dan ide-ide segar sebelum berkarya.
Lantas, bagaimana ia menelurkan ide-ide kreatif yang menjadi kebutuhan vital bagi profesinya itu? Rupanya ia tak sekadar menunggu datangnya ilham. Sejumlah upaya khusus dilakukannya.
Pertama adalah membaca. Ia melihat perkembangan dunia arsitektur kadangkala dipicu provokasi dunia kampus. Dari sana lahirlah teori-teori baru yang umumnya kurang dipahami orang awam. Namun, baginya hal ini bisa dibuat mudah, yaitu teori tersebut ditransformasikan menjadi sesuatu yang bisa dibangun.
Sebagai arsitek, ia tak hanya berkutat dengan bidang ilmu arsitek. Ia kerap meminjam teori-teori lain, seperti filsafat dan sastra, untuk memperkaya karyanya. Ia melihat arsitektur mengikuti pergerakan peradaban. Intinya, “Semakin rajin membaca, melihat perubahan paradigma dunia, maka kita akan semakin memahami perubahan arsitektur,” kata lelaki yang akrab disapa Emil ini.
Upaya lain yang dilakukannya adalah melakukan jalan-jalan atau traveling. Diungkapkannya, ia sering mendapatkan inspirasi baru dari traveling. Alasannya, dari berjalan-jalan ini ia bisa menemukan gaya-gaya arsitektur baru. Dari sini ia bisa membandingkan karya yang satu dengan karya yang lain. Dan, dari sini biasanya ia mendapat inspirasi baru.
Hal ketiga yang tak boleh dilewatkan adalah mencermati sekeliling. “Saya pernah dapat ide dari botol parfum,” kata Ridwan. Botol parfum mampu menginspirasinya membuat sebuah karya arsitektur. Ia melihat ada kemiripan antara botol parfum dan arsitektur.
Ridwan mengaku membutuhkan suasana rileks sebelum menghasilkan ide-ide cemerlang. Sebaliknya, jika ada tekanan, hal itu seperti mimpi buruk bagi orang kreatif. “Orang kreatif kalau under pressure, idenya sering tidak maksimal,” ujarnya.
Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa dirinya lebih memilih berkantor di Bandung ketimbang di Jakarta. “Kalau orang kreatif bisa lebih rileks dan banyak merenung, dia malah akan lebih produktif,” ujarnya. Dan terbukti, kantor yang ada di Bandung sering mendapatkan penghargaan.
“Ada 20 penghargaan yang sudah diterima kantor saya,” katanya bangga. Ia mencermati kebanyakan arsitek lebih menyukai suasana Ubud ketimbang Kuta saat ada di Bali. Alasannya sama, “Di sana tenang. Orang kreatif butuh itu untuk mendapatkan inspirasi.”
Hal ini tak hanya dilakukan Ridwan. Ia juga menularkan cara serupa kepada karyawan kantornya. Bahkan, model inilah yang dijadikan budaya di perusahaannya.
Untuk ini, ia berani mengeluarkan uang lebih demi memunculkan kreativitas timnya. “Saya investasi kreativitas dengan mengajak mereka jalan-jalan,” ujarnya. Tak tanggung-tanggung, sekali setahun karyawannya diajak jalan-jalan ke luar negeri. Tujuannya, kondisi karyawan lebih sehat dan pikiran mereka segar. “Seluruh karyawan pernah saya ajak ke Thailand, Vietnam, Malaysia dan Brunei. Dan itu dibiayai kantor.”
Namun, untuk tim yang lebih khusus — tim yang langsung bekerja dengannya — ia punya perlakuan yang lebih spesial, yaitu jalan-jalan ke Eropa. Itu berlangsung dua kali setahun. “Selalu setelah jalan-jalan mereka lebih kreatif,” katanya. “Managing creative people memang tidak mudah,” Ridwan mengakui.
Tantangan yang sering dirasakannya, ia tidak bisa memastikan kapan kreativitas seseorang muncul. “Pernah kami butuh ide-ide kreatif karyawan saat pagi. Ternyata ide kreatifnya keluar pukul 6 sore. Ya kami bisa apa? Memang begitulah kreativitas itu muncul,” ujarnya sembari mengangkat bahu.
Ia mencontohkan dirinya. Ia mengaku sering mendapat ide saat malam. Kalau pagi, banyak kendala seperti urusan administrasi. “Kalau lepas Maghrib kan tenang,” ungkapnya.
Namun, Ridwan mengaku lebih sering mendapat ide saat mandi. “Kalau kepala saya kena air dari shower, itu baru segar. Dan ide-ide berdatangan,” katanya, seraya menjelaskan bahwa kemenangannya di sejumlah sayembara sering terinspirasi ketika di kamar mandi.
Karena itu, Ridwan merasa perlu mendesain khusus kamar mandi di rumahnya. “Desainnya natural. Hampir semua dari kayu,” katanya. Bahkan, saking senangnya mendapat guyuran air, Ridwan menciptakan hujan buatan di kamar mandi.
“Jadi saya desain sedemikian rupa, supaya seperti air hujan di kamar mandi,” ujarnya. Tidak itu saja, lantai kamar mandi juga dibuat bergoyang layaknya jembatan. “Biar saya lebih kreatif,” ujar ayah Emmeril Khan Mumtadz (10 tahun) dan Cammilia Laetitia Azzahra (5 tahun) ini.
Lalu, bagaimana caranya menjual ide? Ridwan mengaku punya cara sendiri. Diungkapkannya, menjual sebuah ide ditentukan latar belakang calon klien. Misalnya, klien yang berlatar belakang pendidikan biasa-biasa saja, jarang traveling, biasanya kurang memiliki wawasan.
“Maka klien itu akan cenderung mendikte kita berdasar pada yang dia tahu saja. Padahal, di luar sana sudah berkembang pesat,” ujarnya. Nah, ia punya cara untuk menyiasati ini. Ia selalu mengajak kliennya “berkeliling” dunia.
Ini istilah Ridwan untuk menampilkan slide show foto-foto arsitektur di dunia. “Begini lho arsitektur di Dubai, Cina, Eropa, dan negara lainnya. Nah, baru setelah itu mereka bisa menerima ide kreatif kami.”
Ridwan mengungkapkan bahwa ia menerapkan sejumlah strategi dalam melayani klien.
Pertama, visioning service. Di sini ia tidak hanya menyediakan desain, tetapi juga memberi masukan bagi pengembangan bisnis klien dari sisi rancang bangun.
Kedua, memberi layanan master plan. Di sini ia tidak hanya menawarkan desain bangunan, tetapi juga pengembangan kawasan.
Berikutnya, kesinambungan teori dan praktik. Itulah sebabnya, sejumlah desainer seniornya merupakan dosen perguruan tinggi.
Terakhir, ia sendiri aktif mengikuti sayembara guna membuktikan kreativitasnya. Begitu pula yang ia minta dari karyawannya.
Ridwan menyadari antara tuntutan bisnis dan ide kreatif terkadang bertentangan. Apalagi, di dunia arsitektur. Pembangunan arsitektur di Indonesia banyak menemui kendala biaya. Berbeda dari negara maju yang bisa membayar mahal teknologi dan kreativitas.
Untuk menyiasati hal ini, ia kadang terpaksa menurunkan kadar kreativitasnya. “Memang sakit hati karena ide kreativitas saya tidak tersalurkan karena harus disesuaikan dengan affordability di Indonesia,” ujarnya. Ya, dunia memang tidak benar-benar bundar.
Sumber: SWAsembada, Kompas

Saturday, 16 July 2011

Sejarah Kecil Benda Bernilai Besar

Posted by Sosiana Dwi On 11:00 am
"Aku tak tau bagaimana awal aku menyayanginya. Semua terkesan biasa, namun mengena. Berawal dari kau yang tergantung manis di punggung-punggung tegak sang kakak kelas dan meninggalkan jejak yang menoreh ke sanubari, awal ku mencintamu, oh tas olimku."hahay 
Begitulah awalnya, Karena hanya ingin memiliki sebuah tas berlogo OSN aku belajar astronomi yang telah mendamparkanku pada bintang dan langit malam. Aneh bin konyol sebenarnya, kerja kerasku hanya untuk sebuah tas sederhana. Tapi itu nyata, tiap malam mataku berat melawan kantuk membuka gerbang alam semesta. Ada sebuah lecutan lain saat mata ini mengena pada benda-benda angkasa : rasa penasaran. Sebuah rasa yg membuncah apalagi diselingi penampakan alam di langit setiap saatnya. Ya, aku menemukan dunia baru yang aku bawa selalu dalam tas ransel hitamku kini. Beribu kehausan akan ilmu dan keindahan. 
Walau pada akhirnya tas itu tak membawaku ke Jakarta atau Medan, tapi tas itu selalu melihat perjuangkanku di kota-kota mimpiku. Tak pernah kulepas walau sudah usang. Karena kesahajaannya saja. Hanya tas sederhana saja, tak mewah, tak megah, sejarahnya saja membawa berbeda. :-) 

----------- 

"Ki, mana oleh-oleh dari Bandung?hehe" candaku pada Kiki yang baru pulang dari Pelatnas di sebuah institut. 
"Wah,tinggal pin ini saja Sos."aku menerima sebuah pin simple bertuliskan ITB dan bergambar dewa gajah Ganesha dari sobatku itu. 
Sedari itu aku tersihir saja ingin di ITB. Mungkin disana banyak orang cerdas seperti sobatku itu. Ah, aku terlampau nekat, tak mungkin orang sepertiku lah. Aku menaruhnya sebagai hiasan tas usangku saja dengan penjagaan ketat agar tak hilang. 
Beberapa saat menjelang euforia SNMPTN aku kembali melirik pada sang gajah, ah Andai saja. 
Tapi aku berpikir andai saja aku tak lagi berandai-andai. Kegagalan SNMPTN via undangan ga ingin terlalu berlarut-larut, setidaknya ada jalan lain ke Ganesha. Aku mau belajar saja,toh dewa ganesha menemani dan kemungkinan masih ada. Aku tak ingin terpaku pada arus, jalanku ya jalanku. 
Gajah dan tas itu yang tiap siang dan malam menemani aku belajar. 
Gajah dan tas itu yang tiap kali keujanan kalo aku pulang kesorean. 
Gajah dan tas itu yang desak-desakan kalo aku naik bis yang udah penuh penumpang. 
Gajah dan tas itu saksi jungkir balik roda hidupku. 
Lalu gajah dan tas itulah motivasiku agar aku bisa menjadi apa yang aku pinta. 

Benda-benda itu adalah buah tangan yang tak terlupakan. :-)





Angin-angin Senja

Posted by Sosiana Dwi On 9:37 am


Angin senja ini menghadirkanmu kembali. Di kala waktu sempit dulu sapaan manis mengetuk sore-malamku. Desah resah melagu di antara nafas kita. Cerita basa-basi sudah menebal dan bebal dengan kebosanan. Tapi, ah, itulah saat aku bersuara atas diam yang kusembunyikan. Atas diam yg diam-diam aku bungkam, Bagai sebuah diari kau kuisi dengan bait-bait cerita yg sama dan lama. Yang terbuka atas buruk pena dan tinta jelaga hitamku. Yang mengalun dalam goresan-goresan kasarku. Yang extrovert seperti halnya aku. 

Ah, senja ini kembali menghadirkanmu. Bukan lagi dengan tawa yg garing kita kunyah, Bukan lagi dengan alpha topik yg kita punya, tapi dengan beberapa diam yg kita pendam. 

Beberapa diam itu ingin lepas seperti angin-angin senja ini. Kungkungannya menjerat sakit, menatap apa yg orang bilang suara. Kalau pun bisa ia hanyalah angin-angin senja yg dingin. Dingin bagai kau yg kutunggu kedatangannya. Dingin bagai jarak kata yg kita langkahi. Dingin bagai malam tanpa cerita. Dingin dan dingin angin-angin senja kita. 

Walau kita dalam satu lintang dan bujur, satu langit dan horisan, satu udara dan tanah kita, aku harap ada angin-angin yang membawa hangat senyummu ke rumahku, membawa belai-belai rindu yg tak tersampai, tak lagi mengucap perih-sedih yg sampai lewat angin yang dingin. 

Ketika aku pergi, tak ada lagi angin-angin sesal yg mengiringi. Agar tak ada lagi angan-angan dalam angin-angin senja ini. 

Sampaikanlah pada angin yang bertiup di serambimu, liat jawabnya pada selasar maknamu. 

-masih di kota Purbalingga tercinta

Friday, 1 July 2011

Tanda

Posted by Sosiana Dwi On 8:04 am
Ketika tanda tanya menyesaki ruang berpikirku dengan bermiliyar-miliar kata kosong, jawaban dalam imagiku melesat cepat menambalnya. Hanya sebuah perkiraan tentang aku dan dia,dan kita semua. Walau perkiraan hanyalah teori ketidakpastiaan sebagai pengganti kata penasaran. 

Ketika engkau diapit sepasang tanda petik, itu berarti kau adalah pengecualian dalam rasa ini. Atau setidaknya dalam komposisi semua paragraf kelu ini. Tapi kau tetap tanda petik, karena sebuah alasan yang telah kugarisbawahi, kau tetap pengecualian. 

Ketika nafas ini mengikuti nada-nada tanda koma, menjeda, apa lah arti semua kata yang terucap, janji yang terangkai.. Dan memang semua berarti dalam sebuah persyaratan dalam sebuah konjungsi waktu. 

Walau tanda seru adalah buah dari amarah, menjadi syarat yg menyayat sekat-sekat kita ini aku akan berhati-hati. Membutuhkan kesabaran melangkah di jalan yang ramai oleh perputaran kesibukan. Aku tak ingin tertabrak, terluka dan celaka. itu saja. 

Dan ketika tanda titik ini kita bubuhkan, ribuan rangkai roll-roll film merampungkan rangkai cerita, aku kira ini sudah berakhir. Tapi tak juga untuk sebuah cerita yang lain. Ini bukan masalah cinta, tapi hanya soal waktu dan prioritas. Semoga. 

:apa aja yg nongol di kepala deh. Sajak galau.:P




  • Contact us

    Sosiana Dwi Architecture 2011 Bandung Institute of Technology