Wednesday, 13 June 2012

Tiga Teman Seperjuangan

Posted by Sosiana Dwi On 9:20 am

Selamat malam dunia, 
dan selamat datang pagi di dunia baru Sosiana...

Akan aku suakan salam kehangatan bagi catatan kecilku yang telah menemani aku dalam beberapa masa labilku. Beberapa bulan terakhir ini aku mengenal dengan namanya beragam perubahan yang signifikan. Salah satunya adalah ketika harus lepas dari catatan. Kesibukan atau kesoksibukan membuat sangat terbatas waktu yang disisihkan untuk mengenang dan merumuskan perihal yang terjadi di hati. Sebagai mahluk yang ekstrovert aku merasa momen seperti ini lah yang hilang padahal momen inilah yang mengasyikan. Aku sendiri tidak mengerti yang aku bicarakan dan aku hanya berusaha merumuskan beberapa pikiran yang baur antara senang, sedih, kecewa, putus asa, emosional hingga absurda dari mulai kevakumanku dalam menulis. 

Selama ini aku dikenalkan pada dunia kuliah dan kebebasan. Suatu udara yang membuat aku jungkir alik mati-matian berubah tapi membuat aku lepas. Keadaan dimana aku bisa mencari jati diri dengan utuh tanpa berbenturan dengan paradigma orang lain. Aku mulai mengenal hal yang dulunya gelap dan tabu bagi aku tapi aku menikmatinya. Aku mengenal jiwa-jiwa baru pemandangan yang indah. Spirit baru, orang baru, pengalaman baru, kota baru dan beragam masalah baru. Dalam kebebasanku aku sering halnya tidak merasakan orang lain ada pula yang tidak memiliki kebebesan dan dari hari itulah aku merasakan ada ketidaknyamanan. 

Seperti terlahir kembali ke dunia aku juga masih meraba-raba. Lingkungan fakultas dan pendidikan dari sekolah arsitektur, perancangan dan pengembangan wilayah yang memang aku sukai begitu mendidikku dengan pemikiran baru. Mencari permasalahan adalah tugas wajib yang efek sampingnya malah menjadi task buat kami orang terdidik. Penggemblengan kalkulus, kimia fisika (walau secara tidak langsung) menuntun aku berdiri namun bekal kemanusiaan membuat aku banyak berjalan. Inilah memang tugas manusia untuk berjalan dan menemukan tujuan yang sadar atau tidak kita sedang menuju ke arahnya.

Inilah tantangannya dan dalam menemukan tantangan itu aku dikenalkan pada tiga orang yang sangat random saling berkaitan dan berkenalan dengan hidupku. Mereka aku kenal dengan kehebatannya sebagai diri mereka sendiri. Herawan dengan keberbedaanya dalam hal branding, Siti dengan ibusentris dan prestasinya, Bastian dengan yah seperti yang Siti sebut ensiklopedi berjalannya dan kami dengan kecocokan yang saya tidak pahami. Kami hanya orang biasa saja yang karena cocok menjadi meyatu satu sama lain. 

Kevakumanku menulis notes ini cukup terwakilkan dengan mangatakan bahwa selama ketidak produktifanku terisi dengan tiga orang tadi. Mereka lah yang mengajariku berjalan meski belum pernah berancang-ancang berlari. Tapi apalah arti hidup hanya untuk diam? Perubahan dibentuk karena perpindahan.

Satu yang cukup menorehkan inspirasi dihatiku ketika NFEC 2012 lalu di Sampoerna Foundation, "Bambu selama tiga bulan pertama hanya akan tumbuh sebagai rebung, namun tiga bulan kemudian dia akan menjadi bambu sepanjang lima meter," Kami sedang menumbuhkan bambu teman namun kami masih underground . Yang kami yakin suatu hari kita akan bertunas dan bercokol di bumi pertiwi yang kaya akan bambu ini. :)

Bandung, 13 Juni 2012 


Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Sunday, 10 June 2012

Rekam Jejak Kebangkitan 100 Pemuda

Posted by Sosiana Dwi On 6:23 am

NFEC (National Futute Educator Confetences) 2012 suatu acara yang concern ke dunia pendidikan, aku mengikutinya dengan tidak sengaja. Ada suatu email yang menginfokan acara ini padahal aku tidak meng-subscribe event atau organisasi apa pun di emailku. Mungkin ini adalah suatu kebetulan yang indah yang tidak akan lupa aku syukuri karena mendapatkanya. Setelah mendaftar ke acara tersebut aku berharap bisa mendapatkan banyak dari acara ini. Terlebih salah satu passion yang aku ingin gali adalah dari dunia pendidikan. Di masa yang paling labilku sekali pun aku punya banyak passion yang belum aku temukan fokusnya dan berharap dengan ikut partisipan dari youth ESN akan memantapkanku pada jalur pendidikan. Singkat cerita aku lolos ke NFEC 2012 walau pun dari daftar tunggu peserta yang tidak jadi ikut. Tak surut langkahku, aku berpikir aku harus ikut dan berkontribusi lebih walaupun sekecil apa pun langkah yang aku berikan itu.


9 Juni 2012, tepat jam 09.00 rangkaian acara NFEC 2012 dimulai. Aku datang terlambat karena ada insiden ketinggalan travel dan keblabasan. Oia, acara dua hari satu malam itu berlangsung di Sampoerna School Education dan Sampoerna School Bussiness yang terletak di Pancoran, Jakarta. Acara telah dimulai saat aku datang, lalu segeralah kami mengeluarkan jargon NFEC 2012 kali ini yaitu : Muda, Mendidik, Membangun bangsa! Jargon tersebut disertai gerakan yang membuat kami merasa terlecut semangatnya untuk mengapresiasi jargon tetsebut secara nyata.

Setelahnya masuk ke dalam acara plenary 1 dengan tema pendidikan sebagai kunci pembangunan bangsa. Pematerinya adalah Ahmad Rizali yang menyampaikan cerita tentang tantangan pendidikan di masa depan. Dengan memaparkan fakta-fakta yang terjadi di Indonesia kini dari mulai kondisi alam dunia dan Indonesia sampai ke kondisi SDM Guru yang ada sekarang ini.

Dalam plenary yang kedua Adenita (@Adenitaa) , MC, penyiar radio, sekaligus penulis dari Sembilan Matahari dan 23 Episentrum memberikan pendapatnya tentang melangkah dengan hati, passion, dan tentunya cinta. Sesi ini adalah sesi yang menyenangkan dengan kata-kata pengantar semangat yang penuh cinta dari ibu cantik ini.

"Passion lead to succes," ujarnya saat menjawab apa bedanya orang yang sukses dengan yang tidak. Beberapa contoh orang ia ceritakan dari yang mulai berbackground pendidikan teknik dan berpassion kuat ke dunia seni sampai yang melakukan pekerjaan tapi upah yang besar. Segala sesuatu yang dilakukan dengan hati pasti tidak akan membuat lelah dan capek. Karena ketika profesi dibungkus dengam cinta maka akan menghasilkan mahakarya yang tak terduga. Banyak inspirasi yang ia bubuhkan dalam gaya bicaranya yang santai dan tenang. Bertemu dengan orang sepertinya tak akan kusia-siakan dan tak akan ku lepas dalam jejak langkah hari ini.

Setelah mengikuti dua sesi yang luar biasa tiba saatnya kita dikelompokan pada beberapa tema yang telah dipilih. Tema yang aku dapat adalah Green Economy, salah satu tema yang menarik bagi aku yang ingin berkecimpung di dunia lingkungan dan arsitektur. Pembicara adalah orang-orang yang terpilih, mereka adalag Gigih Iman Nugroho dan Achmad Solikhin dari kehutanan IPB. Dua orang tersebut adalah orang yang concern terhadap lingkungan hidup dan telah berkontribusi langsung di dalamnya. Gigih bercerita tentang pengalamannya menjadi jurnalis di Bali. Yang membuatnya merasa aneh adalah ketika ia melihat banyak asing yang justru lebih peduli terhadap sampah di Bali yang telah menggunung. Jepang lah asing yang turun sebagai malaikat tersebut. Dengan permainan edukasi berlabel Bali Eko Karuto ia mengajak anak-anak belajar paham terhadap lingkungan. Sedangkan Imam berkisah proyek penghijauan hutannya melalui anak-anak. Dari Jepara ia mulai merintisnya menanamkan paradigma jika menumbuhkan pohon tak hanya akan menghijaukan bumi namun juga sebagai investasi yang bisa bernilai profit. Banyak lagi cerita orang hebat pioner pergerakan hijau tersebut. Ikut mendengarkan semangat mereka seakan menyiram dan memupuk keinginan di hatiku juga untuk melakukan hal serupa.

Pukul 13.00 kami memulai sesi talkshow dengan narasumber yang boleh dibilang sangat memotivasi di bidang masing-masing. Semua dirangkum dalam kata "we know, we plan, we act,". Kaget juga melihat wajah-wajah artis datang kali ini. Ada Imelda Fransisca, Miss Indonesia 2005, Leo Moko yang mungkin akan lebih dikenal dengan Leo AFI, Nadia Sangga Putra dari Surabaya goes to school, dan komunitas historia Indonesia yang digawangi oleh Asep Kambali, aktifis dan juga guru sejarah. Talkshow berjalan meriah dengan topik dan cerita hidup yang mereka bawa. Bagaimana ternyata Imelda yang cantik dan anggun itu pernah menjadi siswa yang dibully dan menderita anorexia. Bagaimana UNESCO bisa mengubah passion Leo untuk bergerak di dunia kepemudaan. Perjuangan sebuah komunitas belajar di Surabaya Goes To School dan betapa susahnya meyakinkan orang untuk mencintai sejarah negerinya di bawah panji nasionalisme. Sesi ini penuh dengan tepuk tangan dan terasa dalam tepukan tangan itu ada harapan-harapan perubahan. Dan perubahan itu bermula dari perkembangan melalui pendidikan. Pendidikan dapat mengubah segalanya, dan guru adalah agen perubahan itu.


Hari ini Sabtu, 9 Juni 2012 ada 100 pemuda berkumpul dan menjalani pertemuan yang sangat luar biasa ini. Banyak yang bisa diceritakan tanpa harus dituliskan. Aku memilih tidak mengabadikan diri dan acara dengan foto-foto. Aku merekam jejak hari ini dengan tulisan sederhana yang aku persembahkan untuk orang yang mungkin tidak ikut dalam acara namun juga ingin merasaka euforia yang juga aku dan teman-teman disini rasakan. Sungguh satu hari ini semangatku melecut-lecut dan aku dapat terus menerus tertawa lepas. Bertemu dengan kepala-kepala penuh ide, sharing tentang project mereka yang sungguh luar biasa, banyak latar belakang pendidikan yang dibawa dan keberagamaan itu tampak indah jika dirajut dan diintegerasikan dalam satu Indonesia. Aku yakin beberapa tahun ke depan 100 orang yang datang hari ini akab menjadi wakil dari ide-ide mereka dan akan menjadi salah satu tiang pancang yang akan merubah Indonesia. Ini bukan kearogansian semata tapi sebuah doa.


Jika Soekarno berpendapat "Beri aku 10 pemuda maka aku akan mengguncang dunia," maka aku pun yang satu almamater dengannya dapar berkata, " Telah kami berikan 100 pemuda Indonesia, dan kami siap membeli alam semesta,"


Jakarta, 10 Juni 2012

Salam,


NFEC 2012

Muda, Mendidik, Membangun Bangsa


Published with Blogger-droid v2.0.4

Wednesday, 16 May 2012

UP UP and UP

Posted by Sosiana Dwi On 1:16 pm

Aku tak mengerti pada apa yang terjadi padaku semester ini. Ingat tulisan berjudul Resolusi 2012-ku? Tak ada satu pun yang terlaksana dengan benar. Nilaiku anjlok jatuh dari langit. Aku mesti UP untuk memperbaikinya. UP disini adalah arti bahasa Indonesia yang sebenarnya, Ujian Perbaikan.  Aku tak yakin dapat meningkatkan IP semester ini. Aku tak yakin pula aku dapat cumlaude seperti yang aku impi. Aku tak yakin semua usaha berhasil di semester ini. Dan di penghujung Mei ini aku menyesal kepada diri sendiri.
Apa yang telah ku lakukan terhadap 24 jamku? Padahal semua teman-temanku sama denganku, kami diberi beban SKS yang sama, waktu yang sama, kuliah yang sama, tekpres yang sama, tugas yang sama juga. Walaupun aku tahu otak kami masing-masing telah berbeda. Apakah ini menjelaskan IQ-ku memang jongkok. Aku tahu IQ ku tidak seberapa dengan rata-rata anak ITB lainnya tapi biasanya aku bisa survive dengan keadaan under pressure ini. But now? Aku kalah pada kenyataan.
Tidak-tidak, aku akan mencoba memperbaiki dan menganalisis apa yang terjadi pada aku. Meskipun nanti jatuhnya aku cuma ngeles belaka. Pertama aku sepertinya sudah lelah dengan system ini. Bodohnya , aku menjadi tanpa usaha dan begitu saja menyerah. Aku tahu ini tidak baik walaupun patokan IP itu tidak penting bagi aku. Tapi perjuangan mendapatkan IP itulah yang penting, apakah aku memang sepenuhya telah bekerja keras atau aku hanya menjadi pemalas. Proses dari perjuangan ya itu adalah hasil. Sekarang ini aku melihat hasilku dan semuaya buruk. Berarti aku tak benar-benar melakukan hal yang semaksimal aku bisa. Aku gagal kawan! aku malu pada semua janji yang aku tulis. Kedua aku telah besar kepala karena semester awalku telah cukup bagus. Dan ketiga sepertinya aku telah sedikit terbawa suasana arus lingkungan, yang aku tidak bisa menolaknya. Seven habits yang dulu pernah aku dapatkan, yang digadang-gadang sertifikatnya seharga 5jutaan tidak berguna kali ini. Tetap saja aku menjadi seorang yang reaktif. Tetap saja aku lupa pada put first thing first. Aku ahkan lupa bagaimana 7 cara itu bisa melekat ke yang namanya kebiasaan. Huft, biarkan aku menghela nafas selama menuliskan ini. Lelah kawan meratapi perasaan bersalah yang muncul bertubi-tubi.

They may say , That I’m dreamer. But I’m not the only one,”

Tidak hanya aku yang seorang pemimpi. Semua orang punya mimpi dan semua punya usaha untuk melaksanakannya. Bahkan satu sama lain punya mimpi yang berbenturan. Dan siapa pula coba yang tidak ingin jadi pemenang atas mimpinya? Tidak ada. Bahkan termasuk aku. Aku ingin jadi pemenang atas mimpiku yang pasti telah diperebutkan oleh orang lain.
Dengan usahaku yang begini-begini saja apa yang aku dapat seterusnya? Kekecewaan. Harusnya kecewa dirasakan oleh siapa saja, aku ingin merasakannya dengan sangat supaya aku menjadi jera dan tak akan lagi keledai yang seperti aku saat ini. Aku ingin dan aku telah.
Tuhan , selama 2012 ini masih berjalan izinkan aku memperbaiki yang telah aku janjikan. Biar tidak ada sesal dan sesak. Aku lalai di pagi hari. Tapi aku akan kuat di sisanya.

Bandung, 16 Mei 2012



Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Saturday, 12 May 2012

All Dream can be Reached in Our Boundaries

Posted by Sosiana Dwi On 9:23 am

TEDx Unpad, 12 Mei 2012
Bertema “Dream Beyond Bounderies”

10.00-15.00 di Ruang Serba Guna Rektorat Bandung , Jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung, Jawa Barat
Acara dibuka dengan tembang sunda yang menyentuh. Meski pun tidak bisa memahami maksud dari lagu tapi aku bisa merasakan kalau itu adalah karya seni yang hebat. Seorang anak kecil di dampingi seorang wanita muda menyanyi lagu sunda dengan mendayu-dayu diiringi siter. Lalu acara dimulai dengan pembicara pertama yaitu Lutfi Adam, dosen Jurnalistik dari UNPAD. Ternyata dosen ini masih sangat muda untuk ukurannya sebagai dosen. Ia adalah aktivis dari sanggar sunda bernama Motekar. Sanggar tersebut berlokasi di Jalan Kolonel Ahmad Syam 152, Jatinangor Bandung. Sanggar ini berdiri pada ahun 1984 oleh Supriyatna. Dari data yang speaker berikan ternyata dari 10 remaja hanya 3 remaja yang mau melanjutkan dedikasinya untuk sebuah seni tradisional.  Salah satunya adalah pemain siter yang ternyata masih SMP dan bocah pendendang lagu sunda tersebut yang berumur 9 tahun. Yayasan ini bermimpi jika mereka dapat tumbuh menjadi sanggar yang profesional, dimana profesional tersebut adalah setiap anggota disana berkecimpung sebagai sebuah pekerjaan bukan hanya hobi. Masalah kultural mendera sanggar tersebut.

“Mereka lahir dari budaya namun mereka pun tumbang karena budaya mereka sendiri.”

Setiap ambisi dan hasrat mereka diabatasi setiap pepatah sunda pula. Yang kurang lebih menyatakan jika bermimpi hendaknya jangan terlalu muluk-muluk. Kang Luthfi menyatakan ironi ini. Jangan sampai budaya sendiri kita buat namun kita tidak pernah melestarikannya, begitulah kira-kira pesan dari beliau.
Speaker kedua adalah Kunto Adi , salah satu dosen filsafat di UNPAD. Filsafat sendiri adalah ilmu yang mempelajari sebuah hasrat, keinginan, mimpi dan bahkan banyak yang menyebutnya klenik. Filsafat itu ibarat berdialog dengan diri sendiri dan itu akan melelahkan karena setiap pertanyaan itu kita jawab selalu ada pertanyaan lain mengenai hal itu tumbuh. Salah satu pepatah lama “Corgito ego sum” aku berpikir maka aku ada.

“Hasrat itu bagaikan Black Hole ungkap dosen ini. Karena hasrat itu akan menyedot apa saja tanpa bisa kita cegah.

Sehubungan dengan mimpi kita kadang terlalu tinggi bermimpi. Apalagi ketika America telah mengolah semua mimpi absurd manusia ke dalam layar emasnya. Meskipun begitu mimpi adalah salah satu efek kegilaan manusia yang tidak akan bisa dicegah oleh siapa pun. Batas-batas dari mimpi adalah yang kita sebut dengan rasio.

“Mimpi itu kaya Rosul, karena mimpi akan selalu menuntun  pikiran manusia”

Speaker keempat  yaitu Ainun Chomsum (@pasarsapi), pendiri dari Akademi Berbagi.

“Memberi kaki pada mimpi sebuah cerita tentang akademi berbagi”

Setiap orang mempunyai mimpi , tapi apa yang membedakan antara mimpi kita dan orang lain adalah diwujudkan atau tidak. Dan bagaimana mewujudkan mimpi, pertanyaannya adlah mau tidak mewujudkannya. Membuatnya sesuatu itu menjadinyata. Belajar adalah tahap pertama mewujudkan mimpi. Wajib belajar  9 tahun itu ungkapan yang aneh di negeri ini karena belajar itu harusnya dari kecil sampai kita mati. Bedakan antara belajar dan sekolah, kita bisa belajar di mana saja. Ilmu di luar itu banyak sekali. Ilmu manusia itu hanya setitik kuman diantara alam semesta. 

Belajar adalah salah satu cara merendahkan hati kita dan meningggikan mimpi kita. “

“Kerjakan sekarang juga! Karena tidak mau dan tidak bisa itu berbeda! Kalau kamu mau apa pun bisa! “ itu nasehat dari ibu Ainun. Mempunyai teman yang punya semangat dan antusias yang sama mempermudah wujudkan mimpi. Tidak ada kesuksesan yang berdiri sendiri, pasti ada teamwork di dalamnya. Networking! Dalam berjejeraing tidak hanya mimpi kita yang terwujud, tapi juga kita bisa membangkitkan mimpi mereka secara bersama-sama.
Ceritakan mimpi mu, karena semua agama di bangun dari alkitab yang di dalamnya mempunyai banyak cerita dan sukses mempunyai pengikut hingga kini.

“Ketika kita bercerita tentang mimpi kita maka kita akan mempertanggungjawabkan mimpi kita ,dan dapat menggerakan kita membuat orang lain terinspirasi.”

 Mimpi yang jelek itu adalah mimpi yang tidak bisa di wujudkan.  Akademi berbagi berdiri karena 140 karakter di twitter. Simpel di duplikasi, sesuai kemampuan bermanfaat , tujuan yang jelas, value yang kuat  yang bisa dijaga dan kita bisa happy untuk melakukannya. Kalau ada kemamuan pasti ada mimpi yang besar. Kalau kita merasakan manfaatnya kita bisa bersemangat apalagi orang lain yang mendengarnya. Tujuan harus jelas. Value tidak akan berubah. Kalau kita happy sesusah apa pun kita bisa melakukannya.
Setiap orang punya mimpi tetapi apakah setiap orang berani mewujudkannya mimpinya.
Tantangan terbesar adalah diri sendiri,

“Kamu tidak akan bisa mengubah dunia kalau kamu tidak bisa merubah diri sendiri, kita hanya bisa menyalahkan lingkungan saja itu namanya pengecut,”

Waktu adalah masalah terbesar kita, tapi kita pun tidak akan mendapatkan waktu 24 jam dari orang lain. Setiap orang punya 24 jam waktu yang sama sehingga perbedaan kita dan orang lain adalah untuk apa 24 jam kita itu. Hanya waktu yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa di tarik kembali.,
Komitmen dan konsistensi, mejnaga keduanya itu sangat berat. 100 orang bisa mengubah negeri ini, tidak perlu banyak orang. Akademi berbagi adalah tempat untuk menjaga konsistensi dan komitmen kita. IP ga akan dilihat oleh siapa pun tapi komitmen dan konsistensilah yang akan dilihat.
“Berilah kaki pada mimpimu agar turun ke bumi dan berlari, jangan biarkan di awang-awang kemudian terbang dan hilang. Pecahlah mimpi itu sehingga kita bisa menyusunnya menjadi mimpi yang besar. “

Pembicata selanjutnya adalah Kirana agustina (@kiranya) yang sangat menginspirasi karena pengalaman-pengalaman yang tumbuh karena ia telah bermimpi.

Dream On , “if you can dream it, you can do it”

Dream Catcher , saya tidak ambisius hanya saja saya ingin merasakan mimpi saya.
Pembicara terakhir adalah Imam Usman /@imanusman (HI UI), mahasiswa berprestasi dari UI dan pendiri dari Indonesian Future Leader.  Umurnya 20 tahun, dan sedang merasakan tahun ketiga kuliah. Anak-anak senang bermain, seperti dia juga. Namun pada saat itu ia menjadi banhan olok-olokan teman-temennya. Terjadi bertahun-tahun lamanya tindakan bullying tersebut. Namun ia bangkit ketika ada relawan yang mengenalkan dia pada “ Just do by your self, just do it”.

Berapa pun orang yang menjatuhkan kita, itulah dorongan bagi kita. “

Relawan, membuat banyak keajaiban. Apa pentingnya menjadi relawan? 355.200 adalah total penduduk miskin di Jakarta. 3, 64% dari total populasi. Masalah di jakarta banyak sekali dari mulia kriminal, pendidikan, akses publik. Pendekatan yang ada di Jakarta selalu hanya dari pemerintah padahal studi itu menunjukan kalau partisispasi masyarakat lah yang sangat besar berperan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kenapa partisipasi itu rendah.? Ternyata banyak dari kita tidak paham akan kesadaran hadirnya isu sosial di sekitar mereka. Kurangnya kecakapan untuk mencapai perubahan. Kurangnya ekosistem untuk berbagi.  Pendidikan itulah tempat mensosialisasikan nilai-nilai yang membuat kepartisipasian nilai di masyarakat. Seperti sistem hours service di sekolah-sekolah ternama yang walau pun bagus banyak hal yang kurang diperhatikan di  seperti faktor pemaksaan terhadap anak tersebut.
Potensi pelajar SMA  : Anak SMA di Jakarta bisa saling membantu dan mejadi relawan di Jakarta. Pendekatan masa kini dimana anak muda tahu solusi. Anak muda bisa menjadi agen perubahan, banyak orang yang punya kompetensi global tapi ga tau akar rumput.
8 fase muatan lokal kesukarelaan lokal yang perlu dikembangkan:
1.       Potensi
2.       Mengenal isu sosial di sekitar mereka,dan bagaimana cara merasakannya
3.       Informasi tentang inspirasi
4.       Melibatkan diri
5.       Mengkristalkan gagasan : ide visi mereka
6.       Merencanakan aksi mereka
7.       Implementasi (optional)
8.       Bla bla

Kesukarelawaan itu tidak akan dipaksaan, kalau dipaksaan justru akan mengurangi esensi dari kesukarelawaan. Indonesian Future leaders lah , tempat mengembangkan kesukarelawan tersebut.

“Learn , earn, return
Esensi kesukarelawaan adalah menambah ilmu kita,”

Mengurangi tingkat kemiskinan tidak hanya menurunkan angka statistik tapi juga bagaimana meningkatkan  kualitas hidup seseorang.



Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Saturday, 5 May 2012

Es shanghai

Posted by Sosiana Dwi On 4:34 pm

Es Shanghai tubagus memang amat menggoda untuk dinikmati. Campuran antara buah beraneka macam seperti semangka, melon, mangga, buah pir, apel, dan anggur yang diracik dalam satu kuah gula yang dicampur susu. Hmm.. Melelah lah liur kalo liat bentuknya.


Seperti siang Sabtu yang panas ini. Secara random aku ngidam es ini. Terakhir kali minum es ini yaitu saat bulan puasa. Namun saat itu aku menikmatinya bukan saat maghrib tiba tapi saat siang hari. Waktu itu memang aku sedang tak berpuasa begitu pula temanku Reta. Saat melewai pasar Simpang yang sumpek dan terik es shanghai lah yang melambai pada kami untuk dibeli. Dengan uang 7ribu kami beli satu porsi es shanghai dan dibungkus untuk dibawa pulang. Pulangnya kami naik angkot Kalapa- Dago ke Kanayakan. Karena esnya dibungkus denngan plastik bening jadilah semua mata menuju pada plastik itu. Glek. Jadi ngrasa bersalah bikin orang ngiler di angkot terlebih pas bulan puasa.

Sampai di asrama langsung deh kami menyerbu es Shanghai Tubagus Ismail.


Ayo kalo ada yang mau nyobain aku bersedia jadi tour guidenya lho, tapi dengan syarat aku ditraktir ya. Hehe


Published with Blogger-droid v2.0.4

Saturday, 28 April 2012


“Kusimpan rindu di hati
Gelisah tak menentu,
Berawal dari kita bertemu
Kau tak kan kulupa”

Sayup-sayup kudengar...

Angkot hijau Kalapa-Dago melaju membelah jalanan Dago dengan sedikit terhalang jalanan siang ini. Tengok kiri kanan hanya kulihat mobil berhenti. Kaca mereka gelap tak terlihat apakah mereka tersenyum atau kepanasan sepertiku juga. Sepertinya mereka tidak, karena hembusan AC pasti segar membelai perjalanan mereka di bumi yang kian panas ini.
Bandung, Kota dataran tinggi yang dilingkupi sebuah cekungan besar gunung-gunung diantaranya membuat kota ini harusnya dingin. Namun Bandung kini mulai panas dengan asap kendaraan deru besi jalanan.
Lampu memerah untuk kedua kalinya dalam jalanan yang sama dan sudah biasa jika dalam satu perjalanan aku bisa menempuh 2 kali lampu merah. Seperti biasa kini dalam sudut angkot, tempat favoritku mengamati jalanan.

“Ku ingin engkau mengerti
Betapa kau kucinta
Hanya padamu, kubersumpah
Kau akan ku jaga sampai mati”

Suara cadel nan lirih membelah keramaian....

Di sela kantukku ternyata memang terdengar sebuah lagu berdendang dengan frekuensi kecil.  Suara lirih itu berasal dari bocah kecil tak lebih dari dua tahun usianya. Pipinya memerah terbakar panas siang ini. Wajahnya terlalu lucu untuk bernyanyi di jalanan siang-siang. Keceriaan dan semangatnya yang hilang ataukah memang hak-haknya tertelan debu jalanan? Apakah pula senyumnya kian pudar dalam tempias hujan April ini?
“Ku ingin tahu siapa namamu, dan ku ingin tahu dimana rumahmu
Walau sampai akhir hayat ini,”
Entahlah, mataku menuju padanya, bocah kecil itu. Ia menunggu di sudut pintu dengan tanpa gairah kanak-kanak. Tinggi tubuhnya bahkan tak dapat mencapai ketinggian angkot ini seolah dia memang tidak dapat mencapai realita dalam hidupnya yang diberikan. Tanpa bisa bergerak dan menyiapkan ‘uang jajannya’, sekedar receh lima ratusan atau seribuan aku hanya terdiam, termangu dan berpikir. Dalam hati aku tak mengerti mengapa bocah sekecil dan selucu itu menggembala diantara roda jalanan kota kembang. Dengan sebuah lagu yang aku yakin bahkan dia tidak mengerti artinya.

“Jalan hidup kita berbeda
Aku hanyalah punk rock jalanan
Yang tak punya harta berlimpah untuk dirimu sayang”

Sumber : sentanaonline.com/public/images/news/gallery/0103112013.jpg


-----
Memang jalan hidup kita berbeda ngger[1]. Ketika aku kecil setidaknya aku bermain di lapangan yang luas dengan bola sepak dan anak laki-laki yang berkejaran. Tidak dengan jalanan yang ramai, sempit, berdebu, dan mobil motor yang berebutan. Tapi apakah keceriaan masa kecil kita berbeda? Apakah senyum masa kecil kita berbeda? Apakah gelak tawa jalanan dan lapangan berbeda? Apakah realita telah mengubah gemerlap sebuah kota menjadi kesedihan bagi sang bocah?
Gadis kecil itu pergi dengan tanpa sepeserpun receh di gelas bekas air mineralnya. Wajahnya tidak muram, tidak pula senang. Kulihat penumpang yang lain sedikit tak acuh akan kehadiran anak kecil itu. Begitu pula aku yang tertegun melihatnya, melewatkan memberi sepeser uang untuk membelikannya es di siang-siang.
Gadis itu pasti tidak tahu apa arti lagu yang ia nyanyikan. Bahkan apalah sebuah kata ‘arti’ pasti dia pun tidak mengerti. Realitanya kini jutaan anak Indonesia telah sama persis seperti gadis kecil ini. Menyayikan sebuah lagu yang bahkan mereka tak mengerti isinya. Ironisnya lagu-lagu yang mereka dengar tidak pantas untuk dinyanyikan anak kecil. Dari yang bertema percintaan, sarkasme, hingga bertema dewasa yang menyinggung sedikit ke pornoaksi.

Anak-anak itu dipaksa pada realita bahwa mereka bukan orang berada dan mereka harus sedikit berusaha. Lagu adalah hal termudah yang bisa digunakan sebagai cara mencari uang. Dan karena lagu bukankah mereka pula tumbuh berkembang?

Bagiku sendiri sebuah lagu akan mensuasanakan hati bagi si penyanyi itu sendiri. Saat kau mendengar lagu Bunda pasti kau akan merasa kangen pada ibumu kan dan teringat bagaimana ia merawat kita dari kecil hingga besar. Lagu juga sebagai motivasi, seperti sekarang ini banyak bermunculan lagu patah hati dan tema galau lah yang paling sering mendera jutaan muda-mudi zaman sekarang. Sebagai contoh lagu Punk Rock jalanan yang dinyanyikan bocah kecil tersebut, lagunya bertema sedih dan seperti nerimo ing pandum[2] terhadap realita kehidupannya. Sehingga perkembangan mental si anak pun bisa jadi akan menerima kehidupan dengan apa adanya. Ironisnya apa adanya mereka tidaklah jauh berputar dalam hidup jalanan urban. “Mau dibawa kemana” seperti lagu Armada. Mau dibawa kemana nasib anak Indonesia apabila mereka dibesarkan dengan kidung[3] dan cerita jalanan yang lingkarannya berputar dalam satu jalanan yang sama yang dilalui mereka setiap hari.  

Anak-anak merupakan masa tumbuh kembang paling ideal dengan tunas-tunas yang sangat reaktif terhadap segala perubahan. Akankah anak-anak sekarang sudah mendengar keluh kesah pesimisme kehidupan dunia yang akan dengan mudah melukai pikiran-pikiran polos mereka. Baik anak jalanan maupun anak di seluruh pelosok Indonesia mereka pantas mendapat pendidikan lewat lagu yang mereka bawakan. Sehingga optimisme perubahan sebagai pupuk kedewasaan melekat karena tampuk kepemimpinan nantinya akan ada pada generasi muda seperti halnya mereka.

Percayalah dalam nada ada cerita, percaya juga dalam kepolosan mereka akan ada Einstein-Einstein muda, J



[1] Panggilan untuk anak-anak (jawa)
[2] Menerima apa adanya
[3] lagu


Bandung, 28 April 2012

Monday, 23 April 2012

Penggunaan Re-Use : Niat Baik yang Salah Kaprah

Posted by Sosiana Dwi On 9:22 pm



Nama dari kertas re-use pertama kali aku dengar dari kampusku, ITB. Berawal dari zaman PROKM ITB (Pengenalan Ruang Orientasi Keluarga Mahasiswa ITB) atau biasa dikenal dengan ospek dimana saat itu kita diwajibkan membuat sebuah buku dari sisa kertas yang sudah tidak terpakai lagi bagian belakangnya. Itupun awalnya aku salah dengar, aku kira penulisan re-use adalah Rius. Maklum aku benar-benar anak desa yang lumayan katro.

Sebenarnya konsep kertas re-use sudah aku aplikasikan lama sebelum ini hanya saja dahulu aku tidak tahu istilah kerennya. Biasanya aku menggunakan kertas sisa itu untuk coret-coretan rumus saat ulangan atau latihan soal. Jadi hal itu tdak asing, namun kali ini lain karena pemakaiannya agak dipaksakan.

aku yang merupakan anak baru dalam dunia mahasiswa sekaligus pula anak baru di Bandung tidak tahu mesti berbuat apa padahal spek tersebut harus tersedia esok hari. Kertas re-use tersebut mencari dimana saja aku tidak tahu padahal aku sendiri baru saja pindahan ke kos baru. Itupun belum semua barang-barangku terpindahkan.

Hal yang pertama yang aku lakukan untuk memenuhi perintah membuat buku re-use tersebut adalah ke tukang fotokopian. Karena aku belum punya kertas apa pun yang bisa di jadikan re-use paling banter adalah kertas legalisasi ijazah. Hal tersebut juga karena perintah kakak taplokku atau kakak pembimbingku.

Pergilah aku ke Fotokopian terdekat kosan, aku minta sama mas-masnya dan ternyata banyak yang mencari spek tersebut sehingga kertas re-use itu sudah tidak tersedia lagi. Dengan akal cerdik akhirnya kertas re-use tersebut aku hasilkan dengan cara memfotokopi kertas A4 biasa dengan sembarang data lalu kertas putih di baliknya aku gunakan sebagai kertas re-use yang dimaksud oleh kakak-kakak itu. Sebenarnya dalam hati aku pikir ini pekerjaan yang ekstra double, pertama memfotokopi kertas bersih dengan sesuatu yang asal saja sehingga kertas itu telah di katakan "re-use". Padahal "use" apa yang telah kita lakukan? "Use" tersebut bisa dikatakan pemaksaan untuk penggunaan.

Telah lama semenjak kejadian itu aku baru tahu jika penggunaan kertas re-use itu ada makna dan tujuannya. Ternyata re-use bertujuan agar kita bisa menggunakan kembali kertas sisa fotokopian yang biasanya selalu sisa bagian putih di belakangnya. Agar kita bisa hemat kertas dan mendaur lagi kertas. Pada dasarnya kertas itu dibuat dari bubur pohon sehingga semakin banyak kertas yang kita butuhkan semakin banyak pula pohon yang ditebang. Mulia niatnya namun bagiku kacau implementasinya.

Pekerjaan macam itu bukannya malah membuang-buang kertas baru dengan fotokopian hal yang tak berguna. Padahal kertas yang difotokopi pada sisi sebelahnya bisa digunakan kan? Atau dengan kata lain dua sisi kertas bisa digunakan jika kita tidak mematuhi aturan re-use yang konyoll tersebut. Ini tak lepas dari andil salahku yang sudah mahasiswa namun tidak bertanya lebih “Kenapa aku mesti nurut aja?” atau “Buat apa pekerjaan itu?”. Tapi apa daya tidak semua orang punya kertas bekas di kamar kosnya atau bahkan rumahnya. Tidak semua menggunakan kertas di rumahnya, karena tidak semua keluarga bekerja dengan kertas. Atau anak baru sepertiku yang mulai kuliah saja belum sudah ada kertas sisa.

“Harusnya kan kalian usaha mencari kertas sisa!”

Kita bisa saja mencari kertas bekas di perkantoran apabila sempat tapi apabila waktu tidak sempat apakah kita juga mesti nurut juga?

Celotehku saat ini hanya ingin mengungkapakan kalau penggunaan kertas re-use itu baik, kita bisa menggunakan kembali kertas sisa yang tidak terpakai. Tapi hal tersebut tidak perlu dipaksakan apabila memang tidak ada lagi kertas re-use. Kita gunakan saja kertas biasa yang masih kosong sebagai spek kita tersebut. Dengan begitu sisa kertas di bagian belakangnya bisa digunakan sebgai re-use di kemudian hari. Tidak ada yang terbuang dan program recycle kertas masih dapat kita lakukan walaupun tidak dengan doktrin spek kertas re-use.

Sampai saat ini saya yang masih ‘nurutan’ telah menggunakan hampir lebih dari 3 buku yang terbuat dari kertas re-use bohongan. Dan saya telah menyesal berbuat hal bodoh tersebut.

 Silahkan berkomentar, mahasiswa harus idealis!

Sumber : google.com

Tuesday, 3 April 2012

Minggu Tersial dalam Tahun 2012 :(

Posted by Sosiana Dwi On 8:04 pm

Aku mau menulis tentang dua kesialan yang terjadi padaku. Bukan berniat mau ngeluh tapi aku berniat mau bertanya, “KENAPA ini terjadi?”. Hiks
Tanggal 23 Maret 2012 adalah hari Nyepi yang berarti ada warna merah pada kalender Indonesia pada tanggal itu. Karena hari itu hari Jumat maka ada 3 hari merah yaitu Jumat, Sabtu dan Minggu. Aku yang tidak merayakannya menggunakan momen itu bukan untuk menyepi tapi untuk pulang kampung.
Sebenarnya aku jarang untuk pulang ke Purbalingga pada saat banyak tugas seperti ini selain karena malas keluar ongkos juga karena jauh. Lama perjalanan Bandung-Purbalingga sekitar 8 jam, libur yag disediakan  biasanya paling cuma 2 hari. Kalo 2 hari itu berarti 48 jam , dikurangi 8 jam belum perjalanan ke terminal atau stasiun bisa sampai 3 jam, jadi waktu tersisa 37 jam. Belum lagi waktu tidur karena capek naik kendaraan itu bisa sampai 4 jam. Sisa 33 jam. Oia waktu tidur malem 8 jam. Sisa 25 jam yang paling digunakan buat apa coba? tidak efektif. Kalau nggak pulang kampung aku bisa ikutan acara kampus yang berjibun di weekend. Bisa nyuci baju, nyetrika, atau beres-beres kamar. Paling sial ya ngerjain tugas saat weekend.
Namun aku bilang tanggal 23 itu pengecualian. Alasan utama yaitu kakakku pulang dari Sumatera, dia jarang pulang jadi ini kesempatan buat minta uang (*ups). Yang kedua karena hapeku yang paling kusayang sudah rusak, niatnya mau dibenerin di kampung aja. Yang ketiga dapet undangan buat E-KTP yang katanya bakal jadi satu-satunya KTP kita. Yang terakhir karena liburnya 3 hari ajah si. \
Ini rundown kesialanku :
1.       Tiket Kereta Api udah abis!
Ini kesalahan aku juga sih ga booking cepet2. Tapi itu juga gara-gara ada UTS kalkulus dan praktikum fisika. Ibu udah marah-marah nyalahin aku lagi, hesh. Ya udah moda transportasinya dibuah jadi naik bis, dan itu pertama kalinya aku naik bis pula. Aku emang dari dulu selalu dan always naik kereta, ya karena lebih cepet dan murah itu terutama. Ga ada macet dan ga usah manjat naik gunung yang sukanya bikin mabok.
Then,  Kamis sore aku udah ancang-ancang balik, dari asrama aku jam 2 siang sehabis itu aku tutorial kimia dahulu jam 3 sore buat ke terminal Cicaheum Bandung. Rapat Kominfo sebentar di Coffe Toffe jam 5 dan menunggu Enggar, Nur dan Leli buat berangkat bareng.

2.       Bolak-balik McD kampus karena slah paham
Aku kira kita bakal ketemuan di McD Simpang namun ternyata janjiannya diganti di belakang kampus. Ergh, aku udah jalan ke McD jam enam sore terpaksa balik lagi. Mending aku makan di McD tapi karena ga ada dananya ya udah makan nasi goreng rasa aneh banget. -__- Disana ternyata setelah kumpul semua (itupun kira-kira nunggu setengah jam) kita harus naik angkot Caheum-Ciroyom yang harus jalan ke arah McD dulu baru bisa naik. Aku yang sudah bolak-balik McD-Kampus jadi menolak mentah-mentah. Karena di belakang kampus ada angkot Caheum-Ledeng aku memaksakan naik itu, toh sama-sama ke Caheum. Mereka nurut aja. 

3.       Saat di jalan kita baru ngerasain ternyata angkotnya muter-muter kembali deh aku disalahin.
“Harusnya naik Caheum-Ciroyom aja, jalan dikit aja kok ke McD gak mau,” Enggar memarahiku.
Ergh, aku udah b0lak-balik tau! Kesel juga deh. Salah gur apa? Argh!!!
4.       Sampai di terminal bisnya udah abis dan mesti nunggu sampai satu jam.
Si Enggar nuduh aku salah lagi deh gara-gara salah anik angkot. Eh ternyata nggak sampe satu jam bisnya datang. Ada dua pilihan mau naik Bis Purwokerto atau naik bis yang ke Bobotsari, Purbalingga (Pbg). Aku yang tujuannya mau ke Pbg ya memilih yang terakhir walaupun bisnya ga AC-an dan kelihatan buruk rupa. Si Enggar dan Nur aku persilahkan naik yang Purwokerto tapi mereka maunya ikut aku, buat temen jalan si.

5.       Jalanan Bandung jawa itu macet parah !
Bis yang bernama Harum Prima itu jalan ketika pukul Setengah sepuluh malam. Itu awal pertama aku naik bis Bdg-Pbg jadi agak kagok. Sepanjang jalan aku tidur saja biar nanti saat aku sampai rumah tidak perlu tidur lagi. Tapi ada kendala yaitu saat bis melewati jalan berliku di daerah Ciawi (kata GPS-ku si gitu), ada kemacetan panjang. Gila itu macet paling keren yang pernah aku liat, macetnya dua arah . jadi kalo dilihat-lihat itu kayak waktu berhenti sebentar. Dan yang bikin ekstrem macetnya berliuk-liuk di daerah rawan dan banyak tikungan. Jadi kalo pas macet remnya blong itu bakal sesuatu banget lah. Serem.

6.       Bis bernama Harum prima itu akhirnya “ngambek”
Sekitar beberapa jam mobil hampir ga bergerak. Setelah jalan aku tidur lagi sampai-sampai bis bener-bener berhenti padahal mobil lain ngga berhenti. Huaaa, mobilnya mogok.  Pertama-tama aku santai aja, paling sebentar namun ternyata lama. Lihat sekeliling bis mogok di hutan belantara, mana berkabut, bunyi tonggeret, pas tikungan lagi jadi kalau ada mobil lain lewat maka mesti dituntun biar ga masuk jurang.
JURANG! Itupun mesti ngantri dua arah. Horor lah tempatnya, kalo di cerita hantu ya cocok lah apalagi ada gubug serem dideket situ. “Apalagi? “pikirku.

7.       Dioper pada bis yang super duper overload
Nah, kayaknya supirnya udah nyerah kali ya, jam juga udah menunjukan jam 5 pagi padahal seharusnya itu waktu aku udah sampai rumah. Demi apa coba? kita dioper ke bis lain yang juga ke Purbalingga. tapi aku langsung ilfeel pas liat itu bis. Sama bobroknya dan itu manusia udah kaya pindang dijejel-jejelin. Semua orang masuk , ga cewe ga cowok, ga aki-aki, ga ibu hamil, yang kebagian tempat duduk berdiri. Nah, padahal masih jarak jauh banget perjalanannya. T-T akhirnya aku naik bis berikutnya yang ke Purwokerto dan harus nyambung lagi ke Pbg itupun si Nur dan Enggar berdiri padahal mereka itu kebawa-bawa sialnya aku.

8.       E-KTP rusak!
Singkat cerita aku udah sampe rumah setelah perjuangan yang panjang dan aku akhirnya tidur 3 jam lebih sesampainya di rumah. Esoknya niat bikin E-KTP , udah rapi jali ke kantor kecamatan dan ooooh tidak. Itu kantor parah malah tutup! Padahal bilang mau melayani pelanggan walau hari minggu. Ah, pake acara rusak segala padahal aku mau bikin mumpung bisa pulang T-T

9.       Ban Bocor disaat yang tidak tepat
Singkat cerita (lagi) aku udah puas sama liburan super singkatku dan mesti pulang. Kebetulan aku pesen tiket kereta ke calo pula , ya lumayan mahal lah tapi demi trauma naik bis aku bela-belain lah. Kereta berangkat jam 5, jalan dari rumah ke stasiun sekitar 1,5 jam nah karena kakakku masih ngutak-utik labtopku sampe jam 3 jadinya aku baru berangkat jam setengah empat sore. ibuku udah ngebut banget lah lalu tiba-tiba ketia udah sampe di Sokaraja ada yang aneh sama motor. Dan tralala, bannya bocor! Udah jam 4 cuy! Ahh, ni orang pasti iseng naruh paku deh, udah dua kali lewat sini selalu bocor bannya deh.  Gugup deh , gimana bisa jam 5 sampe stasiun. “Ayo mas cepet !” ibuku ga sabar.

10.   Finally ketinggalan kereta
Ah, lama sampe jam setengah lima itu ban baru beres di tambal . setengah jam lagi! Sengebut apa coba ibuku yang lemah gemulai itu buat ngejar kereta jam 5? Entahlah dan taraaaaa, kereta emang udah pergi ketika aku 5 menit sampai di stasiun. #sad
Untungnya bapaknya Nur mau tuh tiket coba kalo engga aku mesti bayar tiket yang ga jadi aku pake
Aku naik bis Sinar Jaya ke Bandung akhirnya jam 9 malam, padahal aku berangkat dari rumah dari jam setengah 4. Badan udah pegel lah, padahal besok mesti kuliah pagi, pak Koko pula lah.
11.   Hape rusak lagi!
Jadi hape yang Sony Ericcson W200i udah dibenerin kakak, tapi karena kesel sama seseorang aku banting tuh hape saking keselnya eh itu hape rusak lagi. Huhuhu, padahal aku udah sayang sama itu hape, kalo sms ga pake ribet lah ga kaya SE Xperiaku.

12.   KTM, dimana KTM?
Mau praktikum PTI dan harus absen pake KTM dan “mana KTM? Mana KTM? Duh” , terakhir aku inget aku ambil uang lagi di Borma buat belanja barang. Argh, KTM ilang dan ga ketelen di ATM-nya jadi itu ilang. Mesti bikin lagi dan mesti ngeluarin uang lagi! Iah! FYI, KTM atau kartu tanda mahasiswa ku, terutama di ITB itu sekaligus kartu ATM BNI sekaligus pula alat penyalur beasiswa jadi kalo ilang itu sesuatu banget lah.

13.   Kontarakan ga jadi diambil!
Aku udah pesen kontrakan udah ngasih DP sekitar 170.000an dan tiba-tiba anak yang mau ngontrak itu pada ogah termsuk aku dan akhirnya aku mesti merelakan utu duit DP. Argh!

14.   Modem... hiks
Terakhir ini puncak kesialanku. Pulang dari kampus aku nerobos ujan pake payungku yang emang rada kecil. Kebetulan hari itu abis asistensi so aku bawa basoka kemana-mana. Karena ujan deres aku yang takut basokaku kenapa-napa alias basah kena cipretan ujan (FYI, basoka itu bawahnya ada lubangnya kecil) jadi ngelindungin abis itu basoka, kerja keras dua malemku. Sampai di asrama aku basah kuyup lah. Ngerjain tugas dan lalalala dan pas mbuka tasku , jder! Tasku basah banget ternyata. Dan benda yang paling di tas bagian paling basah adalah benda elektronik semua cem hape butut, charger hape, sama modem. Ahh.. basah semua. Aku inisitif nyolokin modem ke komputer ngecek masih waras belum. Awalnya masih bisa connet tuh sampe tiba-tiba koneksi terputus dan moem ga masuk ke komputernya. Panik tuh, akhirnya bawa deh ke magic com buat di keringin. Aaahhh, modem! Ampe itu mode panas pun masih ga bisa dicolok-colokin. Dengan menangis dan meratapi nasib aku nangis deh ke kakak aku. Modemku, aku kerja pake apaka donk sekarang (baca : online) Kenapa semua kesialan terjadi padaku akhir-akhir ini? T_______________T


Ahhh, itu minggu tersial yang berentetan terjadi sama aku, semoga ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian itu. Huft, mesti sabar kayaknya deh. Semoga, SEMOGA :’(
Tau ngga padahal niatnya aku mabu buat tulisan ini untuk pulang kampung tersial, dan ternyata ini berlarut jadi minggu tersial. 

Tuesday, 13 March 2012

Optimisme dalam Berjalan Menembus Batas

Posted by Sosiana Dwi On 9:02 pm
Aku mau sedikit promo buku dari teman ini.

Dia yang disebut temanku menulis antologi cerita bersama penulis buku Negeri 5 Menara , Ahmad Fuadi. Buku ini bercerita tentang kisah hidup asli dari mereka atau teman dekat mereka yang berhasil cobaan dan ujian hidup dan akhirmya meraih sukses. Melalui semangat yang tiada lepas buku ini mengajarkan kepada kita tak ada guna memberikan keluh kesah. Resah dan gelisah pasti akan terbayar dengan segala usaha yang benar-benar kita curahkan sepenuh hati. Tak usah ragu membelinya karena ada seteguk inspirasi dan motivasi dalam setiap cerita.

Seperti salah satu kisah perjuangan "Lintang" asal Kebumen yang sukses meraih mimpinya dengan kayuhan semangat-semangat setiap hari.

Bagi yang suka galau (termasuk pemilik blog ini) wajib membaca. InsyaAllah menyalakan secercah lilin di hati buta yang gelap karena galau.

Salam Semangat

cc : Abdulah Mabruri

^^

Ini Fokusku

Posted by Sosiana Dwi On 8:45 pm

Menulis blog sudah hampir tidak pernah aku jangkau lagi. Padahal dari mulai Sabtu, 10 Maret 202 lalu aku berjanji akan bersungguh-sungguh mengisi hidupku dengan dunia jurnalistik sesempit apa pun waktuku. Karena dunia manusia itu terbagi-bagi pada sub bab yang sangat banyak seperti halnya waktu yang terbagi menjadi banyak prioritas waktu. Seperti halnya aku.
Ini cerita hidupku versi aku :
Masa SMA-ku begitu terasa sebagai siswa yang amat sangat rajin. Belum mengenal informasi jauh seluas sekarang ini. Pulang sekolah ya aku akan balik ke rumah. Akses rumah dan sekolah memang lah sangat jauh, 13 km dengan kendaraan umum. Selain itu akses periznan untukku dari ibuku juga minim maka praktis aku tak mengenal hal yang namanya organisasi secara mendalam.
Di SMA aku mengikuti gerakan pramuka namun itu hanya sebatas numpang absen saja karena  aku tak boleh ini dan itu. Maka pengalaman organisasiku ya hanya sebatas itu-itu saja. jiwa kepemimpinan juga tak pernah ada.  Dan mungkin karena “dendam”  itulah aku melampiaskan hidup yang penuh dengan pengalaman di saat aku di kampus.
Awalnya aku berharap bisa aktif di kampus dengan ikut ini itu sesuai kaa hati. Dengan mengambil unit : UKA, Boulevard, Persma, KPA, Aksara, Kokesma, U-Green, dll aku berharap bisa berkembang kendatinya hanya unit UKA dan Boulevard saja yang hingga hari ini eksis dan masih ada sreg di hati. Organisasi setingkat BEM di Univ lain yaitu KM-ITB sebagai salah satu staf biro Komunikasi dan Informasi di bagian media operasional. Tentu masa pencarian jati diriku mengarah juga ke tempat lain. Lalu mulai lah aku pergi mengembara dengan ikutan event-event kampus. ITB fair 2012, Pemira aku ikuti. Tetap saja ada kendala, ITB Fair yang merasa “janggal” dengan kepanitiaan ini lah dan Pemira yang terkendala beberapa kegiatanku yang lain. Sebenarnya hal yang paling aku tidak suka adalah Gabut alias gaji buta. Tapi aku sendiri tidak bisa berkehendak atas diriku yang kadang tidak bisa berkomitmen.  Bisa sebenarya tapi susah. 
Ah, maka dari itu aku berjanji aku hanya akan mengambil kegiatan dari jenisku. Memang tidak akan membuat keaktualan diri dan hanya akan membuat bakatmu itu-itu saja tapi aku berpikir inilah aku. Aku hidup dan menjadi besar pasti dari hasil kefokusanku mengasah apa yang aku inginkan dan apa tang menjadi dasar dalam aku. Aku tidak akan menjadi orang lain kan? aku hidupku dari diriku dan bukan dari orang lain.
Oleh karena itu aku hanya akan hidup dari kejurnalistikan, arsitektur, hidupku, seni, buku, tulis, foto, dan SEMANGAT.

Karena ini hidupku , jalanku.

  • Contact us

    Sosiana Dwi Architecture 2011 Bandung Institute of Technology