Saturday, 5 May 2012

Es shanghai

Posted by Sosiana Dwi On 4:34 pm

Es Shanghai tubagus memang amat menggoda untuk dinikmati. Campuran antara buah beraneka macam seperti semangka, melon, mangga, buah pir, apel, dan anggur yang diracik dalam satu kuah gula yang dicampur susu. Hmm.. Melelah lah liur kalo liat bentuknya.


Seperti siang Sabtu yang panas ini. Secara random aku ngidam es ini. Terakhir kali minum es ini yaitu saat bulan puasa. Namun saat itu aku menikmatinya bukan saat maghrib tiba tapi saat siang hari. Waktu itu memang aku sedang tak berpuasa begitu pula temanku Reta. Saat melewai pasar Simpang yang sumpek dan terik es shanghai lah yang melambai pada kami untuk dibeli. Dengan uang 7ribu kami beli satu porsi es shanghai dan dibungkus untuk dibawa pulang. Pulangnya kami naik angkot Kalapa- Dago ke Kanayakan. Karena esnya dibungkus denngan plastik bening jadilah semua mata menuju pada plastik itu. Glek. Jadi ngrasa bersalah bikin orang ngiler di angkot terlebih pas bulan puasa.

Sampai di asrama langsung deh kami menyerbu es Shanghai Tubagus Ismail.


Ayo kalo ada yang mau nyobain aku bersedia jadi tour guidenya lho, tapi dengan syarat aku ditraktir ya. Hehe


Published with Blogger-droid v2.0.4

Saturday, 28 April 2012


“Kusimpan rindu di hati
Gelisah tak menentu,
Berawal dari kita bertemu
Kau tak kan kulupa”

Sayup-sayup kudengar...

Angkot hijau Kalapa-Dago melaju membelah jalanan Dago dengan sedikit terhalang jalanan siang ini. Tengok kiri kanan hanya kulihat mobil berhenti. Kaca mereka gelap tak terlihat apakah mereka tersenyum atau kepanasan sepertiku juga. Sepertinya mereka tidak, karena hembusan AC pasti segar membelai perjalanan mereka di bumi yang kian panas ini.
Bandung, Kota dataran tinggi yang dilingkupi sebuah cekungan besar gunung-gunung diantaranya membuat kota ini harusnya dingin. Namun Bandung kini mulai panas dengan asap kendaraan deru besi jalanan.
Lampu memerah untuk kedua kalinya dalam jalanan yang sama dan sudah biasa jika dalam satu perjalanan aku bisa menempuh 2 kali lampu merah. Seperti biasa kini dalam sudut angkot, tempat favoritku mengamati jalanan.

“Ku ingin engkau mengerti
Betapa kau kucinta
Hanya padamu, kubersumpah
Kau akan ku jaga sampai mati”

Suara cadel nan lirih membelah keramaian....

Di sela kantukku ternyata memang terdengar sebuah lagu berdendang dengan frekuensi kecil.  Suara lirih itu berasal dari bocah kecil tak lebih dari dua tahun usianya. Pipinya memerah terbakar panas siang ini. Wajahnya terlalu lucu untuk bernyanyi di jalanan siang-siang. Keceriaan dan semangatnya yang hilang ataukah memang hak-haknya tertelan debu jalanan? Apakah pula senyumnya kian pudar dalam tempias hujan April ini?
“Ku ingin tahu siapa namamu, dan ku ingin tahu dimana rumahmu
Walau sampai akhir hayat ini,”
Entahlah, mataku menuju padanya, bocah kecil itu. Ia menunggu di sudut pintu dengan tanpa gairah kanak-kanak. Tinggi tubuhnya bahkan tak dapat mencapai ketinggian angkot ini seolah dia memang tidak dapat mencapai realita dalam hidupnya yang diberikan. Tanpa bisa bergerak dan menyiapkan ‘uang jajannya’, sekedar receh lima ratusan atau seribuan aku hanya terdiam, termangu dan berpikir. Dalam hati aku tak mengerti mengapa bocah sekecil dan selucu itu menggembala diantara roda jalanan kota kembang. Dengan sebuah lagu yang aku yakin bahkan dia tidak mengerti artinya.

“Jalan hidup kita berbeda
Aku hanyalah punk rock jalanan
Yang tak punya harta berlimpah untuk dirimu sayang”

Sumber : sentanaonline.com/public/images/news/gallery/0103112013.jpg


-----
Memang jalan hidup kita berbeda ngger[1]. Ketika aku kecil setidaknya aku bermain di lapangan yang luas dengan bola sepak dan anak laki-laki yang berkejaran. Tidak dengan jalanan yang ramai, sempit, berdebu, dan mobil motor yang berebutan. Tapi apakah keceriaan masa kecil kita berbeda? Apakah senyum masa kecil kita berbeda? Apakah gelak tawa jalanan dan lapangan berbeda? Apakah realita telah mengubah gemerlap sebuah kota menjadi kesedihan bagi sang bocah?
Gadis kecil itu pergi dengan tanpa sepeserpun receh di gelas bekas air mineralnya. Wajahnya tidak muram, tidak pula senang. Kulihat penumpang yang lain sedikit tak acuh akan kehadiran anak kecil itu. Begitu pula aku yang tertegun melihatnya, melewatkan memberi sepeser uang untuk membelikannya es di siang-siang.
Gadis itu pasti tidak tahu apa arti lagu yang ia nyanyikan. Bahkan apalah sebuah kata ‘arti’ pasti dia pun tidak mengerti. Realitanya kini jutaan anak Indonesia telah sama persis seperti gadis kecil ini. Menyayikan sebuah lagu yang bahkan mereka tak mengerti isinya. Ironisnya lagu-lagu yang mereka dengar tidak pantas untuk dinyanyikan anak kecil. Dari yang bertema percintaan, sarkasme, hingga bertema dewasa yang menyinggung sedikit ke pornoaksi.

Anak-anak itu dipaksa pada realita bahwa mereka bukan orang berada dan mereka harus sedikit berusaha. Lagu adalah hal termudah yang bisa digunakan sebagai cara mencari uang. Dan karena lagu bukankah mereka pula tumbuh berkembang?

Bagiku sendiri sebuah lagu akan mensuasanakan hati bagi si penyanyi itu sendiri. Saat kau mendengar lagu Bunda pasti kau akan merasa kangen pada ibumu kan dan teringat bagaimana ia merawat kita dari kecil hingga besar. Lagu juga sebagai motivasi, seperti sekarang ini banyak bermunculan lagu patah hati dan tema galau lah yang paling sering mendera jutaan muda-mudi zaman sekarang. Sebagai contoh lagu Punk Rock jalanan yang dinyanyikan bocah kecil tersebut, lagunya bertema sedih dan seperti nerimo ing pandum[2] terhadap realita kehidupannya. Sehingga perkembangan mental si anak pun bisa jadi akan menerima kehidupan dengan apa adanya. Ironisnya apa adanya mereka tidaklah jauh berputar dalam hidup jalanan urban. “Mau dibawa kemana” seperti lagu Armada. Mau dibawa kemana nasib anak Indonesia apabila mereka dibesarkan dengan kidung[3] dan cerita jalanan yang lingkarannya berputar dalam satu jalanan yang sama yang dilalui mereka setiap hari.  

Anak-anak merupakan masa tumbuh kembang paling ideal dengan tunas-tunas yang sangat reaktif terhadap segala perubahan. Akankah anak-anak sekarang sudah mendengar keluh kesah pesimisme kehidupan dunia yang akan dengan mudah melukai pikiran-pikiran polos mereka. Baik anak jalanan maupun anak di seluruh pelosok Indonesia mereka pantas mendapat pendidikan lewat lagu yang mereka bawakan. Sehingga optimisme perubahan sebagai pupuk kedewasaan melekat karena tampuk kepemimpinan nantinya akan ada pada generasi muda seperti halnya mereka.

Percayalah dalam nada ada cerita, percaya juga dalam kepolosan mereka akan ada Einstein-Einstein muda, J



[1] Panggilan untuk anak-anak (jawa)
[2] Menerima apa adanya
[3] lagu


Bandung, 28 April 2012

Monday, 23 April 2012

Penggunaan Re-Use : Niat Baik yang Salah Kaprah

Posted by Sosiana Dwi On 9:22 pm



Nama dari kertas re-use pertama kali aku dengar dari kampusku, ITB. Berawal dari zaman PROKM ITB (Pengenalan Ruang Orientasi Keluarga Mahasiswa ITB) atau biasa dikenal dengan ospek dimana saat itu kita diwajibkan membuat sebuah buku dari sisa kertas yang sudah tidak terpakai lagi bagian belakangnya. Itupun awalnya aku salah dengar, aku kira penulisan re-use adalah Rius. Maklum aku benar-benar anak desa yang lumayan katro.

Sebenarnya konsep kertas re-use sudah aku aplikasikan lama sebelum ini hanya saja dahulu aku tidak tahu istilah kerennya. Biasanya aku menggunakan kertas sisa itu untuk coret-coretan rumus saat ulangan atau latihan soal. Jadi hal itu tdak asing, namun kali ini lain karena pemakaiannya agak dipaksakan.

aku yang merupakan anak baru dalam dunia mahasiswa sekaligus pula anak baru di Bandung tidak tahu mesti berbuat apa padahal spek tersebut harus tersedia esok hari. Kertas re-use tersebut mencari dimana saja aku tidak tahu padahal aku sendiri baru saja pindahan ke kos baru. Itupun belum semua barang-barangku terpindahkan.

Hal yang pertama yang aku lakukan untuk memenuhi perintah membuat buku re-use tersebut adalah ke tukang fotokopian. Karena aku belum punya kertas apa pun yang bisa di jadikan re-use paling banter adalah kertas legalisasi ijazah. Hal tersebut juga karena perintah kakak taplokku atau kakak pembimbingku.

Pergilah aku ke Fotokopian terdekat kosan, aku minta sama mas-masnya dan ternyata banyak yang mencari spek tersebut sehingga kertas re-use itu sudah tidak tersedia lagi. Dengan akal cerdik akhirnya kertas re-use tersebut aku hasilkan dengan cara memfotokopi kertas A4 biasa dengan sembarang data lalu kertas putih di baliknya aku gunakan sebagai kertas re-use yang dimaksud oleh kakak-kakak itu. Sebenarnya dalam hati aku pikir ini pekerjaan yang ekstra double, pertama memfotokopi kertas bersih dengan sesuatu yang asal saja sehingga kertas itu telah di katakan "re-use". Padahal "use" apa yang telah kita lakukan? "Use" tersebut bisa dikatakan pemaksaan untuk penggunaan.

Telah lama semenjak kejadian itu aku baru tahu jika penggunaan kertas re-use itu ada makna dan tujuannya. Ternyata re-use bertujuan agar kita bisa menggunakan kembali kertas sisa fotokopian yang biasanya selalu sisa bagian putih di belakangnya. Agar kita bisa hemat kertas dan mendaur lagi kertas. Pada dasarnya kertas itu dibuat dari bubur pohon sehingga semakin banyak kertas yang kita butuhkan semakin banyak pula pohon yang ditebang. Mulia niatnya namun bagiku kacau implementasinya.

Pekerjaan macam itu bukannya malah membuang-buang kertas baru dengan fotokopian hal yang tak berguna. Padahal kertas yang difotokopi pada sisi sebelahnya bisa digunakan kan? Atau dengan kata lain dua sisi kertas bisa digunakan jika kita tidak mematuhi aturan re-use yang konyoll tersebut. Ini tak lepas dari andil salahku yang sudah mahasiswa namun tidak bertanya lebih “Kenapa aku mesti nurut aja?” atau “Buat apa pekerjaan itu?”. Tapi apa daya tidak semua orang punya kertas bekas di kamar kosnya atau bahkan rumahnya. Tidak semua menggunakan kertas di rumahnya, karena tidak semua keluarga bekerja dengan kertas. Atau anak baru sepertiku yang mulai kuliah saja belum sudah ada kertas sisa.

“Harusnya kan kalian usaha mencari kertas sisa!”

Kita bisa saja mencari kertas bekas di perkantoran apabila sempat tapi apabila waktu tidak sempat apakah kita juga mesti nurut juga?

Celotehku saat ini hanya ingin mengungkapakan kalau penggunaan kertas re-use itu baik, kita bisa menggunakan kembali kertas sisa yang tidak terpakai. Tapi hal tersebut tidak perlu dipaksakan apabila memang tidak ada lagi kertas re-use. Kita gunakan saja kertas biasa yang masih kosong sebagai spek kita tersebut. Dengan begitu sisa kertas di bagian belakangnya bisa digunakan sebgai re-use di kemudian hari. Tidak ada yang terbuang dan program recycle kertas masih dapat kita lakukan walaupun tidak dengan doktrin spek kertas re-use.

Sampai saat ini saya yang masih ‘nurutan’ telah menggunakan hampir lebih dari 3 buku yang terbuat dari kertas re-use bohongan. Dan saya telah menyesal berbuat hal bodoh tersebut.

 Silahkan berkomentar, mahasiswa harus idealis!

Sumber : google.com

Tuesday, 3 April 2012

Minggu Tersial dalam Tahun 2012 :(

Posted by Sosiana Dwi On 8:04 pm

Aku mau menulis tentang dua kesialan yang terjadi padaku. Bukan berniat mau ngeluh tapi aku berniat mau bertanya, “KENAPA ini terjadi?”. Hiks
Tanggal 23 Maret 2012 adalah hari Nyepi yang berarti ada warna merah pada kalender Indonesia pada tanggal itu. Karena hari itu hari Jumat maka ada 3 hari merah yaitu Jumat, Sabtu dan Minggu. Aku yang tidak merayakannya menggunakan momen itu bukan untuk menyepi tapi untuk pulang kampung.
Sebenarnya aku jarang untuk pulang ke Purbalingga pada saat banyak tugas seperti ini selain karena malas keluar ongkos juga karena jauh. Lama perjalanan Bandung-Purbalingga sekitar 8 jam, libur yag disediakan  biasanya paling cuma 2 hari. Kalo 2 hari itu berarti 48 jam , dikurangi 8 jam belum perjalanan ke terminal atau stasiun bisa sampai 3 jam, jadi waktu tersisa 37 jam. Belum lagi waktu tidur karena capek naik kendaraan itu bisa sampai 4 jam. Sisa 33 jam. Oia waktu tidur malem 8 jam. Sisa 25 jam yang paling digunakan buat apa coba? tidak efektif. Kalau nggak pulang kampung aku bisa ikutan acara kampus yang berjibun di weekend. Bisa nyuci baju, nyetrika, atau beres-beres kamar. Paling sial ya ngerjain tugas saat weekend.
Namun aku bilang tanggal 23 itu pengecualian. Alasan utama yaitu kakakku pulang dari Sumatera, dia jarang pulang jadi ini kesempatan buat minta uang (*ups). Yang kedua karena hapeku yang paling kusayang sudah rusak, niatnya mau dibenerin di kampung aja. Yang ketiga dapet undangan buat E-KTP yang katanya bakal jadi satu-satunya KTP kita. Yang terakhir karena liburnya 3 hari ajah si. \
Ini rundown kesialanku :
1.       Tiket Kereta Api udah abis!
Ini kesalahan aku juga sih ga booking cepet2. Tapi itu juga gara-gara ada UTS kalkulus dan praktikum fisika. Ibu udah marah-marah nyalahin aku lagi, hesh. Ya udah moda transportasinya dibuah jadi naik bis, dan itu pertama kalinya aku naik bis pula. Aku emang dari dulu selalu dan always naik kereta, ya karena lebih cepet dan murah itu terutama. Ga ada macet dan ga usah manjat naik gunung yang sukanya bikin mabok.
Then,  Kamis sore aku udah ancang-ancang balik, dari asrama aku jam 2 siang sehabis itu aku tutorial kimia dahulu jam 3 sore buat ke terminal Cicaheum Bandung. Rapat Kominfo sebentar di Coffe Toffe jam 5 dan menunggu Enggar, Nur dan Leli buat berangkat bareng.

2.       Bolak-balik McD kampus karena slah paham
Aku kira kita bakal ketemuan di McD Simpang namun ternyata janjiannya diganti di belakang kampus. Ergh, aku udah jalan ke McD jam enam sore terpaksa balik lagi. Mending aku makan di McD tapi karena ga ada dananya ya udah makan nasi goreng rasa aneh banget. -__- Disana ternyata setelah kumpul semua (itupun kira-kira nunggu setengah jam) kita harus naik angkot Caheum-Ciroyom yang harus jalan ke arah McD dulu baru bisa naik. Aku yang sudah bolak-balik McD-Kampus jadi menolak mentah-mentah. Karena di belakang kampus ada angkot Caheum-Ledeng aku memaksakan naik itu, toh sama-sama ke Caheum. Mereka nurut aja. 

3.       Saat di jalan kita baru ngerasain ternyata angkotnya muter-muter kembali deh aku disalahin.
“Harusnya naik Caheum-Ciroyom aja, jalan dikit aja kok ke McD gak mau,” Enggar memarahiku.
Ergh, aku udah b0lak-balik tau! Kesel juga deh. Salah gur apa? Argh!!!
4.       Sampai di terminal bisnya udah abis dan mesti nunggu sampai satu jam.
Si Enggar nuduh aku salah lagi deh gara-gara salah anik angkot. Eh ternyata nggak sampe satu jam bisnya datang. Ada dua pilihan mau naik Bis Purwokerto atau naik bis yang ke Bobotsari, Purbalingga (Pbg). Aku yang tujuannya mau ke Pbg ya memilih yang terakhir walaupun bisnya ga AC-an dan kelihatan buruk rupa. Si Enggar dan Nur aku persilahkan naik yang Purwokerto tapi mereka maunya ikut aku, buat temen jalan si.

5.       Jalanan Bandung jawa itu macet parah !
Bis yang bernama Harum Prima itu jalan ketika pukul Setengah sepuluh malam. Itu awal pertama aku naik bis Bdg-Pbg jadi agak kagok. Sepanjang jalan aku tidur saja biar nanti saat aku sampai rumah tidak perlu tidur lagi. Tapi ada kendala yaitu saat bis melewati jalan berliku di daerah Ciawi (kata GPS-ku si gitu), ada kemacetan panjang. Gila itu macet paling keren yang pernah aku liat, macetnya dua arah . jadi kalo dilihat-lihat itu kayak waktu berhenti sebentar. Dan yang bikin ekstrem macetnya berliuk-liuk di daerah rawan dan banyak tikungan. Jadi kalo pas macet remnya blong itu bakal sesuatu banget lah. Serem.

6.       Bis bernama Harum prima itu akhirnya “ngambek”
Sekitar beberapa jam mobil hampir ga bergerak. Setelah jalan aku tidur lagi sampai-sampai bis bener-bener berhenti padahal mobil lain ngga berhenti. Huaaa, mobilnya mogok.  Pertama-tama aku santai aja, paling sebentar namun ternyata lama. Lihat sekeliling bis mogok di hutan belantara, mana berkabut, bunyi tonggeret, pas tikungan lagi jadi kalau ada mobil lain lewat maka mesti dituntun biar ga masuk jurang.
JURANG! Itupun mesti ngantri dua arah. Horor lah tempatnya, kalo di cerita hantu ya cocok lah apalagi ada gubug serem dideket situ. “Apalagi? “pikirku.

7.       Dioper pada bis yang super duper overload
Nah, kayaknya supirnya udah nyerah kali ya, jam juga udah menunjukan jam 5 pagi padahal seharusnya itu waktu aku udah sampai rumah. Demi apa coba? kita dioper ke bis lain yang juga ke Purbalingga. tapi aku langsung ilfeel pas liat itu bis. Sama bobroknya dan itu manusia udah kaya pindang dijejel-jejelin. Semua orang masuk , ga cewe ga cowok, ga aki-aki, ga ibu hamil, yang kebagian tempat duduk berdiri. Nah, padahal masih jarak jauh banget perjalanannya. T-T akhirnya aku naik bis berikutnya yang ke Purwokerto dan harus nyambung lagi ke Pbg itupun si Nur dan Enggar berdiri padahal mereka itu kebawa-bawa sialnya aku.

8.       E-KTP rusak!
Singkat cerita aku udah sampe rumah setelah perjuangan yang panjang dan aku akhirnya tidur 3 jam lebih sesampainya di rumah. Esoknya niat bikin E-KTP , udah rapi jali ke kantor kecamatan dan ooooh tidak. Itu kantor parah malah tutup! Padahal bilang mau melayani pelanggan walau hari minggu. Ah, pake acara rusak segala padahal aku mau bikin mumpung bisa pulang T-T

9.       Ban Bocor disaat yang tidak tepat
Singkat cerita (lagi) aku udah puas sama liburan super singkatku dan mesti pulang. Kebetulan aku pesen tiket kereta ke calo pula , ya lumayan mahal lah tapi demi trauma naik bis aku bela-belain lah. Kereta berangkat jam 5, jalan dari rumah ke stasiun sekitar 1,5 jam nah karena kakakku masih ngutak-utik labtopku sampe jam 3 jadinya aku baru berangkat jam setengah empat sore. ibuku udah ngebut banget lah lalu tiba-tiba ketia udah sampe di Sokaraja ada yang aneh sama motor. Dan tralala, bannya bocor! Udah jam 4 cuy! Ahh, ni orang pasti iseng naruh paku deh, udah dua kali lewat sini selalu bocor bannya deh.  Gugup deh , gimana bisa jam 5 sampe stasiun. “Ayo mas cepet !” ibuku ga sabar.

10.   Finally ketinggalan kereta
Ah, lama sampe jam setengah lima itu ban baru beres di tambal . setengah jam lagi! Sengebut apa coba ibuku yang lemah gemulai itu buat ngejar kereta jam 5? Entahlah dan taraaaaa, kereta emang udah pergi ketika aku 5 menit sampai di stasiun. #sad
Untungnya bapaknya Nur mau tuh tiket coba kalo engga aku mesti bayar tiket yang ga jadi aku pake
Aku naik bis Sinar Jaya ke Bandung akhirnya jam 9 malam, padahal aku berangkat dari rumah dari jam setengah 4. Badan udah pegel lah, padahal besok mesti kuliah pagi, pak Koko pula lah.
11.   Hape rusak lagi!
Jadi hape yang Sony Ericcson W200i udah dibenerin kakak, tapi karena kesel sama seseorang aku banting tuh hape saking keselnya eh itu hape rusak lagi. Huhuhu, padahal aku udah sayang sama itu hape, kalo sms ga pake ribet lah ga kaya SE Xperiaku.

12.   KTM, dimana KTM?
Mau praktikum PTI dan harus absen pake KTM dan “mana KTM? Mana KTM? Duh” , terakhir aku inget aku ambil uang lagi di Borma buat belanja barang. Argh, KTM ilang dan ga ketelen di ATM-nya jadi itu ilang. Mesti bikin lagi dan mesti ngeluarin uang lagi! Iah! FYI, KTM atau kartu tanda mahasiswa ku, terutama di ITB itu sekaligus kartu ATM BNI sekaligus pula alat penyalur beasiswa jadi kalo ilang itu sesuatu banget lah.

13.   Kontarakan ga jadi diambil!
Aku udah pesen kontrakan udah ngasih DP sekitar 170.000an dan tiba-tiba anak yang mau ngontrak itu pada ogah termsuk aku dan akhirnya aku mesti merelakan utu duit DP. Argh!

14.   Modem... hiks
Terakhir ini puncak kesialanku. Pulang dari kampus aku nerobos ujan pake payungku yang emang rada kecil. Kebetulan hari itu abis asistensi so aku bawa basoka kemana-mana. Karena ujan deres aku yang takut basokaku kenapa-napa alias basah kena cipretan ujan (FYI, basoka itu bawahnya ada lubangnya kecil) jadi ngelindungin abis itu basoka, kerja keras dua malemku. Sampai di asrama aku basah kuyup lah. Ngerjain tugas dan lalalala dan pas mbuka tasku , jder! Tasku basah banget ternyata. Dan benda yang paling di tas bagian paling basah adalah benda elektronik semua cem hape butut, charger hape, sama modem. Ahh.. basah semua. Aku inisitif nyolokin modem ke komputer ngecek masih waras belum. Awalnya masih bisa connet tuh sampe tiba-tiba koneksi terputus dan moem ga masuk ke komputernya. Panik tuh, akhirnya bawa deh ke magic com buat di keringin. Aaahhh, modem! Ampe itu mode panas pun masih ga bisa dicolok-colokin. Dengan menangis dan meratapi nasib aku nangis deh ke kakak aku. Modemku, aku kerja pake apaka donk sekarang (baca : online) Kenapa semua kesialan terjadi padaku akhir-akhir ini? T_______________T


Ahhh, itu minggu tersial yang berentetan terjadi sama aku, semoga ada hikmah yang bisa diambil dari kejadian itu. Huft, mesti sabar kayaknya deh. Semoga, SEMOGA :’(
Tau ngga padahal niatnya aku mabu buat tulisan ini untuk pulang kampung tersial, dan ternyata ini berlarut jadi minggu tersial. 

Tuesday, 13 March 2012

Optimisme dalam Berjalan Menembus Batas

Posted by Sosiana Dwi On 9:02 pm
Aku mau sedikit promo buku dari teman ini.

Dia yang disebut temanku menulis antologi cerita bersama penulis buku Negeri 5 Menara , Ahmad Fuadi. Buku ini bercerita tentang kisah hidup asli dari mereka atau teman dekat mereka yang berhasil cobaan dan ujian hidup dan akhirmya meraih sukses. Melalui semangat yang tiada lepas buku ini mengajarkan kepada kita tak ada guna memberikan keluh kesah. Resah dan gelisah pasti akan terbayar dengan segala usaha yang benar-benar kita curahkan sepenuh hati. Tak usah ragu membelinya karena ada seteguk inspirasi dan motivasi dalam setiap cerita.

Seperti salah satu kisah perjuangan "Lintang" asal Kebumen yang sukses meraih mimpinya dengan kayuhan semangat-semangat setiap hari.

Bagi yang suka galau (termasuk pemilik blog ini) wajib membaca. InsyaAllah menyalakan secercah lilin di hati buta yang gelap karena galau.

Salam Semangat

cc : Abdulah Mabruri

^^

Ini Fokusku

Posted by Sosiana Dwi On 8:45 pm

Menulis blog sudah hampir tidak pernah aku jangkau lagi. Padahal dari mulai Sabtu, 10 Maret 202 lalu aku berjanji akan bersungguh-sungguh mengisi hidupku dengan dunia jurnalistik sesempit apa pun waktuku. Karena dunia manusia itu terbagi-bagi pada sub bab yang sangat banyak seperti halnya waktu yang terbagi menjadi banyak prioritas waktu. Seperti halnya aku.
Ini cerita hidupku versi aku :
Masa SMA-ku begitu terasa sebagai siswa yang amat sangat rajin. Belum mengenal informasi jauh seluas sekarang ini. Pulang sekolah ya aku akan balik ke rumah. Akses rumah dan sekolah memang lah sangat jauh, 13 km dengan kendaraan umum. Selain itu akses periznan untukku dari ibuku juga minim maka praktis aku tak mengenal hal yang namanya organisasi secara mendalam.
Di SMA aku mengikuti gerakan pramuka namun itu hanya sebatas numpang absen saja karena  aku tak boleh ini dan itu. Maka pengalaman organisasiku ya hanya sebatas itu-itu saja. jiwa kepemimpinan juga tak pernah ada.  Dan mungkin karena “dendam”  itulah aku melampiaskan hidup yang penuh dengan pengalaman di saat aku di kampus.
Awalnya aku berharap bisa aktif di kampus dengan ikut ini itu sesuai kaa hati. Dengan mengambil unit : UKA, Boulevard, Persma, KPA, Aksara, Kokesma, U-Green, dll aku berharap bisa berkembang kendatinya hanya unit UKA dan Boulevard saja yang hingga hari ini eksis dan masih ada sreg di hati. Organisasi setingkat BEM di Univ lain yaitu KM-ITB sebagai salah satu staf biro Komunikasi dan Informasi di bagian media operasional. Tentu masa pencarian jati diriku mengarah juga ke tempat lain. Lalu mulai lah aku pergi mengembara dengan ikutan event-event kampus. ITB fair 2012, Pemira aku ikuti. Tetap saja ada kendala, ITB Fair yang merasa “janggal” dengan kepanitiaan ini lah dan Pemira yang terkendala beberapa kegiatanku yang lain. Sebenarnya hal yang paling aku tidak suka adalah Gabut alias gaji buta. Tapi aku sendiri tidak bisa berkehendak atas diriku yang kadang tidak bisa berkomitmen.  Bisa sebenarya tapi susah. 
Ah, maka dari itu aku berjanji aku hanya akan mengambil kegiatan dari jenisku. Memang tidak akan membuat keaktualan diri dan hanya akan membuat bakatmu itu-itu saja tapi aku berpikir inilah aku. Aku hidup dan menjadi besar pasti dari hasil kefokusanku mengasah apa yang aku inginkan dan apa tang menjadi dasar dalam aku. Aku tidak akan menjadi orang lain kan? aku hidupku dari diriku dan bukan dari orang lain.
Oleh karena itu aku hanya akan hidup dari kejurnalistikan, arsitektur, hidupku, seni, buku, tulis, foto, dan SEMANGAT.

Karena ini hidupku , jalanku.

Saturday, 18 February 2012

Aku dan Monyetku

Posted by Sosiana Dwi On 3:49 pm
Entah kenapa aku suka sekali dengan monyet. Tidak ada hubungannya mereka dengan teori sesat Darwin ataupun dengan kemiripan manusia. Tapi bagi my humble opinion monyet itu sangat lucu dan mirip bayi kecil. Tingkah mereka mirip sekali dengan manusia hanya saja mereka itu berambut di sekujur tubuh. Mungkin itu hal yang membuat aku suka dengan monyet terlepas dari olok-olok yang orang berikan kepadanya. Mereka masih lucu walau dikatakan jelek oleh manusia.

Sebenarnya aku ingin memelihara monyet di rumah tapi sayang di rumah ku tidak ada pohon besar yang bisa jadi tempat bergelayutan indah bagi sang monyet. Jadinya aku hanya bisa menatap senang boneka monyetku.

Awalnya bernama Isaac tapi lama-lama aku ganti dengan Om*n. Lalu karena suatu hal aku ganti dengan O*i. Hahaha
hanya sekedar intermezo

Kemarin (17/02/2011) ibuku yang baru dari Jakarta tiba-tiba nagsih boneka monyet putih ini. Awalnya heran juga, ngapain ibuku. Terus ibuku bilang kalau tadi iseng beli di Kereta. Entahlah tapi hal ini membuatku terharu sekali pada kasih sayang ibuku.
Makasih ibu :**

Kera putih, namanya Esay aja deh. :D


Ini pengalaman sederhana yang tidak penting yang ingin aku share. Semoga ada manfaatnya selain nyampah di dasbor :)


Friday, 17 February 2012

Jalan-jalan Media #2

Posted by Sosiana Dwi On 2:01 am
Udah engga sabar untuk membaca Jalan-Jalan Media yang kedua? Oke..
Saya akan lanjutkan hasil pengepoanku di KOMPAS!! Dengan sisa-sisa tenaga yang kami punya kami langkahkan juga kaki ke Kompas cetak yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kompas TV. Hanya saja panas ibukota membuat badan menjadi jetlag (kata yang over lebay). Ternyata kami sudah termasuk terlambat tidak sesuai perjanjian awal dimana pukul 13.00 seharusnya kami sudah ada di Kompas cetak namun karena satu dan lain hal kami harus menerlambatkan diri. Selama itu kami ditunggu oleh pihak Kompas yang mungkin punya beragam pekerjaan lain yang ada tenggat waktunya dibandingkan menunggu kami mahasiswa ngaretan. :l

KOMPAS cetak
Sesampainya di sana kami diantar ke ruang pertemuan yang nyaman. Merasa tersanjung juga diperlakukan sangat baik walaupun kami molor lama. Diawali dengan penyuguhan video sejarah dari Kompas.

Didirikan pada 28 Juni 1965 awalnya Kompas diberi nama Bentara Rakyat lalu atas usulan presiden Soekarno maka diganti menjadi Kompas yang berarti penunjuk jalan bagi orang dan menjadi amanat hati nurani rakyat. Awal berdirinya dipimpin oleh Pemimpin Umum P.K Ojong dan Pemimpin Redaksi Jakob Oetama. Hingga saat ini mash dipimpin oleh Jakob Oetama. Dahulu saat masih sederhana Kompas hanya berisi 40 halaman dengan oplah 4800 eksemplar. Saat ini Kompas adalah satu-satunya media cetak yang lolos di ABC (audit bureau of circulation) dan saat ini telah memiliki 214 wartawan. Untuk sejarah yang lebih lengkap bisa dilihat di sejarah KOMPAS.

Selanjutnya diisi dengan sesi tanya jawab yang lebih menitikberatkan bagaimana memunculkan kiprah media kampus di ITB sendiri dengan sifat anak ITB yang sudah sedemikian tidak mau tahu atau bisa dibilang agak malas membaca informasi dari surat kabar atau majalah. Agus Her salah satu pembicara yang sudah agak tua namun sangat mengerti kondisi mahasiswa zaman sekarang banyak meberi masukan tersendiri. Ketika diutarakan kendala-kendala yang terjadi di unit media Ganesha memang menurutnya sudah tidak sesuai lagi dengan minat pasar saat ini. Sebagai contoh konten majalah kampus ini terlalu berat dan "mikir" padahal mungkin pada masa sekarang mahasiswanya tidak seperti masa orde baru yang tidak semudah sekarang mendapat informasi. Banyak saran dan masukan untuk merevisi bentukan dari majalah kampus yang dari 12000 mahasiswa hanya berani membuat oplah 1000. Itu pun tidak selalu laku semua padahal masa pengerjaannya cukup lama yaitu 4 bulan sekali dan itu pun hanya menghasilkan 40 halaman.
"Saya yakin model majalah kalian seperti majalah departemen," tutur pak Agus Her agak menyindir.
Sejujurnya dalam hati aku ingin bilang "Eta pisan,"


Penambahan rubrik baru yang fresh untuk kalangan mahasiswa masa kini bisa menjadi jalan keluar. Mode, gaya hidup atau apa pun itu bentuknya. Dalam setiap penyajian tidak hanya berita penting yang ditampilkan namun jugan berita menarik. Kecenderungan manusia yang dibaca paling awal adalah rubrik yang menarik perhatiannya entah itu olahraga atau pun nama dan peristiwa. Untuk itulah harus ada yang berubah. Kompas sebagai media cetak terkemuka pun pernah mengalami perubahan yang melenceng dari sejarahnya sendiri. Kompas dengan muka berwarna dan isu-isu enetrtainment adalah salah satu gebrakan besar yang sempat memberikan kontra bagi pembacanya. Namun begitulah Kompas melalui perubahan selera pasar. Tentu gebrakan itu tidak secara asal-asalan dilakukan melainkan melalui pertimbangan panjang dan survei/angket. Ya, survei itu sangat penting fungsinya itu menilai selera orang dari masa ke masa.

Sekarang pilihannya adalah Anda mau bertahan atau mau berubah? Alternative berubah banyak yaitu pemberian quis dan bonus hadiah, ilustrasi yang lebih indah dengan layout yang bukan seperti majalah kaku, jangan terlalu lama keluarnya karena kontinyuitas juga sangat berpengaruh terhadap selera, sebenarnya masih banyak lagi yang lainnya tinggal dipilih mana yang terbaik dan sesuai kebutuhan.
"Pilihlah, mau menjadi Majalah departemen atau menjadi majalah semua elemen masyarakat?"tantang pak Agus Her.

Selanjutnya kami diajak berkeliling di redaksi dimana ruang itu dibuat luas dan tak bersekat agar arus informasi dapat tersampai tanpa penghalang. Menarik melihat proses pembuatan layout dengan aplikasi GN3 dimana hanya Kompas yang punya itu. Pembuatan berita dan pengumpulan berita dari koresponden Kompas di seluruh Indonesia dan melihat proses penambahan foto yang ternyata bukan murni dari kompas melainkan berlangganan dengan suatu badan. Sangat jarang mereka memuat foto dari amatir namun kalau pun iya satu foto dihargai Rp 1.500.000,00 dan itu sama dengan bisa membayar kosan beberapa bulan. Wew..

Aku sempat bertanya dengan salah satu pemilih foto hari itu, "Pak, di Kompas sendiri ada standarisasi sensor foto engga? Soalnya saya pernah liat ada foto yang terbuka auratnya,"
"Tentu adalah, sini saya cariin contoh," lalu pria yang duduk di belakang layar itu pun mencari foto yang ia maksud. Beberapa folder yang ia cari tidak ketemu lalu kami pergi meninggalkan dia untuk ke tempat lain. Ketika sedang mengobrol dengan bagian lain tiba-tiba mas-mas yang di belakang layar itu datang dan menyerahkan foto yang tadi ia maksud. Aku sangat kagum sekaligus terkejut dengan sikapnya. Yang membuat aku terkejut lagi adalah sikap Kompas terhadap aurat wanita. Jadi di foto aslinya yang ia berikan ada seorang negro sedang loncat ke atas dengan dada terlihat menonjol. Seperti yang saya pernah lihat di majalah lain biasanya foto itu disensor dengan di beri bayang-bayang buram yang bagi aku sendiri hal itu malah melecehkan wanita karena memperjelas bagian apa itu yang disensor. Sedangkan Kompas ia mengedit fotonya sehingga terlihat bajunya dinaikan dan menutupi bagian itu. Awesome.
"Kalau foto Pangeran Williams dan Kate Middleton ciuman itu pernah dijadikan cover Kompas kan, Pak? Emang itu tidak apa-apa?"
"Itu sempat menuai protes si tapi kita kan pertimbangannya itu adalah ciuman suami isteri jadi bukan hal yang tabu dan patut di sensor kalau menurut saya,"
Waah, aku puas akan jawabannya.

Dengan berakhirnya pertanyaannku tadi maka berakhirlah kisah Jalan-jalan Media ke Kompas TV tahun ini. Semoga tahun depan aku bisa ikut lagi dan memperoleh banyak ilmu yang sangat bermanfaat itu tadi.
:)


Jalan-jalan Media #1

Posted by Sosiana Dwi On 12:34 am
Hari yang cerah ini Kamis, 16 Februari 2012 pukul enam kurang aku berangkat dari asrama ke kampus. Ada apa gerangan sepagi itu aku berangkat? 
Tidak seperti biasa aku yang sering telat ngampus bisa datang lebih pagi dari biasanya. Bukan untuk kuliah Fisdas yang sangat membosankan di GKU Barat lantai 3 namun untuk pergi ke Jakarta. Jadi hari itu setelah penundaan beberapa kali kami dari Unit media dan Biro Komunikasi Informasi KM-ITB akhirnya bisa juga datang mengunjungi salah satu media besar dan berpengaruh di Indonesia yaitu Kompas TV dan Kompas cetak.

Kompas TV
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam dan personil yang ala kadarnya (karena terhalang hari kuliah) kami sampai juga di Gedung Kompas. Unit Boulevard, Persma, 8EH, Soul of Campus, Relasi Kominfo, admin twitter GaneshaLau datang dengan harapan besar (lebay). Namun sayang bus ITB tidak cukup muat diparkir di gerbang depan sehingga harus memutar jalan dan membutuhkan waktu lama yang membuat kami anak ITB menjadi ngaret. 

Sampai disana kami telah disambut oleh Nyoman Triyono yang berasal dari HRD manajer Kompas TV dan Alex Wibisono dari kepala peliputan yang masih muda. Dalam kata sambutan ia terlebih dahulu bertanya mengapa ITB memilih Kompas TV untuk dikunjungi, padahal TV itu baru berdiri sejak 9 September 2011 yang artinya masih terlalu muda.

Dalam pikiran saya juga mengandung pertanyaan yang sama, mengapa harus Kompas TV? Mengapa tidak Trans TV, RCTI atau mungkin Indosiar yang lebih banyak konten dari segi hiburan.
Sampai akhirnya manajer relasi Kominfo KM-ITB Davin Aristomo menjelaskan pemilihan Kompas TV bukan tanpa sebab. Meskipun TV yang masih seumur jagung namun ia mempunyai ciri yang berbeda dari stasiun TV yang ada saat ini. Dari segi pemberitaan Kompas TV tidak memihak manapun juga tidak seperti TV  One atau Metro TV dan mempunyai konten acara yang lebih mendidik bukan sinetron dan juga bukan pembodohan publik. Alasan lain adalah karena Kompas TV lebih mengangkat budaya dan kearifan lokal di Indonesia yang tidak ditemukan pada stasiun TV swata komersil lain.

Karena berawal dari sebuah nama besar media cetak  Kompas, brand dari penyeber berita masih kuat dan memang itulah mereka. Dengan sebuah tagline Inspirasi Indonesia kru Kompas TV yang kebanyakan adalah pemuda-pemudi mencoba mengangkat semua Inspirasi yang bisa ditawarkan kepada khalayak. Agar kita tidak hanya dibuat pundung pada negeri sendiri dengan segala pemberitaan jelek tapi agar kita menjadi termotivasi pada apa yang bangsa telah lakukan. (prok prok)

Kompas TV  berbeda dalam banyak hal antara lain pemilihan host yang credible bukan host yang hanya menang komersil seperti Olga maupun Ruben Onsu, pelaksanaannya acara yang tidak membohongi seperti penggunaan suara lipsync maupun acara reality show yang di-skenarioi (memangnya Variety Show)? dan adanya TV berjaringan. 

Apa itu TV berjaringan? 
untuk mengkolaborasikan kearifan masyarakat daerah dan mencakup semua siaran lokal maka Kompas TV menggunakan sistem TV berjaringan. Jadi sistem ini semacam penyiaran daerah yang menginduk kepada Kompas TV seperti pada STV Bandung, Dewata TV, Borobudur TV dan lain-lain. Dalam tayangan TV lokal kadangkala ada berita nasional yang didapat dari Kompas TV, cirinya adalah munculnya kedua logo Televisi secara bersamaan dan itulah yang dinamakan TV berjaringan. Sedangkan untuk daerah lain yang tidak ada TV daerah yang menginduk pada Kompas TV maka hanya bisa menyaksikan Kompas TV di TV berlangganan berbayar. Dengan 70% siaran nasional, dan sisanya adalah siaran lokal selama 20 jam Kompas TV telah membuat beberapa pencapaian oleh televisi baru. Seperti halnya pernah menduduki rating tertinggi pada siaran beritanya dan sebuah pencapaian tertinggi pada bidang jurnalistik Indonesia yaitu peraihan Anugerah Adinegoro yang didapat dari sebuah acara bertajuk "Benang Merah". Program acara yang ditawarkan juga bervariasi antara lain entertain, knowledge, science, hingga edukasi. Sebagai "anak" dari Kompas koran mereka tetap eksis sebagai televisi berita.

Semakin semangat saja kami mendengar ulasan tentang sebuah koran yang berekspansi menjadi sebuah televisi. Memang pada awalnya semua orang harus mengalami perubahan agar makin tercapai tujuan tertentu. Target pemirsa Kompas TV adalah kelas menengah dimana pada setiap acara di seleksi agar kontennya tidak memuat hal yang buruk-buruk tentang negeri. Dengan semangat Objektif, Indepedent, Credible, dan netralitas Kompas TV siap menumbuhkan harapan Indonesia. 

Setelah muter-muter ke dalam studio berita, foto-foto dengan kekatroan kami, ke bagian produksi, dubbing dan diajari beberapa tools yang entah apa itu (karena kami ngga ada yang tau) sampai juga kami diberi tahu tentang tips meningkatkan brand awareness.  Antara lain adalah paham dan mengerti apa posisi kita di masyarakat, kampus dan mungkin bangsa dan negara dan tonjolkan point apa yang bisa ditonjolkan sebagai follow up dari itu semua.

Warna-warni Indonesia sebagai salah satu unsur dalam pemakaian lambang Kompas TV ini. 


......to be continued in part 2 of Jalan-jalan Media

Friday, 10 February 2012

Februari Gerimis #1

Posted by Sosiana Dwi On 11:13 am
#1
Terbang lah burungku meninggalkan kerangka-kerangka cahaya yang mengurung kepakan sayapmu.
Buanglah setiap sendumu di titik cahaya yang menyapu rindu.

#2
Jejak keputusasaan datang namun tetap langkah ada di tangan kita

#3
Ornamen dinding dan lampu salman yang kadang terlupa.

#4 
Lantai dua masjid Salman, 

#5
Bukan dibalik Bingkai

#6 
Saat melihat hujan kita bisa melihat keindahan

#7 

#8 

#9
Burung-Burung Kertas

  • Contact us

    Sosiana Dwi Architecture 2011 Bandung Institute of Technology