Sunday, 20 January 2013

Kembang-kembang

Posted by Sosiana Dwi On 1:40 am
Tiga minggu sudah aku tidak lagi memeluk malam di Bandung. Ketika waktuku ini tiba aku merasa pelukannya telah melumpuhkan dan melemahkanku. Dinginnya menggiggilkanku.

Malam ini, menjadi malam minggu pertamaku di Bandung. Aku dan tim AMI 2013 (Aku Masuk ITB) tengah berjualan bunga di salah satu cafe yang terletak di Dago atas. Cafe ini berdiri di tempat yang katanya romantis yang Bandung tawarkan di tepi tebing tinggi dengan pemandangan gerlap bintang buatan dari suar nyala bangunan di bawah sana.

Aku dan timku menggunakan kesempatan romantis ini dengan sekuntum bunga yang kami jual seikhlasnya. Kami tahu seikhlas-ikhlasnya yang mereka berikan adalah harga diri yang tentunya mereka bawa maka tak segan mereka menukar lembar biru rupiah dengan sekuntum mawar merah. Untuk itulah kami disini, mencari kesempatan meskipun tentunya tidak mudah.

Buket bunga mawar

Tapi Bandung masih sebagai kota kembang, entah itu kembang yang tengah mekar, kembang-kembang gula mojang parahyangan, kembang-kembang cinta di malam minggu ini, kembang nya kota metropolitan. Atau impian yang tengah ber"kembang".








Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Saturday, 1 December 2012

Mengunjungi Jogja pada 1 Desember 2012 lalu bukanlah yang pertama kali pada tahun 2012 ini. Beberapa bulan yang lalu saya juga sempat mengunjungi kota budaya sekaligus kota pelajar ini. Namun perjalanan ke Jogja sebagai ekskursi program dari mata kuliah Arsitektur Nusantara  kali ini terasa berbeda dari perjalanan sebelumnya. Selain karena saya bisa karyawisata bersama teman-teman seangkatan dalam prosesnya perjalanan ini memberikan tambahan nilai-nilai yang tidak saya rasakan ketika dulu. Eksistensi saya sebagai mahasiswa arsitektur kali ini muncul ketika materi yang telah saya terima sebelumnya pada ruang kuliah dipertemukan dengan contoh-contoh real bangunan tradisional maupun vernakuler di Jogja.
Dalam ekskursi atau bisa dibilang perjalanan untuk bersenang-senang (KBBI) ini ada beberapa tempat yang kami kunjungi antara lain Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Tamansari, Keraton, Masjid Agung Yogyakarta, Kulonprogo, bahkan Jalan Malioboro. Kesemuanya menorehkan pengalaman sendiri terutama di sketsa-sketsa pikiran saya yang sudah termodali beberapa penjelasan dosen.

Candi Prambanan, Borobudur
Langkah awal kami mengunjungi candi-candi di daerah sekitaran Jogja, candi ini sudah tidak asing bagi saya karena saya pernah mengunjunginya ketika saya masih remaja. Tujuannya ketika itu hanyalah ingin berwisata menikmati keindahan karya manusia zaman kerajaan di Indonesia dahulu kala sembari berfoto-foto. Hanya itu dalam pikiran saya dan juga teman-teman saya dahulu. Perjalanan kali ini terasa lain meskipun panas menyengatnya masih sama seperti dulu. Karena kami wajib mendokumentasikan dan mencermati relief di candi saya jadi bisa mencermati bagaimana manusia pada jaman sebelum teknologi modern bisa membangun sebuah monumen seperti candi, mengukir cerita pada .
Borobudur

Pertanyaan muncul melihat bagaimana cara memindahkan batu-batu besar lebih besar daripada kepala dan lebih berat dari tubuh manusia itu sendiri. Terlepas dari konspirasi adanya campur tangan alien (saya pernah membaca tentang ini, seperti halnya piramida dibantu oleh mahluk asing dari negeri antah berantah) saya merasa memang ada kekuatan dahsyat yang telah membantu mereka , manusia pada dinasti hindu-budha tersebut. Menurut saya kekuatan besar itu ternyata bersumber pada kekuatan religius bernama Tuhan. Tuhan dalam konteks hindu budha tentunya merujuk pada dewa terlebih kepada hindu yang polytheisme. Kejayaan dinasti dan kesetiaan pada Tuhannya membuat saya kagum, pada masanya mereka bisa berambisi untuk menuhankan kepercayaan mereka dengan sebuah candi yang besar. Keterbatasan sepertinyya telah menerbitkan jalan keluar berupa teknologi dan kecerdasan yang luar biasa. Saya yakin pada zaman sekarang pun apabila ada manusia yang punya ambisi pasti bisa menciptakan sesuatu yang lebih dari Borobudur maupun Prambanan
Pertanyaan lain adalah bagaimana mereka bisa mempunyai rancangan desain candi yang cerdas dan bisa bertahan sampai saat ini? Contohnya saja di Candi Borobudur, mereka dengan pas menyatukan dan merekatkan batu satu sama lain. Ada bagian yang menampakan sambungan batu seperti sambungan ekor merpati, lego, yang sistemnya sebenarnya sederhana namun mereka telah berpikir mendetail.
Selain itu adanya tali air dan kanal-kanal yang tidak lupa mereka buat di bawah struktur candi. Tali air dibuat juga tidak begitu saja dilepaskan, mereka membuatnya secara aestetik. Bahkan mereka telah memberikan kesan filosofis dengan menempatkan mereka di bagian ujung-ujung candi sehingga seolah-olah air itu memancar bak pancuran ke segala penjuru arah. Perencanaan saluran air ini tidak lain karena adanya faktor alam di Indonesia yaitu hujan yang tidak pasti kapan terjadinya. Apabila sistem drainase ini tidak dibuat mungkin candi tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi dan tidak akan bisa dinikmati sebagai suatu salah satu mahakarya manusia di dunia.
Dan tentu saja kekaguman saya tidak berhenti sampai disitu. Ketika melihat desain Borobudur maupun Prambanan secara keseluruhan saya merasa para pembuatnya mempunyai rasa seni tinggi dan mampu menggunakannya untuk mengungkapkan banyak simbol filosofis dalam candi. Seperti perbedaan tangan budha Borobudur yang memberikan simbol tertentu. Maupun pembagian bagian candi menjadi Kamadhatu-Rupadhatu-Arupadatu (Borobudur) dan Burloka-Wahloka-Swaloka (Prambanan) yang kesatuannya menyampaikan mana tertentu dalam simbol agama mereka. Dua stupa yang berbeda di bagian Arupadhatu,dengan lantai satu berbetuk wajik dan lantai duanya kotak mungkin dibuat seperti itu karena bentuk wajik masih dinamis dan kotak lebih statis dan lebih tenang dan seperti itulah makna yang ingin diberikan bahwa arupadhatu adalah bagian yang telah sempurna dan tidak akan goyah lagi. Pemberian bentuk yang cerdas! Bahkan di Borobudur untuk mendapatkan nilai seni yang maknawi kita mempunyai ketentuan untuk memutari candi searah jarum jam melalui Pradaksina sehingga kita bisa menonton klise film masa lampau dengan benar dan terurut.
Terima kasih saya ajukan pada pengelola kedua candi karena telah memberikan atribut kepada kami pengunjung selendang batik saat masuk ke candi. Selain bisa menghormati keberadaan candi hal ini juga telah memberikan kebanggan pada saya untuk mengenakan batik sekaligus mengenalkan inilah Indonesia.

Ratu Boko
Walaupun rasa suka saya dari di jelaskan melalui Prambanan maupun Borobudur itu tidak berarti kompleks Ratu Boko menjadi terlupakan. Bahkan saya merasa Ratu Boko merupakan tempat yang indah walaupun saya belum mengerti mengenai arsitekturnya. Kompleks ini berada di atas bukit dengan pemandangan yang tentunya sangat apik. Selain itu ditunjang pula dengan infrastruktur pengelola yang sangat baik mengolah kompleks ini.  Sebagai tempat yag dulunya adalah sebuah kerajaan jujur tempat ini merupakan tempat yang indah dan cantik. Meskipun tidak bisa melihat bangunan istana secara keseluruhan karena sudah tidak tersisa lagi ,pondasi-pondasi menunjukan bahwa sebenarnya bangunan istana bisa saja long lasting karena struktur dasarnya saja masih bisa bertahan sampai sekarang.
Prambanan

Selain dari reruntuhan istana keraton Boko ini ada hal yang menarik yang menjadi daya tarik wisata yaitu resort yang dibangun di atas bukit dengan pemandangan kawasan Jogja-Klaten. Tidak lupa pula tempat ini sangat romantis untuk tempat pelesir dengan adanya pemdangan sunset setiap sorenya. Sayangnya kami tidak sempat melihat pemdangan tersebut tentunya jika kami sempat akan menjadi momen yang tidak akan terlupa.

Malioboro
Malioboro sebenarnya hanya tempat yang bukan utama dalam perjalanan ke Jogja lalu namun saya ingin mengungkapkan bagaimana sebuah ruang memanjang di pinggir jalan bisa menjadi daya tarik wisata yang fenomenal dan ikonic. Malioboro karena aksesnya yang mudah dan juga menjajakan banyak pernak-pernik khas Jogja seperti batik tak ayal menjadi tampat yang tak boleh dilewatkan untuk turis. Selain itu Malioboro seperti minaitur budaya jawa di Jogja. Kita bisa melihat banyak sifat orang jawa disini dari segi keramah tamahan hingga ke kerendah hatian orang-orangnya. Kita juga bisa melihat banyak kreatifitas orang jawa dalam banyak seni yang biasanya ditampilkan di jalanan ini. Dan yang tidak kalah penting disini tersedia banyak jajanan khas Jogja. J

Tamansari
Di hari kedua ekskursi ini hampir semua tempat banyak yang belum pernah saya kunjungi. Termasuk Tamansari ini. Saya pernah melihat banyak foto-foto mengenai Tamansari namun belum pernah mencapai kesana. Yang mengejutkan adalah menuju ke tempat ini tidak dibutuhkan tiket dan sebagainya justru pintu gerbang kesana adalah jemuran rumahan dari perumahan warga. Hal ini yang membuat saya tercengang tak percaya. Sebagai sebuah pemandian raja di zaman yang belum lama berselang mengapa pengelolaannya bisa seperti ini rasanya masih aneh di mata saya. Masuk ke dalamnya saya bagaikan di dalam kerajaan di film-film. Dengan lorong panjang dan selubung dinding yang tebal. Fakta yang menunjukan bahwa dinding tesebut tanpa beton, besi dan hanya dibuat dari lepa (campuran semen, gerusan bata merah dan adonan lain) dan masih bertahan sampai sekarang cukup mengejutkan. Bahkan dinding tersebut cukup sulit diretakan tidak seperti bahan bangunan pada zaman ini yang rapuh. Seharusnya bahan-bahan seperti itu bisa di dapatkan pula sekarang sehingga keawetan bangunan bisa terjaga dan tidak mudah runtuh ketika gempa terjadi. Dengan warna merah dari lepa membuat tamasari cantik dan memang cocok sebagai tempat pemandian.
Tamansari

Yang tambah membuat saya terkejut adalah dahulunya tempat ini adalah sebuah bangunan-bangunan yang menonjol tempat berlabuhnya kapal dari danau yang dibuat secara sengaja. Sehingga ketika sampai ke tempat di bawah tanah saya bisa membayangkan dahulunya ada air di atas bangunan tersebut dan pastinya struktur bangunan di bawahnya merupakan struktur yang kuat dan tahan air. Bentang air ini dibuat secara sengaja entah sebagai keindahan semata maupun memang mempunyai alasan tertentu.
Saya menyukai tempat yang dahulunya di pakai sebagai sholat di Tamansari. Ada skylight yang sekligus sebagai tempat wudhu dan diatasya terdapat tangga-tangga. Sangat artistik dan tipologi seperti ini jarang ditemukan di masjid manapun di Indonesia. Seolah-olah ketika kita bersuci dengan air wudhu ada cahaya ilahi dari langit yang menerangi. Desain tempat sholatnya unik dan dinamis, melingkar mengelilingi tempat wudhu dengan laki-laki berada di lantai satu dan perempuan berada di lantai di atasnya.
Beralih menuju ke tempat pemandian raja-raja di sebelahnya. Tempat ini masih terjaga dengan baik dengan bangunan yang berwarna merah lepa melingkupi. Seperti kesan istana pada umumnya tempat ini megah, angkuh, dan terjaga dengan adanya menara penjaga di setiap sudut. Yang saya bayangkan adalah bagaimana kehidupan istana pada masa itu , kehidupan politik kerajaan, kehidupan raja dan kebiasaannya.  Seperti yang diceritakan oleh tour guide kami , raja mempunyai puluhan selir dari setiap daerah yang dijajahi. Dengan tujuan selir itulah mata-mata sekaligus penjalin hubungan dengan daerah jajahan raja.

 Keraton
Tidak seperti Tamansari, Keraton Jogja yang sekarang ini berada di Selatan Alun-alun bangunannya sangat kental dengan budaya jawa masa kini. Banyak ukiran berlanggam jawa dengan makna dan filosofinya. Dan tidak lupa ada sang buta kala di depan setiap pintu sebagai penangkal keburukan. Bangunan kebanyakan berupa joglo jawa tipe istana dan pintu-pintunya rendah diusahakan agar setiap orang merendah diri kepada raja. Kebiasan merendah ini juga ditularkan pada budaya jawa yaitu ketika lewat di depan orang berupaya menunduk yang artinya menghormati.
Kesan kerajaan terasa sangat di tempat ini selain dari bangunannya terlihat juga dari banyaknya abdi dalem dan bagaimana protokoler kerajaan masih ada dan bekerja di dalam bangunan keraton. Musik pengiring yang sayup-sayup terdengar dari gamelan yang ditabuh diiringi lenggak-lenggok penari jawa yang lemah-gemulai seolah mencerminkan kehidupan kerajaan yang anteng,dan berunggah-ungguh.Secara umum kehidupan ini nampak harmonis.

Masjid Agung Kauman
Masjid yang juga dikenal dengan Masjid Agung Yogyakarta terletak di sebelah barat alun-alun. Masjid tanpa kubah dengan ciri berjoglo dengan tiga tingkat ini hanya bisa dimasuki ketika jam sholat berlangsung. Interior dalam masjidnya dari kayu dengan banyak ukiran khas jawa islami. Terasa sejuk berada di dalam masjid ini terlebih di hawa Jogja yang cukup panas. Uniknya sebelum memasuki bangunan masjid terdapat saluran air buatan yang dahulunya dibuat agar jamaah yang akan masuk masjid menyucikan terlebih dahulu kaki mereka. Tentunya agar tidak membawa najis ke dalam masjid.

Kulonprogo
Tidak hanya menghasilkan perak tempat ini juga ternyata memiliki bangunan vernakuler tersendiri yang khas. Ketika turun dari bis dan berjalan menuju lokasi ternyata pemerintah sendiri concern terhadap bangunan heritage dan bangunan kuno terlihat dari adanya papan pemberitahuan yang menginformasikan tentang bangunan tersebut sehingga tidak akan dilupakan begitu saja. Ada satu rumah di kawasan kulonprogo yang asli khas kulonprogo dan dibeli oleh pihak UGM karena hampir hancur karena gempa Jogja. Rumah tersebutlah yang kami datangi. Rumah tersebut milik salah satu orang jawa dan masih terawat sampai sekarang ini. Rumah tersebut cantik dari material kayu. Terdapat pendopo dan ada hirarkri antara rumah utama dan pendopo di depannya. Sangat suka terhadap pemeliharaan bangunan tua di Kulonprogo ini termasuk kepada UGM yang telah menjaga kebudayaan ini kepada kita.
Perjalanan ke Jogjakarta kali ini terasa sangat berkesan, banyak ilmu yang saya dapatkan dan pengalaman ruang yang menambah vocabolary bangunan. Bahkan banyak pengalaman-pengalaman yang tidak sempat saya dokumentasikan dalam kata-kata maupun foto atau sketsa. Jogja bagi saya banyak menyimpan sejuta cerita yang tak tersampaikan dengan kesahajaannya menyimpan budaya. Saya harap Bandung dimana saya berkuliah dapat pula merujuk banyak pada Jogja pada heritage-nya dan pada kotanya.


Ditulis oleh :
Sosiana Dwi Ningsih
Arsitektur ITB 2011
15211043
Untuk keperluan tugas ekskursi Arsitektur Nusantara


Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Sunday, 28 October 2012

TALKSHOW jiwo j#ncuk

Posted by Sosiana Dwi On 11:44 pm
Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Saturday, 27 October 2012

Kawah Putih + Kebon Strawbery (Ciwidey)

Posted by Sosiana Dwi On 9:59 pm
Sabtu, 27 Oktober 2012

Masih dalam satu periode liburan idul adha. Liburan idul adha ini memang aku tidak bisa kembali ke kampung halaman. Padahal dalam hati kecil aku sudah teramat rindu dengan rumah, dengan ibu, dan semua yang berbau kampung halaman. Sudah sejak dua minggu yang lalu hasrat untuk pulang itu mengeras dalam kepala dan angan-angan tapi apa daya akhirnya ini semua mencair dan tergantikan oleh tugas PKM yang tidak kunjung selesai.

Tapi ternyata ada hikmah di balik ketidakpulanganku. Yang aku pikir liburan ini tidak akan menyenangkan karena tidak akan ada makanan semacam daging ternyata salah. Malam sebelumnya ada kiriman daging kurban dari pak RT tempat aku tinggal.  Daging sapi hasil kurban itu bisa dibilang cukup banyak untuk ukuran anak kost. Kita memang dekat dengan lingkungan tempat kost kami dan ada manfaatnya juga akan hal itu. Akhirnya aku, Fitri dan pacarnya Fitri membakar sate sapi di halaman atas kontrakan kami. Bahkan kami juga sempat membagi-bagikan rezeki kami pada teman-teman yang juga tidak sempat mudik ke kampung halaman.

Itu hikmah yang pertama dan yang kedua mungkin aku bisa diberikan kesempatan lebih untuk merasakan jalan-jalan di kota Bandung, tempat aku kuliah kini. Sudah lama aku mendengar tentang Kawah Putih yang terletak di Ciwidey tapi tak pernah sekali pun aku berkunjung kesana. Aku pernah melihat tempat itu di salah satu shooting sebuah film yaitu Heart dan sering pula mendengar ceritanya dari televisi. Sepertinya tempatnya indah. Mimpi itu terealisasi pula melalui kelompok 3 studio AR2100 yang yang masih berada di Bandung yaitu Zunaiza aka Bu Haji, Jihad, Arif Rizki Hutomo aka Tomo sang empunya mobil, Ninis, dan Ocha. Kami berenam janjian di gerbang depan kampus jam 07.00 namun dilanggar sendiri olehku yang baru bangun jam setengah 8 pagi. Hehe

Menempuh perjalanan yang cukup lama yaitu sekitar 3 jam an dengan bantuan google map navigasi dan tanya sana-sini sampailah kita di tempat tujuan. Lewat Pasteur - Tol Kopo - Ciwidey -Pasir Jambu - 16 km lagi ke atas buat menempuh kawah putih dengan total jarak 40 km (sumber Google map) .

Sesampainya di gerbang masuk kita diberi pilihan, akan menuju gate terdekat dengan kawah putih dengan mobil yang kita bawa dan diberi charge parkir mobil sebesar Rp 150.000,00 dan masih pula dihitung per orang Rp 15.000,00 atau naik ke atas menggunakan kendaraan umum yang disediakan pihak pengelola dengan rincian Tiket masuk Rp 15.000,00 ,tiket kendaraan Rp 10.000,00 dan tiket parkir Rp 6.000,00. Penuh perhitungan akhirnya kami ambil yang kedua! :D

Jarak antara gerbang masuk dengan lokasi kawahnya lumayan jauh sekitar 15 menit naik mobil ditempuh dengan kendaraan umum yang telah disediakan. Pemandangan yang kami lalui begitu indah dengan pepohonan hijau yang menjulang tinggi. Sampai pula pada titik akhir yaitu kawah putih. Kyaa, kami takjub dengan pengelolaan wisata ini dengan baik terbukti dengan kebersihan yang sangat amat terjaga. Tidak terlihat sampah sedikit pun kecuali di tempat sampah. Tempat sampah pun dibagi menjadi dua jenis yaitu anorganik dan  organik. Dan tak hanya itu, pemandangannya bung! Cakep! Putih! indah! :D

Satu kata : KYAAAAAAAAA :D

Anjuran kalau datang kesini, kalau sudah mulai mual tenggorokan kering, pusing-pusing lebih baik hubungi petugas kesehatan yang berada di situ karena bisa di pastikan engkau tengah keracunan belerang.

Kawah Putih 

Puas dengan Kawah putih dan foto-fotonya yang indah kami kelaparan juga dan membeli makanan yang berada di sekitar tempat parkir. Harganya rata-rata tempat wisata dari mulai 5000 - belasan ribu. Tak ingin kembali ke Bandung dengan tangan kosong maka segeralah kami beli oleh-oleh. Tapi kami ini penganut anti mainstream makanya kami mencari oleh-oleh Strawberi namun yang menyediakan sistem petik sendiri. Karena hari sudah mulai hujan dan hampir semua kebun tersebut  tengah kosong persediaan strawberinya maka dapatlah kami terdampar di Saung Sari. Di tempat tersebut kita bebas memetik strawberi sendiri dengan membayar strawberi sebanyak yang kita ambil. Satu kilonya seharga Rp 40.000,00 dan rasanya manis tanpa asem. :D. Kita bisa juga menikmati strawberi goreng maupun makanan berbau strawberi dengan mengocek lebih banyak uang di kantong.

Dua kata untuk hari ini ; KYAAAAAAA KYAAAAAA :D
Kebon Strawberi petik sendiri

Foto-foto kenangan


Note :
Seringkali kita jenuh dengan rutinitas, menyapa alam adalah alternatif untuk kita bisa menikmati dan mensyukuri hidup.

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Wednesday, 17 October 2012

Puisi Senja

Posted by Sosiana Dwi On 10:30 pm
Aku dedikasikan kepada teman satu peng"goreng"an, Fitri Sekar Asih. Sudah lama tidak bermelow drama dengan bantuan puisi

Aku akan mengarungi pekat senja
Hingga nanti perjumpaan dengan malam
Hanya bintang yang akan berkisah keadaannya
lagu malam tentang dendang kesepian yang bersaut
Dan sinar mentari yang mampu memantulkan kisah itu pada raut rembulan 


Kepada sang senja yang entah siapa, haha

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Tuesday, 16 October 2012

Lahan Parkir vs Shelter Sepeda

Posted by Sosiana Dwi On 9:52 pm

Malam ini dari kicauan burung biru terdengar ribur-ribut mengenai shelter @bikebdg yang tengah mengalami masalah dengan pihak Unikom. Berita secara tertulis belum terdengar dari media cetak maupun online, hanya saja media jejaring sosial sudah mengulasnya dengan beragam opini publik yang terangkum dalam hastag sepedaVSUnikom. Dari kumpulan opini aku menyimpulkan banyak klausa dalam benakku tentang apa yang sebenarnya terjadi. Eng ing eng...

Bermula dari adanya program kreatif bertema bike sharing dari pemuda Bandung yang diprakarsai oleh bike bdg dan Bandung Creativity City Forum (BCCF) untuk membuat 10 titik peminjaman sepeda di penjuru Bandung. Hebatnya program ini adalah yang pertama di Asia Tenggara untuk skala kota dan dibiayai bukan oleh pemerintah! Selengkapnya bisa baca disini.

Salah titik shelter itu ya di trotoar yang berfungsi ganda sebagai lahan parkir Unikom yang berada di Jalan Dipati Ukur atau DU. FYI sih, jalan DU khususnya yang berada di depan Unikom ini mencerminkan kesemerawutan lahan parkir. Terlihat jika saya sedang melewati kampus ini terlebih sedang jam makan siang atau jam pulang mahasiswa. Wuizz, macet gila. Apalagi Unikom ini bangunannya mendekati Simpang Dago, sebuah perempatan yang trafficnya padat setiap harinya sehingga bisa terlihat tidak ada Unikom-pun jalan ini bakal macet apalagi ditambah adanya lahan parkir yang meluber ke trotoar bahkan ke jalan.

Karena kemeluberan yang semakin parah hal itulah mungkin yang membuat si Rektorat tidak menyetejui adanya shelter tersebut. Padahal tumpahnya sepeda motor dari lahan parkir ke trotoar itu bukan salah shelter sepeda bukan? Dan hanya memakan lahan kira-kira 1x3 meter. Si rektorat mempertahankan lahan seluas 1x3 yang biasanya berfungsi sebagai lahan parkir mahasiswanya tersebut.

Dari kabar yang didengar oleh saya dari burung biru juga didapat bahwa shelter tersebut Rabu malam, 17 Oktober 2012 resmi diusir dari trotoar Unikom, dari trotoar milik negara. Kalau menilik dari aksesibiltas jalan yang pernah saya pelajari di TPB SAPPK sebuah trotoar hanya berfungsi sebagai tempat pejalan kaki berjalan agar terhindar dari kendaraan bermotor. Bukan berarti pejalan kaki harus membagi ruang dengan kendaraan bermotor berdiam diri. Tujuan trotoar kan untuk keamanan pemakainya dari kecelakaan, pertanyaannya siapa yang butuh keamananan ketika terjadi kecelakaan? Pejalan kaki atau motor?

Banyak pendapat nangkring di kumpulan hastag tersebut , salah satunya seperti :

Xx :Gw kira ga perlu sekolah tinggi tinggi buat tahu bahwa trotoar tuh bukan tempat parkir motor #sepedaVSunikom

G inget ma keselamatan pejalan kaki tuhh "@misshitta: Area trotoar mau dijadiin lahan parkir. Itu yg gue nggak abis pikir#sepedaVSunikom"

UURI No.29.2009 Pasal 62(2) Pesepeda berhak a/ fasilitas pndkng keamanan,keselamatan,ketertiban&kelancaran dlm brlalu lintas#sepedaVSUnikom

UURI No.29.2009 tentang lalu lintas & angkutan jln.Pasal62 (1) Pemerintah hrs mmberikan kmudahan berlalu lintas bgi pesepeda#sepedaVSUnikom

·         Note : Inilah kekuatan revolusi bemedia massa dan berdemokrasi di dunia maya, satu per satu opini yang tanpa kita sadari membangun negara dan bangsa bermunculan walau tidak harus menjadi seorang anggota dewan. Benar atau salah lagi-lagi kita yang menjadi kontrol atas emosi yang kita keluarkan sendiri. Artikel ini hanya opini massa yang mna belum yang belum di cross cek lagi. Saya hanya sedang berdialog dengan diri saya mengenai aksesibilitas jalan saja yang pernah saya pelajari.

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Dialog tidak penting

Posted by Sosiana Dwi On 1:30 am
Ini tahun keduaku belajar di perkuliahan dan menjadi tahun pertamaku masuk jurusan. Perkuliahan dengan sistem yang berbeda dialami oleh diriku yang menempuh kuliah di ITB. Tidak hanya ITB tentunya, IPB pun menerapkan sistem yang sama yaitu Tahap Persiapan Bersama (TPB). Jadi satu tahun sebelum ini aku masuk ke dalam fakultas yang diberi nama SAPPK (Sekolah Arsitektur Perancangan, dan pengembangan kebijakan kota) yang didalamnya terdapat dua prodi yaitu Arsitektur dan Perencanaan Wilayah Kota atau biasa disingkat planologi.

Nah, jadi alurnya adalah masuk ITB --> Masuk fakultas/sekolah --> masuk jurusan

Bahagia rasanya bisa lepas dari TPB dan tidak lagi belajar mata kuliah Kalkulus, Kimia dan Fisika. Kalau di prodi lain mubkin mata kuliah ini amat sangat berguna. Namun di jurusan yang nantinya akan aku rasakan sepertinya agak terlalu terlalu dalam untuk mempelajari tiga mata kuliah itu. Tapi ya sudahlah, ini akan segera berakhir.

Oh ya, selalu ada cerita ketika orang bertanya jurusan padaku ketika aku masih TPB, seperti ini dialognya :

P : Kuliah dimana?
A : Di ITB
P : Ohh, jurusan apa emang?
A : Belum punya jurusan masih fakultas
P : Kok bisa? :o
A : Yah emang gitu sistemnya -_-. Aneh ya? !@#$


bisa juga


P : Kuliah dimana?
A : Di ITB
P : Ohh, jurusan apa emang?
A : Arsitektur (Ceritanya berusaha mempersingkat dialog dan sedang berdoa moga masuk arsi, tapi nyatanya ...)
P : Wah, udah masuk SPA donk?
A : Hah? Apaan tuh SPA?
P : Katanya anak arsitektur, masa gak tau sih? (muka ga percaya)  itu lho Studio Perancangan Arsitektur
A : Kok masnya tau?
P : Saya kan arsitektur juga, tapi di univ X
A : Oh, hahahahahha !@!#!$ -_-


Atau dialog seperti ini :

P : Kuliah dimana?
A : Di ITB
P : Jurusan?
A : SAPPK
P : apaan tuh?
A : Sekolah Arsitektur Perancangan, dan pengembangan kebijakan kota (sambil ngos-ngosan)
P : Ooh, itu tentang apa ya?
A : gtu deh, (udah cape duluan) -_-'

Yang lebih parah adalah ini :


P : Gimana kuliahnya di Bogor?
A : Hah, Bogor? (muka bego)
P : Lho kuliah di ITB kan?
A : iya. Emang ITB apaan coba?
P : Institut Teknik Bogor kan?
A : heeh, iya , kemarin baru pindahan -_-



"Jadi jangan coba-coba bertanya mengenai jurusan kepada anak ITB terlebih yang sedang mengalami TPB. !!!!"

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Sunday, 16 September 2012

Jangan Ngoyo!*

Posted by Sosiana Dwi On 12:46 pm

Hampir seminggu tubuhku jatuh sakit. Melalui test darah yang telah menghabiskan persediaan terakhir uangku aku mengetahui aku terserang sakit yang sering dialami mahasiswa, tipus. Aku tidak tahu pasti apa pasal aku bisa langsung drop seperti itu. Tapi dari sumber google yang selama ini cukup jadi referensi aku tahu mungkin pola makan dan minumku agak tidak teratur dan jorok pastinya. Karena kalau tidak mengapa bisa si bakteri Salmonella typhosa masuk dan menyerang ususku.
Kuakui pola hidupku lama-kelamaan agak jorok. Dulu tiap hari aku tak pernah lupa membawa hand sanitizer dan sering palah-pilih makanan tidak seperti sekarang yang makan bisa dimana saja -di lantai studio contohnya-, jarang cuci tangan, sering makan di Ganyang, dan hal-hall menjijikan lainnya yang dilakukan dengan alibi lagi sibuk sebagai mahasiswa tahun pertama studio.
Kondisi badan pun tak bisa berbohong pada dokter. Tercatat tekanan darah saat pertama kali diperiksa adalah 90/70. Mungkin sebelumnya aku mengalami kecapekan luar biasa setelah ikut acara BM Day dan jelajah Heritage nya Dies IMA-G. Dua acara yang menyenangkan yang membawaku larut dalam kesenangan dan kecepekan yang tersembunyi. Malam sesudahnya badanku sakit tiada terkira, pusing-pusing, dan demam menyerang dengan pencapaian tertinggi 38,8 derajat. Sesudah itu aku akhirnya mangkir dengan ijin untuk tidak ikut studio dan kuliah beberapa hari. Hari Jumat tepat dimana pengumpulan pertama pengukuran bangunan tua milik ITB aku mangkir darinya. Untungnya dosen pembimbingku yang tegas sekaligus dosen waliku ,pak Eko Purwono mengijinkan aku tidak ikut studio. Aku diberi keleluasaan untuk mengumpulkan tugas setelah aku benar-benar sembuh dari sakit ini.
Luar biasa ternyata dampak sebuah sakit. You never know what will you do at that time. Just take a rest or sit or get medical check up. Dan menjadi orang sakit terkadang kau ingin terus menerus diperhatikan dan dijaga selalu oleh orang-orang di sekitarmu. Tak terhitung banyaknya aku mengiggau tentang ibu, bercucuran air mata tanpa sadar, merintih ketika Fitri atau Hana -teman sekosanku- lewat tapi diam ketika mereka mendekat. Terlebih makanan yang kau makan hanya bubur putih dengan rasa asin atau kecap saja setiap hari. Badan seakan-akan terus menerus terbawa lemah.
Untungnya terdapat malaikat penuh cinta di kosan 39 ini. Ada ibu jadi-jadian yaitu Fitri, ia merawatku dengan baik, mengompresku jika panas tubuhku tidak kunjung turun, bahkan pernah satu malam ia tidur dalam kamarku padahal tidak diperbolehkan takutnya penyakit ini menyebar, membuatkanku bubur yang asin dan hampir gosong, menyesuaikan masakannya, terima kasih Fitri Aulia :'). Terima kasih juga Hana Afifah Amini yang merawatku pula. Penuh cinta di kosan ini. Fitri Sekar dan Evan yang mengunjungiku dan melihat insiden memalukan itu, maaf ya jangan diingat-ingat. Kalau bukan karena kalian siapa lagi yang merindukanku di studio, miss you kalian :*. Kelompok anti pensil mekanik juga, selamat akhirnya tidak melakukan lagi apa itu pengukuran gedung boscha! :D Terutama kepada ibuku tercinta yang bisa merawatku hingga langsung sembuh dari sentuhan pertama pijatan yang ibu berikan. Aaah, ibuku emang paling cantik sedunia, paling the best :). I Love you mom,

Satu hal yang aku pelajari adalah penyebab sakit ini. Banyak hal yang kita minta , kita rencana, kita lakukan, dengan bumbu motivasi dan keinginan kuat tapi percaya juga bahwa terkadang fisik kita juga membutuhkan perhatian ekstra. Ambisi besar kita juga harus didukung dengan kekuatan kita yang juga harus besar. Atau ukurlah ambisi-ambisi tersebut dengan mistar kepercayaan diri, kekuatan fisik, karena sebuah ambisi dibutuhkan pengorbanan dan kerja keras. Istilah jawanya si jangan "ngoyo"!

But enjoy your time, rasa sakit kan juga bisa mencuci dosa-dosa kita :)


Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Saturday, 8 September 2012

Posted by Sosiana Dwi On 10:59 pm
‎"Mimpiku terlalu banyak tapi kaki dan tanganku masing-masing hanya berjumlah dua. Hanya ada dua kemungkinan, memfokuskan mimpi tersebut atau memberi banyak kaki dan tangan dengan cara mencari teman seperjuangan" - just quote of the day



Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia

Saturday, 14 July 2012

Posted by Sosiana Dwi On 9:27 am
Somebody help!
aku tidak bisa membuka facebook, google dan Twitter! Why?

Sketsa-sketsa Mimpi, akan membawamu ke imajinasi penuh impian dalam sketsa kasar manusia
  • Contact us

    Sosiana Dwi Architecture 2011 Bandung Institute of Technology