Monday, 29 July 2013

Mencari Surga di Utara Jakarta

Posted by Sosiana Dwi On 12:02 am
Selepas subuh mobil travel Bandung-Jakarta yang aku tumpangi bersama dengan keenam temanku telah sampai juga di pom bensin Muara Angke, lokasinya hanya berjarak beberapa langkah dari pasar ikannya. Tak ayal bau amis dari ikan-ikan tak pelak menghinggapi rongga hidung kami. Seakan tak bisa membohongi sedang berada di mana kami. Jalanan menuju ke sana pun becek dan sesekali teradapat bangkai ikan (kalau itu bisa disebut dengan bangkai).
“Eh, ini serius kita mau ke Tidung?” ucap salah satu temanku, Adlan, sedikit menyelidiki. Rasa curiganya cukup besar melihat start dari perjalanan kami ini sudah kurang sedap dipandang dan kurang sedap dicium. Ini anak rela bei masker guna menutupi hidungnya dari pasar ikan ini,  
Tapi di fotonya lumayan bagus kok,” Ninis memotivasi. Agaknya sohor dari Pulau Tidung dan pulau-pulau lainnya lumayan ternama terlihat tak hanya rombongan dari kami saja yang hadir pagi itu. Mungkin benar kata Ninis, fotonya memang lumayan bagus untuk menyihir para rombongan ini termasuk kami.
Pukul setengah tujuh pagi tour guide yang kami nanti datang dan memberi instruksi untuk kami naik ke kapal yang sudah lumayan penuh oleh beberapa rombongan lain yang tujuannya sepertinya sama, pelesir.
Tak jauh beda dengan pom bensin tadi dengan bau ikannya, pelabuhan Muara Angke ini pun tak hanya amis oleh ikan tapi juga oleh warna lautnya yang hitam kelam. Seram juga membayangkan jatuh di sini, Hiii bisa-bisa mati kehabisan nafas karena jijik. Masih belum terbayang bagaimana Tidung yang masih satu provinsi dengan Ibukota Jakarta, masih belum terpetakan seperti apa bentuknya. Apa seperti Jakarta yang kita tahu cukup berantakan itu? atau lautnya seperti Muara angke? Saya akan tahu jawabannya setelah 3 jam perjalanan melewati Laut Jakarta, meninggalkan Pulau Jawa untuk bersinggah di Pulau Kecil di Kepulauan Seribu.
Pukul 8 pagi kapal ini mulai beranjak, meninggalkan Jawa, meninggalkan Burj Al-Arabnya Jakarta dan meinggalkan Muara Angke. Sepanjang perjalanan saya tidur karena anginnya sepoi membelai ditambah hujan rintik. Saat kapal menepi inilah perjalanan saya di Pulau Tidung bersama ke-8 teman saya.

Pelabuhan Muara Angke

Burj Al-Jakarta :p

Kapal nelayan

Evan galau

Dijemput oleh mas tour guide yang lain kami dibawa ke cottage yang ditawarkan oleh travel agent kami. Jaraknya tak jauh dari pelabuhan kecil Tidung. Jalanan menuju ke cottage berupa jalan kecil yang hanya cukup dilewati mobil di jajari dengan deretan perumahan yang sebagian besar berupa cottage. Sekilas tidak jauh beda dengan di kota, rumah-rumah tersebut tidak berhalaman luas dan berhadapan langsung dengan jalan. Sempadannya satu meter sampai dengan nol meter. Well, seperti ibukota saja ini. Yang menarik transportasi yang umum disini adalah sepeda alih-alih motor. Dan sepedanya diberi nama, ada yang namanya Soleha, Faqih, Bom-bom, dan lain-lain tergantung siapa nama orang yang menyewakan sepedanya.
Sampai di cottage dan saya tidak merasa kecewa sama sekali. Cottage yang kami tempati langsung berhadapan dengan laut dan ada saung yang menjorok ke laut. Kyaaa, tempat yang pas. Fasilitas berupa dua kamar, dua kamar mandi, satu ruang tamu, ada TV, Dispenser, AC sudah cukup bisa memisahkan kami yang ikhwan dan yang akhwat (liburan juga tetep kontrol donk, haha). Liburan tiga hari dua malam ini sepertinya lumayan bisa menjadikan liburan ini keren.
1st Day
Schedule hari pertama adalah berkeliling Pulau Tidung dengan menggunakan sepeda. Kami pun ternyata dapat sepeda yang namanya FAQIH berwarna orange dan pink. Setiap dari kami dapat satu-satu. Sebelumnya aku sudah sempat melihat peta pulau ini yang ternyata memang tak terlalu besar, seukuran sebuah dusun kali ya. Setelah makan siang dengan menu ikan yang telah disediakan kami meluncur ke arah Barat pulau mencari-cari pantai bersama mas guide.
menu makan siang
Berkeliling
Mengayuh sepeda membelah ilalang di kanan-kiri jalan  sesuatu yang mungkin agak diherankan ada di salah satu lokasi di Jakarta. Sesekali pantai ada di samping kiri kita dan angin sepoi membelai perjalanan ini. Nyepeda santai kayak gini mahal harganya bisa ditemuin di Jakarta tapi ini lagi ada di Jakarta lho padahal. Pantai yang kami susuri ini tidak seindah itu tapi. Meskipun berwarna biru muda tapi banyak sampah yang mengendap disisinya bahkan sempat nemu sampah kasur disini. Diduga sih sampah kiriman dari Jakarta yang di Jawa sana, hmm.


Membelah ilalang

Geng kelompok 3
Setelah lama mengayuh, sekitar lima belas menit akhirnya kami nemu pantai yang berada di sisi utara pulau. Disini pantainya lebih bersih karena tidak secara langsung menghadap Jawa dan terdapat ayunan dan kapal-kapalan untuk bermain. Hanya saja pantainya tenang dengan ombak yang kecil. Semangat untuk main pun bergolak selama lebih dari setengah jam kami disini hanya untuk foto-foto, main ayunan dan bermain bersama anak kecil asli penduduk Tidung. Kesan di Muara Angke tadi sekarang sirna, dan musnah dengan keindahan pulau ini. Gak sia-sia jalan dari Bandung jam 2 malam dan amis-amisan di Muara Angke setelah tahu sisi lain Jakarta yang cool ini. Yang lebih menyenangkan berasa pulau sendiri karena saat itu hanya kami rombongan turis di pantai itu.
bermain bersama anak-anak

foto dulu

pol pisan


Jembatan Cinta
Guide kami pun lama menunggu untuk mengajak kami menuju ke tempat berikutnya. Setelah bayar parkir dua ribu rupiah untuk sepeda kami (lebih mahal dari parkir motor di Jawa) kami nggoes lagi. Kali ini menuju ke timur pulau dan jaraknya lumayan jauh sampai-sampai pantat kami berasa lebih tepos dan sakit disini. Melewati pelabuhan yang tadi pagi dan taraaa sampailah pada suatu pantai berpasir putih masih dengan keadaan yang tenang. Angin dilaut Jawa ini mungkin sudah di barrier dengan ratusan kepulauan yang lain yang membuat pantai ini tidak sekeras pantai selatan jawa.
Pantai di timur Tidung ini cukup ramai karena banyak turis yang berdatangan. Inilah landmark dari Puau Tidung, sebuah jembatan panjang yang menghubungkan antara Tidung besar dengan Tidung Kecil. Di bagian awal jembatan berbentuk setengah lingkaran, menjadi objek foto yang khas nan romantis pantas saja disebut Jembatan Cinta, yeay.
Uniknya dari atas jembatan cinta ini banyak anak-anak kecil (yg gedhe juga ada sih) nekat nyemplung ke air laut di bawahnya. Aku jadi pengen ikutan Bunging jumpee ala mereka sih karena air laut di bawahnya terlihat bening, berwarna hijau biru dan terlihat dasar lautnya yang dangkal. Banyak pula anak-anak kecil yang berenang menggunakan savety vest dan ada pula yang bermain bola, seperti di kolam renang raksasa. Ga sabar buat nyebur, tapi eits belum bawa baju ganti apa pun nih.
Guide-nya mengajak kita buat ke Tidung Kecil, walaupun sudah cukup capek tapi kami masih siap untuk petualangan selanjutnya dan yah berjalanlah kami kesana. Melewati jembatan buatan di atas laut kami telusuri jembatan cinta ini, siapa tahu ketemu cinta #eaa. Sekitar 500 meter jembatan ini terbentang hingga sampailah ke pulau Tidung kecil.
Pulau Tidung Kecil tidak ditempati oleh warga, di dalamnya hanya berisi Balai Pertanian dan pepohonan yang dihiasi pemandangan laut yang luas. Ke Tidung Kecil kita tak akan menemukan apa pun tapi untuk mensyukuri nikmat Tuhan, apa salahnya tho?
Saatnya kembali ke Tidung, beristirahat sejenak sambil istirahat dan sholat. Tujuan selanjutnya masih berkeliling ke pulau dan tentunya agar dapat melihat sunset di ujung Barat pulau.
foto dulu #2


jembatan cinta

Sunset
Pukul 17.00 kami bersiap untuk nggoes lagi, nggoes lagi... jarak yang ditempuh cukup jauh, Guide kami dengan lihai menemukan jalan di antara semak belukar. Sempat bertanya-tanya apakah ada tempat nonton sunset tapi sesepi ini jalanannya. Seolah-olah ini pulau milik kami dan sepeda kami saja.
Kecewa juga ternyata mendung bergelayut tepat di piringan matahari, niatnya mau romantis-romantisan eh kami malah bergalau-galauan. Kebanyakan dari kami memang masih jomblo, kecewa tak dapat sunrise kami abadikan momen di pantai milik sendiri ini bersama.

Barbeque Time
Pulang ke cottage ditemani suara adzan di kejauhan dan warna lembayung jingga. Seolah tak habis perjalanan ini untuk hari ini, sudah ada santapan makan malam tersedia di kamar. Dengan lahap dan tak bersisa kami habiskan makanan ini sampai-sampai si Guide yang setia menemani kami datang dan membakarkan ikan barbeque kami.
Gak tega ngeliat mas-masnya membakar sendiri di depan cottage kita temenin dah di Saung sambil ngelihat bintang di langit, sambil main kartu werewolf. Ketika matang terhidanglah ikan laut tidak amis yang kita sendiri tidak tahu dari jenis apa. Sayangnya karena sudah kenyang oleh makan malam tadi ikan itu tidak habis. Sayang sekali.

2nd Day
Hari kedua jadwalnya kami untuk nyebur-nyeburan, persiapan dimulai dengan kami semua tidak mandi untuk mendapatkan momen nyebur yang indah. Dengan berbekal baju yang siap basah , pakaian kering di tas kami dan sarapan secukupnya bersiaplah kami untuk bertempur. Pukul 08.00 pagi mas guide sudah rapi jali dan siap mengantarkan kami ke perahu di pelabuhan Utara pulau, berseberangan dengan pelabuhan yang pertama. Kami mau ke penangkaran penyu di Pulau Pramuka. Lama perjalanan sekitar satu-dua jam, awalnya exited berada di laut tapi lama-lama ngantuk juga. Kebosanan itu sirna ketika tiba-tiba kita muncul di antara dua pulau kecil yang berdekatan dan Subhanallah, air lautnya berwarna biru kehijau-hijauan, airnya dangkal sepertinya dan luar biasa ini kami temukan lagi-lagi masih di DKI Jakarta, hidden paradise telah kami temukan.  Temanku mengatakan ini laguna, belum bisa di akui kebenarannya sih. Cuma ini keren.
berasa life of Pi

Foto di laguna

Penangkaran Penyu
Ternyata laguna tadi bukan endingnya, masih ditempuh sekitar 15 menit lagi perjalanan dan sampailah di Pramuka Island. Pulau ini setipe dengan Tidung namun lebih besar dan merupakan pusat pemerintahan dari kepulauan Seribu sehingga tak ayal cukup ramai. Penangkaran yang dimaksud tidak jauh dari pelabuhan dan tersebutlah penyu-penyu dari segala umur berada disini. Kesampaian juga memegang penyu dewasa dan kecil. Puas berkeliling penangkaran ini saatnya nyebur.
Penyu cilik-cilik

Snorkling time
Dengan peralatan yang telah disediakan antara lain : Savety vest, kacamata renang beserta selang untuk udara, kaki katak untuk mendayung, dan lotion untuk mencegah gosong kami berasa menjadi turis di negeri sendiri. Sebelum nyemplung kami pilih tempat yang strategis untuk melihat dasar lautnya. Guide kami sudah jago menentukan mana laut yang ombaknya kecil sehingga kami tidak cepat terbawa arus dan mana laut yang isinya bagus. Awalnya kami di bawa ke tempat yang cukup dalam, dan berlatih bernafas dengan mulut menggunakan selang ini. Susah juga beradaptasi terlebih air laut ternyata benar-benar asin. Kami pun diajari berdiri di atas karang, diajari berpose dalam air. Oia, guidenya telah membawa kamera dalam air yang merupakan fasilitas dalam paket ini. Yang jago guidenya tak memakai alat apa pun kecuali kacamata renang. Weits, jagoo. Anak pantai. Kami pun merasakan apa yang namanya arus laut, arusnya lumayan kencang dan airnya hangat daripada air sekitar. Ini tho yang pernah ada di Film Finding Nemo.
Foto lagi

ngambang dulu ah

Ngambang dulu ah #2

Bosan dengan tempat dengan terumbu karang yang sedikit kami diajak ke tempat yang sedikit lebih jauh dengan perahu. Sebelumnya kita diberi makan siang terlebih dahulu. Lapar juga rasanya setelah berdingin-dingin ria di laut lepas sampai lupa sudah tengah hari.
Spot berikutnya berada dekat dengan Tidung Kecil, kali ini lautnya lebih dangkal, terumbu karangnya lebih dekat dan ikan-ikannya lebih banyak. Takut juga karena kesenggol sedikit kaki pasti sudah lecet nabrak karang. Aku pun menjauh takut berdarah dan hiu pun mendekat (sedikit berfantasi). Sebelumnya kami sudah bekal nasi dari lunch kami yang tak habis, daripada di buang sayang mending untuk konsumsi ikan. Dan fantastis kami pun didatangi ikan beraneka jenis, snorkling dengan ikan-ikan. Wow, Cuma di Indonesia mungkin ya. Terumbu karang yang kami temui lebih beragam dan seperti hidup, walaupun aku tahu dalam pelajaran biologi terumbu ini merupakan animalia bukan jenis tumbuhan, dan mereka hidup seperti layaknya hewan namun memiliki zat kapur di dalamnya. Amazing, di laut dangkal ini kami bermain lebih lama karena sudah bisa beradaptasi dengan air asin dan sudah berani jauh-jauh dari perahu. Tapi waktu dan arus yang semakin besar membuat kami harus chao juga dari sini.
Permainan Air
Selama masih berbaju renang sepertinya kami belum puas main air. Di dekat pantai jembatan Cinta ada wahana air seperti banana Boat, Kano, dan lain-lain. Dan kami memilih banana boat dengan tarif Rp.15.000 per orang bisa di tawar sih sebenrnya asal jago. Naik kapal berbentuk pisang ini dengan dua kali di jatuhkan dengan keras lumayan juga. Kita juga bisa diajak berkeliling pantai jembatan cinta. Masih belum puas lanjut kami dengan perahu kayak, tidak semua main aku juga tidak. Aku habiskan dengan bermain dengan savety vest dan mengambang pantai dangkal ini.
Banana na na na

Background : jembatan cinta


Ayunan Air
Seharian itu baju sudah terlanjur basah dan kami pun puas. Maklum di Bandung gak ada laut. Masih belum puas juga kami pun mengayuh sepeda ke pantai ayunan dan disana ternyata pantainya sudah pasang sehingga ayunannya bisa menyentuh air. Dimulailah permainan baru yang kami ciptakan, main ayunan di atas pantai eh di atas laut denk. Super sekali mainan ini, salah satu anak naik di ayunan dan anak-anak yang lain mendorongnya sampai tinggi, nanti ia akan jatuh ke air laut dan sampai ke titik awal ia akan dilempari dengan pasir-pasir yang basah. Huuu. Hanya di kepulauan seribu kami menemukan games ini. Ada pula yang sengaja menjatuhkan diri ketika sudah di titik tertinggi, tentu saja jatuhnya di air laut dangkal. Begitu seterusnya sampai matahari sudah di barat. Sambil menunggu sunset kami duduk-duduk di jembatan kayu, puncaknya kami lompat dari situ.
Again, jihad paling pol



SILUET

Puas dengan segala yang ada kami pulang ke cottage saat adzan Magrib berkumandang dengan pakaian yang basah. Setelah makan malam dan sholat kami langsung tertidur pulas dan puas
.
3rd Day
Hari terakhir kami di Tidung tak banyak yang kami lakukan. Setelah subuh berlalu kami naik sepeda ke arah Timur (jembatan cinta) dan berharap bisa melihat sunrise disana sebagai tanda perpisahan. Sunrise pun terbentuk tak sempurna tapi bisa melihat keindahan Tuhan ini sudah cukup bagi kami.
sunrise

siluet sunrise


kaki

Kami pulang pukul 10.00 siang untuk kembali ke kehidupan nyata kami di Jawa, kembali ke Muara Angke. Tidung yang berada di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, meskipun bertitle kota metropolitan kesan Kep. Seribu ini sangatlah berbeda, bisa mengimbangi Jakarta yang angkuh dengan rutinitasnya. Semua berjalan dengan alam.
Mengunjungi Pulau Tidung bisa dibilang sesuatu, meskipun saya menulis ini sampai ribuan kata tetap saja tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaan ketika mengalaminya. Pengalaman memang indera yang terbaik untuk merasa. Tidak bisa diceritakan, hanya bisa dialami.

 Dana yang saya keluarkan disana hanya berupa biaya travel agentnya saja yaitu untuk tiga hari dua malamnya Rp 350.000,00 sudah termasuk semua fasilitas yang saya ceritakan diatas kecuali untuk permainan air berupa Banana Boat. Makan dan minum sudah dari sananya, jadi di Tidung tidak keluar apa pun lagi. Dan biaya transportasi dari Bandung ke Muara Angkenya saja. cukup worth it bukan untuk mencapai surganya air?
So #EnjoyJakarta, masih banyak tempat yang mungkin kamu belum jelajahi di Indonesia ini bahkan di ibukotanya sendiri. Tidung ini hanya seperseribu dari Kepulauan Seribu yang menyimpan mutiaranya untuk dijaga karena keindahan alamnya. Masih ada 999 pulau lain yang menunggu untuk dinikmati tapi tetep harus dijaga lho ya. 


Sosiana Dwi Ningih
seorang mahasiswa arsitektur dari Institut Teknologi Bandung

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Sunday, 30 June 2013

Menyamankan Entrepreneurship di Kampus

Posted by Sosiana Dwi On 11:43 pm
Syarat menjadi sebuah negara maju minimal memiliki entrepreneur sedikitnya 2%. Menurut data dari Menteri UKM dan Koperasi, Syarief Hasan, Indonesia baru memiliki setidaknya 1,56% jumlah wirausaha yang kalah dibanding negara lain. Walaupun begitu namun perkembangan prosentase terus menerus meningkat, ini bisa merupakan angin segar. Karena masih ada tekad untuk berkembang menjadi baik terlebih jumlah usia produktif Indonesia menempati tempat terbesar piramida penduduk.  

Berbagai cara ditempuh untuk memberitahukan pentingnya sebuah wirausaha. Beragam seminar dan training merebak di Indonesia seperti jamur di musim penghujan. Instansi pendidikan pun tak kalah dalam mendukung jiwa kewirausahaan di kalangan civitas akademika, dari mulai di berlakukannya mata kuliah pilihan Kewirausahaan sampai menjamurnya beasiswa maupun lomba bisnis. Bank pun dan pemerintah seolah ingin mengapresiasi sekaligus menampung ide mahasiswa dalam berwirausaha salah satunya dengan banyaknya fasilitas mendapatkan modal usaha yang diberikan melalui dana CSR mereka.

Menjadi wirausaha menurut Peter Drucker adalah ketika kita menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Secara etimologi wirausaha terbagi menjadi dua unsur pembentuk kata yaitu wira yang berarti pejuang, dan usaha adalah suatu proses untuk melakukan sesuatu. Jiwa entrepreneurship adalah ketika kita menjadi sosok manusia yang ingin melakukan perubahan dalam melakukan berbagai hal. Kita tak perlu terpaku pada stereotype bahwa menjadi wirausahawan adalah ketika berdagang dan menjalankan proses jual beli ekonomi karena ternyata banyak sekali bidang wirausaha itu sendiri. Sekarang ini sering dikenal adanya sociopreneur atau wirausaha untuk kemaslahatan masyarakat, technopreneur yaitu ketika kita memanfaatkan teknologi yang ada, maupun creativepreneur atau dengan cara kreatif bisa membuat perubahan. Asalkan itu adalah sebuah cara baru dan ada laba, hal itu adalah sebuah kegiatan wirausaha. Sehingga kita tak harus berkuliah di manajemen untuk memiliki usaha, semua bidang keilmuan dan keprofesian bisa memberikan jalan terlebarnya untuk kesempatan wirausaha.

Menjadi seorang entrepreneur ternyata telah melekat dalam diri mahasiswa tanpa mereka sadari bahwa mereka telah melakukannya atau setidaknya sedang melalui proses untuk menanamkan jiwa entrepreneurship itu sendiri. Ambil sebuah contoh, mahasiswa di-gembleng di kampus tidak hanya untuk diajar oleh dosen tapi juga agar dapat berkompetisi untuk membuat pembaruan bisa berupa produk barang maupun jasa. Sampai pada tahap ketika kita membuat hal-hal baru kita telah sampai pada ujung menjadi calon wirausaha. Pembaruan dan pemikiran ini akan menghasilkan ide-ide untuk mengembangkan produk tersebut bahkan untuk menghasilkan laba yang akan membawa kita menjadi wirausaha sesungguhnya.

Hal yang susah adalah bagi pemula yang merasa harus terkotak-kotakan menjadi kategori wirausaha apa. Berpikir sebagai wirausaha tidak melulu berpikir mengenai untung-rugi. Cukup berpikir menjadi seorang inovator, kreator, ilmuwan, seniman, teknokrat atau apapun yang ingin mengaplikasikan kepada pasar sudah mengkategorikan kita menjadi wirausahawan muda kampus. Asal pandai melihat peluang apa pun maka bisa ada uang. 

Untuk itu perlu ada sebuah bentuk apresiasi kepada mahasiswa tentang bidang-bidang usaha yang mereka telah jalankan. Hal ini bisa berupa penghargaan atau apresiasi, pembinaan, dan tak lupa suntikan dana dan mental untuk perjalanan usaha mereka selanjutnya hal ini terkait banyaknya usaha yang mandheg karena kurangnya modal. Dosen sebagai tempat mereka belajar bisa menjadi corong penyemangat sekaligus tutor yang nyaman bagi mahasiswa inovatif tersebut. 

Tapi hal yang paling penting adalah usaha untuk berkompetisi dan berinovasi!



Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kewirausahaan.
http://www.ciputraentrepreneurship.com/berita-ce/15068-gkn-2012-persentase-entrepreneur-naik-123.html
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/322681-menkop--jumlah-wirausahawan-ri-kalah-jauh

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Saturday, 29 June 2013

The Help (2011)

Posted by Sosiana Dwi On 5:28 pm
Untuk pertama kalinya aku ingin menceritakan apa film yang pernah aku tonton dan pengalaman ruang apa yang terjadi.  Membaca artikel semacam ini mungkin sudah seperti membeli baju di supermarket, banyak yang serupa. Dan terkadang bajunya di jual di Pasar Gedebage saking terlalu banyaknya dan beberapa diantaranya tak layak pakai. Aku hanya ingin lepas dari itu semua, well. This is my blog, and this is also my hobby. So, I hope you won't intterupt my pleasure. Haha

The Help (2011)

Film ini menceritakan tentang betapa rasisnya kehidupan di Jackson, Mississippi mengenai warna kulit. Warga kulit hitam diceritakan selalu menjadi budak di rumah-rumah kulit putih. Tak hanya itu kulit hitam diumpamakan menjadi semacam anjing, yang disayang-sayang karena kelucuan dan bisa dijadikan penjaga keamanan namun juga kadang dihinakan dengan memakainya dalam umpatan, dan sering disebut penyakitan.

Diceritakan Aibileen yang diperankan oleh Viola Davis (dan aktingnya sangat bagus) adalah kulit hitam yang menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Leefolt. Pekerjaan yang paling sering ia lakukan adalah merawat anak-anak dari majikan mereka, yang jarang terurus oleh ibu kandungnya. Total sudah 17 anak kulit putih yang ia rawat, yang pada akhirnya beberapa diantara mereka justru merendahkannya ketika mereka beranjak dewasa. Diceritakan pula Minny Jackson adalah pembantu keluarga Hilly sekaligus teman baik dari Aibileen. Minny dipecat dari rumah majikannya hanya karena menggunakan toilet rumah Hilly, yang dianggap akan menyebarkan penyakit membahayakan bagi kulit putih. Dan Wow nya adalah saking strictnya masalah toilet si menyebalkan Hilly sampai memberi tanda tissu toilet mereka dengan pensil. Hak asasi manusia untuk kulit hitam tak hanya sampai disitu, ternyata ada banyak yang mengalami hal serupa. Hal ini yang membuat Skeeter yang diperankan oleh Emma Stone, seorang kulit putih baik hati tergerak untuk menuliskan perasaan menjadi kulit hitam dalam sebuah buku. Awalnya sempat mengalami penolakan dari narasumber kulit hitam, yang tentu saja akan membuka banyak aib kulit putih yang tentu saja melanggar hukum saat itu. Mungkin sudah saking keselnya akhirnya mereka mau di wawancara itu pun secara diam-diam dengan nama samaran.

Banyak konflik dan drama yang terjadi dalam proses pembuatan buku itu, dari mulai gejolak si Hilly yang sekaligus teman baik Skeeter, ketidak sukaan kulit putih atas apa yang dilakukan Skeeter, tuduhan bohong untuk para kulit hitam dan semuanya membuat kita menyadari apa yang terjadi saat adanya apartheid dahulu kala. Terbuai emosi sih. Sampai akhirnya buku The Help yang Skeeter atas kerjasama teman kulit hitamnya lakukan muncul membuat turning point bagi kehidupan kulit hitam sekaligus kulit putih.

Dan endingnya tidak akan saya bocorkan sebelum yang baca blog ini nonton sendiri. Haha. Karena namanya juga film, gak akan seru kalau Cuma diceritakan, itu jadi bagiannya novel aja deh. Dan ternyata film ini adalah adapatasi dari novel karya Kathryn Stockett. Secara keseluruhan aku bilang film ini masuk nominasi keren versi saya. :)



sumber : https://www.google.com/search?rlz=1C1CHKB_idID505ID505&q=the+help&ion=1&bav=on.2,or.r_cp.r_qf.&bvm=bv.48572450,d.bmk&biw=1366&bih=624&um=1&ie=UTF-8&hl=id&tbm=isch&source=og&sa=N&tab=wi&ei=W7bOUYmKFo6QrgfcvYGwAQ#facrc=_&imgrc=OnWT8ALywDJqRM%3A%3BcJJdh4IFfAbSFM%3Bhttp%253A%252F%252Fpeterviney.files.wordpress.com%252F2012%252F01%252Fthe_help01.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fpeterviney.wordpress.com%252Ffilm-theatre-reviews%252Fthe-help%252F%3B1280%3B1024

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Thursday, 13 June 2013

Menjadi Berprestasi

Posted by Sosiana Dwi On 3:48 pm
Manusia-manusia kecil dalam otakku sudah lelah berkata-kata tapi jari-jari ini sedang enggan menuliskannya. Pada akhirnya banyak cerita yang hanya menjadi angin lalu saja saking ia telah lama dianggurkan. Bukan karena aku tak ingin berbagi, tapi ini bermula dari kemalasan diri.


 Aku ingin bercerita tentang sebuah fanspages asal yang aku buat bernama i-nyong Purbalingga yang sekarang aku ganti namanya menjadi i-nyong Berprestasi. Aku menyadari bahwa sebuah informasi, pendidikan dan pengalaman berharga mahal. Aku baru menyadarinya ketika itu semua baru aku rasakan atau ketika aku tidak menerimanya, ada suatu hal yang hilang dan itu adalah sesuatu yag sangat berharga lebih dari emas dan mutiara.

Ketika aku kecil aku hobi membaca dan membuka sebuah dunia yang baru, namun keterbatasan yang mengungkungku dalam suatu desa membuat bahan bacaanku tak pernah beranjak jauh. Syukurlah saat itu aku dikenalkan dengan majalah yang bernama Bobo, dari situlah aku banyak melihat dunia apalagi dunia masa kecilku. Di Bobo tentu saja banyak fasilitas yang ada di Kota dan aku tak pernah merasanya.

Menginjak usia SMP aku bersekolah di kota kabupatenku Purbalingga. Disitu aku sangat menyadari bahwa aku benar-benar kurang pergaulan apalagi di hadapkan dengan lingkungan kota. Satu semester pertama aku melalui proses adaptasi yang panjang dan cukup melelahkan sampai kata "bullying" pernah aku kecap.  Tak banyak teman-temanku dari desaku yang bersekolah di kota, sampai aku sadar ada gap antara aku yang belajar di pusat pemerintahan (walaupun itu sebuah kabupaten) dengan teman-temanku dahulu yang berada di daerah yang jauh dari keramaian.  Bisa dilihat dari hasil pencapaian prestasi yang selalu diboyong oleh sekolah kota.  Saat di SMP itu aku merasa kehilangan masa SD-ku yang jika ditelusuri bisa saja dahulu aku berprestasi, hanya saja karena kekurangan informasi di daerah desa sepertiku tak tahu apa-apa.

Dan kini ketika aku menginjakan kaki di perguruan tinggi di kota Metropolitan, Bandung aku merasa gap itu jauh bertambah banyak. Seolah-olah waktu tempuh 8 jam Bandung-Purbalingga telah menenggelamkan segala informasi. Aku tidak tahu apakah karena aku dulu kuper atau memang beginilah keadaannya. Fasilitas yang aku dapat dari kampus begitu mewah. Informasi, pendidikan, inspirasi, diskusi berjalan setiap saat. Semua berpacu asal memiliki inisiatif yang tinggi.

Berteman dengan teman baru dengan latar belakang yang beragam membuatku tersadar banyak sekali cerita di luar sana. Ada yang menggetarkan, kadang tak masuk akal, semua ada dengan probabilitas dengan nilai permutasi tinggi. Di kampus pula aku menemukan banyak orang hebat yang menginspirasi. Tentu saja mereka tidak serta lahir dengan cerita  yang luar biasa. perjalanan lah yang membuat beberapa dari mereka menjadi orang hebat. Perjalanan itu selalu berasal dari pendidikan dan pengalaman sebelumnya.

AFS Bina Bangsa, pertukaran pelajar, Forum kepemudaan, Conferences, summit, MUN, beasiswa ke luar negeri. Sesuatu yang baru pernah kudengar ketika aku memasuki pagar kampus.

Pertanyaan yang mendasar, "Kemana saja aku selama ini?"

Aku tak ingin pertanyaan yang sama selalu diucapkan kepada anak daerah sepertiku ketika menginjak dunia penuh informasi ini lalu hanya berujung kepada penyesalan yang terus menerus berulang;. Harus ada gunting yang memutusnya, harus ada yang melek dunia sebelum masa muda tercerabut berganti ke dunia yang lebih kompleks. Mumpung masih muda kita nikmati dunia dengan berprestasi, dan mumpung masih muda gunakan darah muda ini dengan pengalaman yang mendebarkan.

Awalnya aku tak tahu mau apa. Merutuk dan berandai-andai ternyata tak memberikan banyak gerakan. Untungnya dalam Indonesian Youth Forum 2013 yang kuikuti kemarin di Bandung telah mempertemukan dengan banyak pemuda yang tak hanya berandai namun juga beraksi. Benar kata Adenita, penulis buku 23 Episentrum, cara untuk mempertahankan passion adalah berteman dan memperluas jaringan dengan orang yang sepassion.

Aku bertemu dengan Siti Kholifatur R. Yang mengembangkan sebuah kegiatan  berbasis pendidikan untuk kotanya tercinta , Ponorogo. Pendidikanponoro.org dan FFI Ponorogo adalah bukti nyatanya , yang ia mulai bahkan ketika ia masih SMA. Meskipun sekarang ia sedang belajar di negeri Jiran sebuah jarak tak membuat itu sebuah masalah. Pendidikanponorogo aku terinspirasi darinya. Tak luput Ananto Indra, yang ternyata anak himpunan tetangga dengan Ayo Masuk Kuliah Indramayu-nya, membuat aku berpikir untuk memfusikan komunitas dari berbagai universitas dari beragam kota.

Malam itu aku random, berpikir iseng dengan pedoman www.pendidikanponorogo.org nya Siti , dengan tindakan yang cukup impulsif aku mencanangkan fanspage i-Nyong Purbalingga dengan nama yang tak lebih dari lima menit aku dapat. Desain logonya pun tak sampai sejam aku buat asal. Tapi malam itu juga aku bertekad untuk menyebarkan informasi pendidikan ke seluruh tanah Purbalingga. Biar tak ada lagi orang yang tak berkuliah hanya karena tak tahu ada beasiswa, bahwa ada kesempatan di luar sana yang orang tak ketahui. Agar tak semua perempuan di Purbalingga jadi buruh  rambut yang  merusakan matanya beberapa tahun ke depan, cukup aku yang berminus 5 ini merasakan. Aku ingin Purbalingga hanya bisa dicap sebagai kota mendoan, Sumanto maupun bulu mata tapi juga dikenal dengan prestasinya.Aku ingin Purbalingga memiliki anak SMA yag juga bisa exchange ke Singapore, Malaysia, Eropa dan seluruh penjuru dunia, bisa ikut conferences nasional ketika masih putih abu-abu, bisa juara debat sampai di universitas terkemuka, ikut lomba desain sampai nasional, karya tulisnya sampai ke Rusia dan mimpi terbesarku semua siswa punya kesempatan itu. 

Aku berusaha sendirian, karena takut kalau aku menunggu teman aku hanya digantungkan ketidakpastian, dan ideku hanya menjadi abu yang terbang.  Aku berharap ada teman-teman mahasiswa yang juga berpikiran sama dan mau membantu dengan saling sharing juga namun sepertinya fp ini masih terlalu dini dengan publikasi yang kurang. Baru terkumpul 139 likes dengan persebaran yang aku kira tidak mera hanya di kota saja. Padahal aku berharap adik-adik dari Kejobong, Karangmoncol, Kutasari, dll bisa bangkit bersama dengan adik yang di kota.

i-Nyong Berprestasi dengan yang bermakna inspirasi, informasi sekaligus internet sebagai cara teknologi untuk memudahakan semua orang dapat berprestasi. Aku berargrumen facebook adalah cara termurah dan termudah , dan semua anak bisa mengaksesnya. Platform facebook yang pertama kucoba, lalu kemudian twitter dan untuk kedepannya aku berharap dapat membuat website yang bisa memudahkan dalam penyimpanan direktorinya. i-Nyong Berprestasi berusaha tak hanya memberikan informasi namun juga inspirasi beberapa orang Purbalingga yang sukses.

Tapi semua itu hanya mimpiku saja adanya. Jika hanya ada satu orang yang mau berusaha,  aku hanya sebatang lidi. Aku tak akan bisa menyapu ratap dan resah ini, maka diri itu bantu aku menjadi lidi-lidi yang lain untuk menjadi sebuah sapu. Atau bantu aku menjadi obor, alih-alih hanya jadi lilin.

Semua itu bisa teman, karena berbagi informasi itu mudah, dan berpahala tentunya. :)



Salam Berprestasi,
Sosiana Dwi Ningsih
anak Bandingan, Kejobong, Purbalingga yang mengenyam pendidikan arsitektur di Menara Gading 





Jika kamu ingin terhubung dengan fanspage i-Nyong Berprestasi kunjungi link berikut https://www.facebook.com/purbalinggainyong atau follow twitternya di @inyongprestasi
Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Friday, 10 May 2013

Bike Bdg

Posted by Sosiana Dwi On 2:26 am

Kota Bandung memang dirancang sebelumnya sebagai tempat perisitirahatan bagi para meneer Belanda. Tak ayal, jalanan kota Bandung khususnya yang bagian Utara berukuran kecil-kecil. Tak pantas jika kita tilik Bandung yang kini sudah bisa dibilang kota Metropolitan dimana kendaraan beraneka rupa melintas. Dimensi kendaraan roda empat tak sebanding dengan jalanan. Maka kita akan sering melihat kemacetan tak berarti di beberapa sudut di Bandung ini.

Melintasi udara Bandung nan sejuk ini sayang jika dilewatkan melalui kaca-kaca jendela mobil. Cobalah sekali-kali melewatinya diiringi sepoi-sepoi angin yang bertiup alami di kanan kiri kita. Ya, bisa juga melewatinya dengan sepeda. Saya sempat membeli sepeda dan merasakan hal yang menyenangkan disini. Tubuh terasa bugar walaupun beraktifitas seharian, dan bisa melihat kota Bandung dari perpektif yang berbeda. Sayangnya hal ini tak berlangsung lama karena sepeda yang sudah jadi alat transportasi beberapa minggu ini hilang dicuri orang.

Kesedihan karena kehilangan sepeda ternyata digantikan oleh komunitas kreatif Bandung. Komunitas yang menamakan dirinya Bike Bdg menempatkan beberapa shelter sepeda yang bisa dipinjamkan ke pada khalayak umum. Cukup dengan menitipkan kartu identitas maka kesempatan untuk berkeliling Bandung dapat terpenuhi. Satu jam hanya dikenai tarif tiga ribu rupiah. Murah kan? saya jamin tak hanya murah yang akan Anda dapat tapi juga sehat.

Shelternya ada di beberapa titik antara lain di depan kampus ITB di Jalan Ganesha, di Balubur, di Simpang Dago, di Jalan Dipati ukur dan di Buahbatu.




Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Poster 2200

Posted by Sosiana Dwi On 1:57 am
Yea, proudly present sebuah mahakarya Sosiana di tugas terakhir di tahun akademik 2012/2013 di program studi Arsitektur.  Kyaaaa, maaf lebay rasanya. Ini bukan masalah hasil teman, tapi mengenai proses dimana aku menempatkan diriku sangat amat keras di prodi ini dengan persaingan sekelas anak-anak gajah ganesha. Awalnya megang software komputer macam SketchUp, Corel Draw, Photoshop adalah hal yang amat sangat tabu bagiku. Tapi sekarang belajar sedikit demi sedikit secara informal individu aku bisa menguasainya, ya walaupun cuma sedikit. Terima kasih Allah :).
Perspektif Interior
Perspektif Eksterior

Poster studio 2200










Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Monday, 6 May 2013

Inspirasi (Sebuah Cerita yang Belum Terungkap)

Posted by Sosiana Dwi On 12:46 pm

"Kegagalan merencanakan adalah merencanakan kegagalan,"
 
Salah satu kalimat yang sebelumnya pernah saya dengar saat mengenal planologi. Beberapa kali saya pernah mengalami tes wawancara dan beberapa diantaranya menurut saya sendir bisa dikatakan gagal hanya karena kurang perencanaan. Sebelumnya terkadang saya suka latihan berdialog dengan diri sendiri dengan pertanyaan random namun ternyata hal itu kurang mengeksplore apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan pikiran saya. Ada saja jawaban-jawaban yang karena saya kurang menggalinya terkendala unsur manusiawi manusia yaitu lupa. Pada akhirnya jawaban yang terungkap justru jawaban mainstream, buruk, yang pernah aku alami tapi bukan itu yang sangat berharga di dalam hidup saya.

Ceritanya kemarin saya yang ingin mengisi liburan 3 bulan dengan hal-hal positif mendaftar menjadi trainer untuk TPB 2013 nantinya. Setelah seleksi berkas administratif selanjutnya saya mengikuti wawancara di kantor LTPB di lantai dasar perpus pusat ITB. Beberapa pertanyaan diajukan, awalnya cukup banyak pertanyaan yang akhirnya saya jawab dengan baik. Tentunya jawaban yang memang bersumber dari saya dan "gue banget". Tapi ada beberapa pertanyaan yang harusnya mengulik riwayat hidup  dan memori-memori tentangnya entah kenapa mengabur sesaat. Saya jadi bukan say ketika menjawab tentang itu. pada akhirnya saya cukup kecewa dengan jawaban saya sendiri. Hal-hal yang berarti dalam hdup saya entah kenapa sedikit terlupakan.

Karena saya tidak ingin dikecewkan oleh diri saya sendiri sehingga menimbulkan kekecewaan yang besar ada baiknya saya menjawab pertanyaan sesi interview ini disini saja. yang penting ada yang mendengarnya. Haha.

Hal apa yang paling menginspirasi kamu?

Saya menjawab ketika membaca biografinya Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams yaitu Penyambung Lidah Rakyat.

Salah, setelah diselidik lagi  ternyata saya sangat sangat terinspirasi bahkan mencondongkan passion dan mimpi saya disana adalah ketika saya membaca sebuah tulisan yang pernah saya share ke blog ini. Berikut tulisan tersebut. Sebuah cerita yang menceritakan bagaimana sebuah proses seseorang mengajar dan akhirnya menginpirasi sesorang untuk terus belajar di Pulau Rote. Menebar inspirasi bisa kemana saja salah satu contohnya adalah ke anak-anak yang tertinggal di sudut terpencil Indonesia. Membaca cerita dari Pulau Rote tersebut hati saya langsung trenyuh dan tak terasa air mata meleleh. Dengan hal kecil yang pengajar itu lakukan ia telah membuka mata hati seorang anak sampai akhirnya ia berkuliah di ITB (Salah satu mengapa saya ingin berkuliah di tempat ini). Saya merasakan keberuntungan yang besar, dimana saya lahir di pulau Jawa dimana akses pendidikan dapat di temukan dengan mudah. Tapi ada kalanya saya menemukan seorang inspirasi yang langsung memberikan cahayanya. Dan dengan keberuntungan yang saya terima saya juga ingin membaginya ke seluruh penjuru tanah air.

Inspirasi saya yang kedua adalah cerita mengenai Prof. Yohanes Surya yang mengambil sample anak di bumi Papua. Ia mengambilnya secara random, bukan karena anak itu cerdas bukan pula karena ia adalah anak kepala suku atau bukan pula yang berkulit putig. Sekali lagi saya sebut secara random. Beliau mengambil mereka untuk kemudian diajari matematika dasar sampai matematika yang sangat lanjut selama kurang lebih 3 bulan!! Dan bayangkan seorang anak yang dulunya menghitung matematika dasar sekelas penjumlahan bernilai puluhan pun tidak bisa sekarang merupakan jawara olimpiade nasional. Tak tanggung-tanggung ia mendapatkan medali perak. Cerita selengkapnya bisa dilihat disini. Fakta yang sangat menginspirasi bukan? Mereka dengan standarisasi yang sangat berbeda jika dibandingkan di jawa misalnya bisa menjadi seorang yang cerdas luar biasa. 

Bisa dibuktikan bahwa benar kata Leonardo Da Vinci, bahwa "kecerdasan tidak dilahirkan, namun diciptakan,". Manusia lahir cerdas bukan karena gen orangtua, suku, bangsanya saja tapi juga karena usaha untuk terus menerus belajar. Ilmu itu dicipta.

Menurut salah seorang jurnalis kemanusiaan yg pernah mengisi seminar Humans (saya lupa namaya) pilar-pilar kehidupan negara itu kan ada di sudut-sudut negara. Kalau gak ada sudut negara maka negara gak akan bisa berdiri, ya kan?  Analoginya sama kaya bangunan, kalau tidak ada kolomnya maka ia tidak akan berdiri kokoh. Nah sudut-sudut itulah yang kita kenal dengan pelosok bangsa ini, yang justru malah terlupakan dan terkucilkan.

Untuk itulah cerita-cerita diatas sangat menginpirasi bagi saya. Menjadikan salah satu passion saya selama ini bahkan menuliskannya dalam mimpi saya. Menjadikan itu sebagai bahan pertimbangan mau masuk arsitektur atau planologi. Dan akhirnya saya lanjut ke arsitektur karena saya ingin mendesain sekolah yang saya ciptakan bagi anak di sudut tanah air ini. Sekolah yang sama bagusnya dengan yang ada di Jawa dengan tingkat prestise yang sama besarnya dengan SBI atau boarding school. Semua dengan desain dan pemikiran saya.

Hal apa yang pernah membuat orang lain terinspirasi dari kamu? (Pertanyaan yang lengkap saya lupa tepatnya)

Saya menjawab sesuatu yang sangat abstrak dan kesannya sangat dipaksa bahwa ada yang terinspirasi.

Setelah dipikir pun saya tidak tahu bagian mana yang telah membuat orang lain terinspirasi dari saya. Seyogyanya saya belum pernah mengadakan kuisoner mengenai hal ini kepada orang-orang di sekitar saya dan saya belum pernah mendengar cerita orang yang sangat terinpirasi. Mungkin hasil dari insirasi baru bisa keluar beberapa tahun kemudian seperti cerita Dari Pulau Rote. Tapi saya selalu berusaha untuk berpikir positif dan menceritakan segala pengalaman yang saya lakukan. Saya senang mengajari adik-adik saya di Astronomi SMA, supaya mereka lebih hebat dari saya atau mas-mas lainnya (walaupun belum bisa lolos nasional), saya senang saat becerita di hadapan ratusan anak SMA saat sosialisasi ITB ke sekolah dan menceritakan bahwa ITB ini dan itu. saya senang ketika ada anak yang akhirnya mau mendaftar ke ITB walaupun menanggap ini tantangan besar yang harus ditaklukan. Saya senang mereka bisa sama bersemangatnya seperti saya dahulu. Saya senang. Saya tidak tahu ini inspirasi atau bukan tapi saya selalu ingin membagi cerita apalagi semangat yang saya punya.

Walaupun begitu ada sesorang yang entah mengapa mengatakan ia terinspirasi dari saya walaupun saya menanggap itu bukan suatu hal yang biasanya patut dijadikan inspirasi. Saya mengaggap itu adalah apresiasi. Terima kasih atas hal itu. Dimulai dari wawancara ini saya ingin selalu menebar inspirasi meskipun itu hal sederhana saja.

Ada beberapa pertanyaan yang saya lupa untuk dituliskan. Namun kedua hal diatas adalah hal yang menjadi unek-unek hati karena belum berhasil diungkapkan. Ke depannya jika kamu ingin sukses di wawancara kamu harus sering berkontemplasi dan mengerti diri kamu seberapa besar. 

Mengerti diri sendiri adalah hal yang lebih penting sebelum mengerti orang lain. 


Selamat Pagi,

dan Semangat Menginspirasi :)



Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Wednesday, 24 April 2013

101 Fakta Mahasiswa ITB

Posted by Sosiana Dwi On 8:23 pm

1. Mahasiswa ITB itu merasa membuat laporan praktikum adalah hal yang lebih menyebalkan daripada ujian
2. Mahasiswa ITB itu sebelum masuk kuliah, sms teman dulu. Kalo ada kuis, masuk, kalo gak ada, ya gak masuk
3. Mahasiswa ITB itu kalo gak mandi gak ketauan
4. Mahasiswa ITB itu mandinya 2 hari sekali. Yang mandinya sehari 2 kalii, berarti gak gaul.
5. Mahasiswa ITB itu kalo mau UTS jadi agresif
6. Mahasiswa ITB itu tidak takut dengan orang gila bernama Dona yang berkeliaran di kampus
7. Mahasiswa ITB itu sukanya cewe-cewe dari SITH ama SF
8. Mahasiswa ITB itu sukanya cowo-cowo dari FTTM ama FTMD 
9. Mahasiswa ITB itu sukanya maen game online. Yang gak maen, berarti gak gaul
10. Mahasiswa ITB itu paling suka arak-arakan pas wisudaan
11. Mahasiswa ITB itu ngerasa keren kalo pake jaket himpunan jurusan masing-masing
12. Mahasiswa ITB itu kalo ulang tahun mesti diceburin ke intel
13. Mahasiswa ITB itu gak suka sama salah satu unit rektorat bernama K3L
14. Mahasiswa ITB itu kalo kuliah telat berarti baru bangun
15. Mahasiswa ITB itu kalo ngekos suka bawa kendaraan ke kampus yang bikin macet
16. Mahasiswa ITB yang gak ngekos biasanya anak baik-baik
17. Mahasiswa ITB yang pulang malem-malem berarti baru beres praktikum, main di Sunken Court, atau beres rapat di himpunan/unit (kadang sampai subuh)
18. Mahasiswa ITB itu ampir gak pernah pake jaket almamater. 
19. Mahasiswa ITB itu gak bisa bawa motor ato mobil ke dalem kampus. Yang bisa berarti gahul! (kalo ngga ortunya dosen)
20. Mahasiswa ITB itu “biasanya” nyontek kalo soal ujiannya PG
21. Mahasiswa ITB itu kalo UTS, belajarnya H-2 atau H-1. Yang belajar kurang dari itu, berarti DEWA
22. Mahasiswa ITB itu kalo pagi-pagi banyak antri di tempat fotokopian atau tempat ngeprint
23. Mahasiswa ITB yang baru naik tingkat 2 pasti nanya “kapan pelantikannya?”
24. Mahasiswa ITB yang non-himp pasti aktif di unit (kalo gak juga berarti Study Oriented banget)
25. Mahasiswa ITB cuma pake kemeja rapi saat seminar tugas akhir
26. Mahasiswa ITB suka manjangin rambut dan saat menjelang seminar tugas akhir mulai dicukur habis
27. Mahasiswa ITB itu yang naik angkot Kalapa-Dago mayoritas berenti di BIP (buat hepi-hepi kali)
28. Mahasiswa ITB itu yang lulus nyerempet2 akhir pasti aktifis kampus
29. Mahasiswa ITB itu yang aktif banget di unit biasanya jarang kuliah
30. Mahasiswa ITB yang make laptop dipojokan biasanya lagi maen game online
31. Mahasiswa ITB itu pahanya kuat-kuat karena sering naik turun tangga 
32. Mahasiswa ITB itu kalo hari Jumat suka pilih-pilih Masjid
33. Mahasiswa ITB itu kalo hari Jumat sore suka cepet-cepet pulang (buat balik ke kampung)(ini mah yang rumahnya deket)
34. Mahasiswa ITB itu kalo hari Jumat suka shopping di depan Masjid Salman
35. Mahasiswa ITB itu agak jorok sama sekre himpunannya masing-masing
36. Mahasiswa ITB itu paling sibuk hari Minggu malem
37. Mahasiswa ITB itu suka pilih-pilih SKS biar dapet tambahan hari libur
38. Mahasiswa ITB itu sering stress
39. Mahasiswa ITB itu paling sensitif ditanya IP semester kemarin
40. Mahasiswa ITB itu IPnya suka jatoh di tingkat 3
41. Mahasiswa ITB itu merasa jam bergerak lebih lambat saat sedang kuliah
42. Mahasiswa ITB itu merasa kalo hari Sabtu sangat cepat berlalu
43. Mahasiswa ITB itu paling seneng nge-bully dan ngeceng junior
44. Mahasiswa ITB itu suka ngegosipin dosen
45. Mahasiswa ITB itu paling semangat kalo lagi kompetisi olahraga (sampe kadang bolos kuliah)
46. Mahasiswa ITB itu paling seneng nge-tweet
47. Mahasiswa ITB yang sudah berpenghasilan biasanya lulusnya lama
48. Mahasiswa ITB itu seneng bikin event besar di kampus
49. Mahasiswa ITB itu paling anti menjawab pertanyaan “Malem udah belajar?”
50. Mahasiswa ITB di atas tingkat 2 selalu merasa ingin kembali ke TPB 
51. Mahasiswa ITB paling males kuliah di gedung dengan nomor 913* atau 923*
52. Mahasiswa ITB suka menginjak rumput (karena rumput ada untuk diinjak)
53. Mahasiswa ITB paling pintar menggunakan rumus Pythagoras (untuk jarak terdekat ke gedung kuliah)
54. Mahasiswa ITB yang berprestasi biasanya ditempel poster raksasa di gerbang ganesha (biar eksis)
55. Mahasiswa ITB suka “curhat” di mading
56. Mahasiswa ITB biasanya menghindar dengan mas-mas dan mbak-mbak greenpeace di gerbang depan
57. Mahasiswa ITB itu suka ngerumpi setiap habis kelas besar
58. Mahasiswa ITB itu kadang merasa bosan dengan papan tulis kapur
59. Mahasiswa ITB itu jarang demo
60. Mahasiswa ITB gak ada yang kuliah di gedung ITB yang besar di jalan Taman Sari
61. Mahasiswa ITB itu gak ada yang berani nurunin boneka beruang di pohon jalan ganesha
62. Mahasiswa ITB itu terbiasa dengan aroma tai kuda
63. Mahasiswa ITB itu sering mendengar teriakan monyet dari kebun binatang sebelah
64. Mahasiswa ITB itu kalo buka laptop di kelas biasanya buka facebook
65. Mahasiswa ITB itu kalo aktif di organisasi, biasanya pendiam di kelas (berlaku sebaliknya)
66. Mahasiswa ITB itu suka galau
67. Mahasiswa ITB itu suka nge-geng
68. Mahasiswa ITB itu suka jualan roti bernama Ciwawa (yang mana sih?) sekarang udah ganti merk
69. Mahasiswa ITB itu hampir tidak pernah mengunjungi perpustakaan pusat setelah tingkat 2
70. Mahasiswa ITB yang tingkat 4 kadang menghilang dari peredaran
71. Mahasiswa ITB itu suka rapat
72. Mahasiswa ITB yang pake jaket almamater pasti ditanya, “abis ada acara apa?” atau “Anak KM nih ye!”
73. Mahasiswa ITB itu rajin bikin group di facebook
74. Mahasiswa ITB itu suka beli game bajakan yang menyebar merata di depan kampus dan belakang kampus
75. Mahasiswa ITB itu lebih rajin mendonlot film di kampus daripada belajar
76. Mahasiswa ITB itu “membenci” hewan bernama cumi
77. Mahasiswa ITB yang pake baju kegedean biasanya anak kuper
78. Mahasiswa ITB yang pake baju kekecilan biasanya anak gahul
79. Mahasiswa ITB itu kalau hari Senin suka antri di loket beasiswa
80. Mahasiswa ITB itu rajin nyari beasiswa
81. Mahasiswa ITB itu kalau nilainya jelek suka nyalahin dosennya
82. Mahasiswa ITB itu merasa kalau beli buku text asli, berarti orang kaya
83. Mahasiswa ITB itu biasanya hampir tidak pernah nyuci jaket himpunan
84. Mahasiswa ITB itu suka hedon setelah dapat uang kiriman
85. Mahasiswa ITB itu punya cara pacaran yang aneh
86. Mahasiswa ITB itu biasanya bisa membedakan mana yang anak ITB dan mana yang bukan 
87. Mahasiswa ITB itu merasa pake sendal ke kampus adalah hal yang lumrah
88. Mahasiswa ITB itu selalu PDKT sama dosen di awal tingkat 4
89. Mahasiswa ITB itu selalu bahagia kalau sudah kuliah lapangan
90. Mahasiswa ITB itu menyelesaikan tugas pada saat H-1 jam atau H-10 menit
91. Mahasiswa ITB itu selalu mengerjakan tugas sehari sebelum hari-H, seberapa lamapun waktu yang diberikan untuk mengerjakannya
92. Mahasiswa ITB itu selalu datang ke tempat fotokopian sehari sebelum ujian
93. Mahasiswa ITB itu suka berantem sama rektorat
94. Mahasiswa ITB yang Study Oriented jarang dapet nilai A di mata kuliah olah raga 
95. Mahasiswa ITB suka melabil di tingkat 3 antara jadi SO atau Aktifis
96. Mahasiswa ITB punya KTM dengan foto yang dapat dipastikan jelek
97. Mahasiswa ITB itu merasa nganterin cewe pulang malem-malem adalah hal lumrah (yang sulit dihindari 
   )
98. Mahasiswa ITB itu kalau nginep di kosan temen biasanya belajar 10 % sisanya ngerumpi dan main
99. Mahasiswa ITB itu paling benci kuliah jam 7 pagi
100. Mahasiswa ITB itu sebenarnya manusia biasa (juga mahasiswa biasa)
101. Mahasiswa ITB itu kalau baca notes di facebook, biasanya selalu komen 


Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia
  • Contact us

    Sosiana Dwi Architecture 2011 Bandung Institute of Technology